LexisNexis Matikan Sejumlah Layanan Setelah Temukan Aktivitas Mencurigakan di Server

LexisNexis menonaktifkan sejumlah layanan digitalnya setelah menemukan aktivitas mencurigakan pada server yang di-hosting dan dikelola oleh penyedia pihak ketiga.
Layanan yang terdampak meliputi Nexis Diligence, Nexis Metabase API, dan Nexis Newsdesk. Perusahaan mengambil langkah tersebut sebagai bagian dari upaya membatasi dampak insiden sekaligus mencegah aktivitas mencurigakan berlanjut.
LexisNexis mengatakan penyelidikan masih berlangsung dan melibatkan perusahaan forensik keamanan siber eksternal. Sistem yang terdampak juga sedang dibangun kembali di lingkungan baru sebelum layanan dipulihkan.
Sistem Langsung Diputus dari Infrastruktur Pihak Ketiga
Dalam pemberitahuan kepada pelanggan, LexisNexis menjelaskan bahwa aktivitas tidak biasa ditemukan pada server yang di-hosting dan dikelola oleh vendor pihak ketiga.
Setelah mengetahui adanya aktivitas tersebut, perusahaan memutuskan untuk segera memisahkan sistemnya dari infrastruktur pihak ketiga yang terdampak.
Langkah ini dilakukan untuk melindungi pelanggan sekaligus menghentikan potensi akses lebih lanjut dari sumber insiden.
Todd Larsen, Presiden divisi Global Nexis Solutions di LexisNexis, mengonfirmasi bahwa penonaktifan layanan dilakukan sebagai respons terhadap aktivitas mencurigakan yang ditemukan pada server milik vendor.
Perusahaan kini bekerja sama dengan firma forensik keamanan siber untuk melakukan investigasi sekaligus proses pemulihan sistem.
Tiga Layanan Nexis Terdampak
Layanan yang ikut dinonaktifkan memiliki fungsi berbeda dalam ekosistem LexisNexis.
Nexis Diligence merupakan platform untuk melakukan due diligence dan penelitian risiko yang banyak digunakan oleh profesional compliance.
Sementara itu, Nexis Metabase API menyediakan feed data berita dan media yang dapat diintegrasikan ke dalam sistem perusahaan.
Adapun Nexis Newsdesk merupakan layanan pemantauan dan analisis media yang banyak digunakan oleh tim komunikasi, public relations, dan pemasaran.
LexisNexis sendiri merupakan perusahaan analitik data global yang menyediakan informasi hukum, bisnis, regulasi, catatan publik, serta layanan manajemen risiko untuk berbagai organisasi, termasuk perusahaan, firma hukum, institusi keuangan, lembaga pemerintah, konsultan, dan peneliti.
Tidak Berkaitan dengan Serangan Metabase Cloud
Insiden ini terjadi pada waktu yang berdekatan dengan serangan terhadap layanan Metabase Cloud, yang sebelumnya menjadi sasaran pencurian data melalui kerentanan SQL Injection zero-day dengan tingkat keparahan kritis.
Namun, LexisNexis menegaskan bahwa insiden tersebut tidak memiliki hubungan dengan layanan yang mereka gunakan.
Perusahaan menjelaskan bahwa Nexis Solutions bukan pelanggan Metabase Cloud, sementara produk Nexis Metabase API tidak terhubung dengan layanan Metabase Cloud maupun kerentanan yang dilaporkan dalam serangan tersebut.
Dengan demikian, penonaktifan Nexis Metabase API dilakukan karena aktivitas mencurigakan pada infrastruktur vendor pihak ketiga yang digunakan LexisNexis, bukan karena eksploitasi terhadap Metabase Cloud.
Bukan Insiden Keamanan Pertama LexisNexis
LexisNexis sebelumnya juga pernah menghadapi sejumlah insiden keamanan.
Pada Mei 2025, perusahaan mengungkap insiden keamanan yang menyebabkan data pribadi sekitar 364.000 individu dicuri setelah pelaku memperoleh akses tanpa izin ke private repository milik perusahaan di GitHub.
Kemudian pada Maret 2026, LexisNexis kembali menjadi target serangan setelah pelaku mengeksploitasi kerentanan React2Shell pada infrastruktur AWS perusahaan.
Dalam insiden tersebut, pelaku mencuri sejumlah file pribadi dan kemudian membocorkannya.
LexisNexis pada saat itu mengonfirmasi bahwa penyerang berhasil memperoleh akses tidak sah ke sejumlah server. Perusahaan menyebut server tersebut sebagian besar berisi data lama (legacy data).
Sistem Sedang Dibangun Ulang
Untuk insiden terbaru, LexisNexis belum mengungkapkan secara rinci apakah data pelanggan telah dicuri atau seberapa luas akses yang diperoleh pelaku.
Perusahaan memilih terlebih dahulu mengisolasi sistem yang terdampak dan membangun kembali lingkungan layanan di infrastruktur baru.
Pendekatan tersebut memungkinkan LexisNexis melakukan proses investigasi dan remediation secara lebih terkontrol sebelum layanan dikembalikan ke pelanggan.
Sampai investigasi selesai, perusahaan masih menilai cakupan insiden dan dampaknya terhadap sistem serta data yang berada di lingkungan vendor pihak ketiga.
Sumber: LexisNexis








