IDScan Digugat Terkait Dugaan Kebocoran Data yang Berdampak pada 153 Juta Pengemudi

Perusahaan teknologi verifikasi identitas IDScan menghadapi sejumlah gugatan hukum setelah hacker diduga membobol layanan perusahaan dan menawarkan penjualan database berisi lebih dari 153 juta hasil pemindaian SIM pengemudi.
Beberapa firma hukum di Amerika Serikat juga mulai menyelidiki kemungkinan mengajukan class-action lawsuit terkait dugaan insiden keamanan tersebut. Skala data yang diduga terekspos membuat kasus ini berpotensi menjadi salah satu kebocoran data identitas terbesar yang dilaporkan pada 2026.
Database Berisi Jutaan Dokumen Identitas Diduga Dicuri
Kasus ini pertama kali mendapat perhatian setelah layanan pencurian identitas di dark web bernama Nexus mengiklankan akses terhadap database yang diklaim berisi:
- Lebih dari 153 juta scan SIM dari Amerika Serikat dan Kanada
- Sekitar 10 juta kartu identitas
- Sekitar 3 juta dokumen perjalanan
- Sekitar 579.000 kartu medis
Laporan awal mengenai database tersebut diterbitkan pada 1 September 2026. Sampel data kemudian diperiksa dengan mencocokkannya terhadap catatan milik sejumlah individu yang telah memberikan izin untuk dilakukan verifikasi.
Hasil pemeriksaan tersebut mengarah pada IDScan sebagai sumber data yang diduga bocor.
Namun, hingga saat ini belum diketahui secara pasti apakah sistem IDScan benar-benar berhasil ditembus hacker atau bagaimana database tersebut dapat diperoleh.
IDScan Digunakan untuk Memverifikasi Identitas
IDScan merupakan perusahaan yang menyediakan perangkat keras dan software untuk membantu bisnis memindai, mengautentikasi, serta mengekstrak informasi dari dokumen identitas resmi yang diterbitkan pemerintah.
Teknologi perusahaan digunakan oleh berbagai jenis bisnis di Amerika Serikat, termasuk perusahaan rental mobil, retailer, lembaga keuangan, toko senjata, dispensary cannabis, serta sektor hospitality.
Artinya, seseorang tidak harus menjadi pelanggan IDScan secara langsung untuk berpotensi terdampak. Data identitas mereka dapat masuk ke sistem ketika dokumen identitas dipindai oleh perusahaan yang menggunakan teknologi IDScan.
Hal inilah yang membuat dugaan kebocoran tersebut memiliki cakupan potensial yang sangat luas.
Gugatan Diajukan di Louisiana
Sejumlah gugatan telah diajukan di Louisiana, tempat IDScan berbasis.
Dalam gugatan tersebut, perusahaan dituduh gagal melindungi informasi pribadi yang diberikan oleh pelanggan bisnisnya. Salah satu perusahaan yang disebut dalam konteks tersebut adalah perusahaan rental mobil global Hertz.
Firma hukum Markovits, Stock & DeMarco mengatakan IDScan mulai memberi tahu sebagian pelanggan bisnis mengenai insiden tersebut sekitar 1 September.
Firma tersebut juga sedang mencari individu yang kemungkinan terdampak untuk menjadi calon penggugat dalam class-action lawsuit.
Sementara itu, Hall Attorneys dan sejumlah firma hukum lainnya juga telah membuka penyelidikan terhadap dugaan insiden keamanan tersebut.
FBI Menginvestigasi Dugaan Insiden
Kasus ini kini juga berada dalam perhatian aparat penegak hukum Amerika Serikat.
Kantor FBI New Orleans telah membuka penyelidikan terhadap laporan mengenai database SIM dan dokumen identitas yang diduga terekspos.
FBI juga mengonfirmasi kepada media bahwa mereka sedang menyelidiki insiden tersebut. Namun, karena investigasi masih berlangsung, lembaga tersebut tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai ruang lingkup penyelidikan.
Layanan ilegal Nexus yang sebelumnya menawarkan database tersebut kini sudah tidak tersedia secara online. Meski demikian, laporan menyebutkan bahwa pelaku kejahatan siber masih memiliki akses terhadap database yang diduga dicuri.
Laporan mengenai keberadaan dokumen milik sejumlah tokoh penting, termasuk Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan seorang assistant director FBI, juga muncul. Namun, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Skala Kebocoran Masih Belum Dikonfirmasi
Meskipun angka 153 juta SIM menjadi perhatian utama, jumlah individu yang benar-benar terdampak masih belum diketahui.
IDScan sendiri belum menerbitkan pernyataan publik mengenai tuduhan tersebut dan tidak memberikan tanggapan ketika dimintai komentar.
Begitu pula, belum ada konfirmasi bahwa seluruh dokumen yang ditawarkan Nexus berasal dari satu insiden keamanan atau bahwa seluruh 153 juta catatan tersebut benar-benar dapat diakses oleh pihak tidak berwenang.
Karena itu, angka tersebut untuk saat ini harus dipandang sebagai jumlah database yang diklaim oleh pelaku, bukan jumlah korban yang telah dikonfirmasi.
Namun, apabila klaim tersebut terbukti benar, data seperti hasil pemindaian SIM dan dokumen identitas dapat menjadi target bernilai tinggi bagi pelaku pencurian identitas.
Gugatan Tambahan Bisa Bermunculan
Dengan potensi skala insiden yang sangat besar, jumlah gugatan terhadap IDScan kemungkinan masih dapat bertambah.
Kasus-kasus tersebut juga berpotensi digabungkan ke dalam proses multidistrict litigation (MDL) apabila terdapat banyak gugatan dengan fakta dan isu hukum yang serupa.
Selain gugatan perdata, regulator federal maupun state attorneys general juga dapat membuka penyelidikan masing-masing untuk menentukan apakah terdapat pelanggaran terhadap kewajiban perlindungan data.
Kasus serupa pernah memicu tindakan regulator dan gugatan berskala besar dalam sejumlah insiden kebocoran data, termasuk yang melibatkan 23andMe, Marriott, dan Equifax.
Untuk saat ini, penyelidikan FBI dan proses hukum terhadap IDScan masih berlangsung. Belum ada konfirmasi independen mengenai jumlah korban sebenarnya, metode kompromi, maupun bagaimana database tersebut dapat diperoleh oleh operator Nexus.
Sumber: IDScan








