Kebocoran Data RingCentral Ungkap Informasi 1,6 Juta Akun

Sebanyak 1,6 juta akun RingCentral terdampak kebocoran data setelah perusahaan menjadi korban serangan siber pada Juli 2026. Informasi yang terekspos mencakup data pribadi pelanggan, termasuk nama, alamat email, nomor telepon, dan alamat fisik.
Kebocoran tersebut dikaitkan dengan kelompok pemerasan siber ShinyHunters, yang mengklaim telah mencuri ratusan gigabyte data dari sistem RingCentral dan kemudian membocorkannya setelah perusahaan menolak memenuhi tuntutan tebusan.
RingCentral merupakan platform komunikasi dan kolaborasi berbasis cloud yang digunakan oleh lebih dari 600.000 perusahaan untuk layanan seperti panggilan suara, pesan, dan voicemail.
RingCentral diretas melalui serangan social engineering
RingCentral pertama kali mengungkap insiden tersebut pada 28 Juli 2026. Perusahaan mengatakan serangan terjadi setelah mereka menjadi sasaran sophisticated social engineering campaign.
RingCentral menyatakan telah mengambil sejumlah langkah remediasi dan tidak menemukan aktivitas akses tidak sah baru setelah tindakan tersebut dilakukan.
Perusahaan juga menegaskan bahwa insiden tersebut hanya berdampak pada sebagian pelanggan dan tidak mengganggu platform utama maupun operasional layanannya.
Pelanggan yang terdampak akan diberi tahu secara langsung oleh RingCentral. Perusahaan juga menyatakan bahwa pengguna yang tidak menerima pemberitahuan tidak termasuk dalam kelompok yang terdampak.
ShinyHunters mengklaim mencuri 623 GB data
Kelompok ShinyHunters mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut pada 27 Juli, sehari sebelum RingCentral mengumumkan insiden secara resmi.
Kelompok tersebut mengaku berhasil mencuri sekitar 623 GB data dari RingCentral.
RingCentral sendiri belum secara resmi mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok tertentu maupun menjelaskan secara rinci bagaimana penyerang memperoleh akses ke sistem perusahaan.
Setelah RingCentral menolak membayar tebusan dengan imbalan penghapusan data yang dicuri, ShinyHunters kemudian mempublikasikan sebagian data tersebut melalui situs kebocoran mereka.
Arsip yang dibocorkan memiliki ukuran sekitar 280 GB dalam bentuk terkompresi.
1,6 juta akun ditemukan dalam data yang bocor
Layanan pemantauan kebocoran data Have I Been Pwned kemudian menganalisis kumpulan data yang dipublikasikan tersebut.
Hasil analisis menemukan informasi yang berkaitan dengan sekitar 1,6 juta akun RingCentral. Data yang ditemukan mencakup beberapa jenis informasi pribadi, antara lain:
- Nama
- Alamat email
- Nomor telepon
- Alamat fisik
Temuan tersebut memperkuat klaim bahwa serangan memang mengakibatkan pencurian data pelanggan dalam jumlah besar.
Meski demikian, sejauh informasi yang tersedia, insiden tersebut tidak menunjukkan bahwa infrastruktur inti RingCentral atau layanan komunikasinya berhasil dikuasai secara permanen oleh penyerang.
ShinyHunters terus menargetkan perusahaan besar
Insiden RingCentral terjadi ketika ShinyHunters semakin aktif menjalankan kampanye pencurian data dan pemerasan terhadap perusahaan yang menggunakan layanan cloud serta platform SaaS.
Dalam berbagai kasus sebelumnya, kelompok tersebut mengklaim berhasil mengakses data milik ratusan pelanggan Salesforce. Mereka juga pernah dikaitkan dengan serangkaian insiden yang melibatkan pelanggan Snowflake dan penyedia layanan integrasi pihak ketiga.
Kelompok ini biasanya menggunakan pola “pay or leak”, yaitu memberikan pilihan kepada korban untuk membayar sejumlah uang agar data yang dicuri tidak dipublikasikan. Jika korban menolak, data kemudian dibocorkan atau sebagian informasi dipublikasikan sebagai tekanan tambahan.
Dalam kasus RingCentral, strategi tersebut juga digunakan setelah perusahaan menolak memenuhi tuntutan kelompok tersebut.
Data pelanggan berpotensi digunakan untuk phishing
Kebocoran nama, alamat email, nomor telepon, dan alamat fisik dapat meningkatkan risiko serangan lanjutan terhadap pelanggan yang terdampak.
Informasi tersebut dapat digunakan untuk membuat pesan phishing yang lebih meyakinkan karena penyerang memiliki data yang dapat digunakan untuk mempersonalisasi komunikasi.
Pelaku juga dapat menggabungkan informasi yang bocor dengan data dari kebocoran sebelumnya untuk melakukan rekayasa sosial, menyamar sebagai RingCentral, penyedia layanan lain, atau pihak yang dipercaya korban.
Karena itu, pelanggan yang menerima pemberitahuan resmi terkait insiden sebaiknya meningkatkan kewaspadaan terhadap email, panggilan telepon, maupun pesan yang meminta informasi akun, kredensial, atau tindakan keamanan tertentu.








