Berlin Konfirmasi Pencurian Data Setelah Diklaim Jadi Korban Ransomware Rhysida

Pemerintah Kota Berlin mengonfirmasi bahwa data milik administrasi kota telah dicuri dalam sebuah insiden siber yang dikaitkan dengan Rhysida ransomware.
Konfirmasi tersebut muncul setelah kelompok ransomware tersebut mencantumkan Berlin di situs kebocoran data mereka dan mengklaim telah berhasil mengambil sejumlah besar data dari jaringan administrasi pemerintahan.
Serangan pertama kali diketahui pada pertengahan Agustus 2026, sementara Rhysida secara terbuka mengumumkan klaim serangan tersebut pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Wali Kota Berlin, Kai Wegner, menyatakan bahwa pemerintah kota tidak akan membayar tuntutan tebusan. Insiden tersebut kini sedang diselidiki oleh State Criminal Police Office, kantor kejaksaan, serta sejumlah lembaga keamanan federal Jerman.
Rhysida Klaim Curi 5,79 TB Data
Menurut klaim pelaku, sekitar 5,79 TB data berhasil dieksfiltrasi dari jaringan administrasi Berlin. Data tersebut disebut mencakup sekitar 1,44 juta file.
Informasi yang diklaim berhasil dicuri sangat beragam, mulai dari dokumen pemerintahan dan hukum hingga data keuangan, sumber daya manusia, infrastruktur, kesehatan, serta informasi pemetaan.
Pelaku juga mengklaim memperoleh ribuan nama, alamat email, nomor telepon, serta 148 IBAN yang berkaitan dengan rekening bank.
Tidak berhenti pada dokumen administratif, Rhysida juga mengklaim memperoleh informasi autentikasi dalam bentuk plaintext credentials, akun database, data sistem pembayaran, password vault, serta kredensial milik pejabat senior.
Data lainnya disebut mencakup file kepegawaian, informasi payroll, catatan pelanggaran administratif, arsip email, SQL database dumps, dokumen identitas, dan informasi perbankan.
Data Sensitif Pemerintah Turut Diklaim Dicuri
Klaim Rhysida juga mencakup dokumen yang berkaitan dengan proses disipliner dan sejumlah kasus yang melibatkan individu tertentu.
Kelompok tersebut bahkan menyatakan telah mendapatkan materi pemerintahan yang dikategorikan rahasia atau sensitif, termasuk dokumen komite Bundesrat dan informasi mengenai prosedur penanganan dokumen rahasia.
Salah satu kategori yang sangat mengkhawatirkan adalah dokumen terkait keamanan infrastruktur kritis Berlin. Pelaku mengklaim memperoleh hasil penilaian keamanan yang berkaitan dengan sistem pasokan air kota.
Selain itu, lebih dari 3.200 dokumen yang ditandai sebagai nondisclosure agreement (NDA) juga disebut berada di antara data yang dicuri.
Namun, pemerintah Berlin menegaskan bahwa investigasi masih berlangsung sehingga cakupan sebenarnya dari pencurian data belum dapat dipastikan. Klaim yang dipublikasikan oleh kelompok ransomware juga belum secara independen membuktikan bahwa seluruh data yang disebut benar-benar berhasil mereka ambil.
Rhysida Menggunakan Ancaman GDPR sebagai Tekanan
Seperti pola yang umum digunakan kelompok ransomware dalam serangan double extortion, Rhysida tidak hanya mengancam korban dengan konsekuensi dari serangan siber, tetapi juga menggunakan pencurian data sebagai alat pemerasan.
Dalam kasus Berlin, pelaku menggunakan potensi pelanggaran GDPR untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah kota.
Kelompok tersebut memberikan batas waktu kepada Berlin untuk membayar sebelum data yang diklaim telah dicuri dipublikasikan.
Pada saat klaim tersebut diterbitkan, Berlin hanya diberikan waktu sekitar empat hari untuk memenuhi tuntutan sebelum ancaman publikasi dijalankan.
Pemerintah Berlin memilih untuk tidak membayar tuntutan tersebut dan menyerahkan penyelidikan kepada aparat penegak hukum serta lembaga keamanan terkait.
Departemen Transportasi Juga Terdampak
Investigasi forensik menunjukkan bahwa pelaku juga berhasil mengambil data dari Senate Department for Mobility, Transport, Climate Protection and the Environment.
Data dari departemen tersebut diperkirakan dieksfiltrasi antara 7 hingga 12 Agustus 2026.
Sebagai langkah mitigasi, sejumlah departemen yang terdampak diputus dari jaringan negara pada 14 Agustus untuk membatasi kemungkinan penyebaran serangan dan mencegah akses lanjutan terhadap sistem internal.
Hingga kini, metode yang digunakan Rhysida untuk mendapatkan akses awal ke jaringan administrasi Berlin belum diungkapkan.
Data Pemilu Berlin Disebut Aman
Di tengah kekhawatiran mengenai skala insiden, Senator Iris Spranger menyatakan bahwa sejauh penyelidikan berjalan, tidak ditemukan bukti bahwa data pemilu telah ikut dikompromikan.
Lingkungan teknis yang digunakan untuk mendukung pemilihan House of Representatives Berlin mendatang juga dinilai aman.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena insiden terjadi menjelang pelaksanaan pemilu di Berlin. Meski demikian, investigasi terhadap keseluruhan insiden dan potensi data yang terdampak masih berlangsung.
Rhysida Sudah Aktif Menyerang Berbagai Sektor
Rhysida merupakan kelompok ransomware yang telah aktif sejak pertengahan 2023 dan sebelumnya menargetkan berbagai sektor bernilai tinggi.
Kelompok ini diketahui menyerang organisasi layanan kesehatan, pemerintahan daerah, institusi pendidikan, hingga infrastruktur kritis.
Dalam salah satu kampanye sebelumnya yang berhasil diganggu oleh Microsoft, operator Rhysida menggunakan installer Microsoft Teams berbahaya sebagai salah satu cara untuk mendapatkan akses ke sistem target.
Belum diketahui apakah metode serupa digunakan dalam serangan terhadap Berlin.
Kasus ini kembali menunjukkan risiko yang dihadapi organisasi pemerintahan ketika jaringan internal berhasil ditembus dan data dalam jumlah besar dieksfiltrasi. Bahkan tanpa membayar tebusan, korban tetap harus menghadapi konsekuensi dari kemungkinan penyalahgunaan data serta ancaman publikasi informasi sensitif.
Sumber: Berlin City Administration








