Security

Pendiri Ransom Cartel Dijatuhi Hukuman 16 Tahun Penjara di Amerika Serikat

Pendiri sekaligus administrator operasi ransomware Ransom Cartel, Maksim Silnikau, dijatuhi hukuman 16 tahun penjara oleh pengadilan Amerika Serikat atas perannya dalam serangkaian serangan ransomware yang menargetkan sedikitnya 18 perusahaan di berbagai negara.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (U.S. Department of Justice/DoJ) mengumumkan bahwa warga negara Belarus berusia 40 tahun tersebut dinyatakan bersalah atas sejumlah dakwaan, termasuk konspirasi melakukan kejahatan terhadap Amerika Serikat, konspirasi penipuan melalui jaringan komunikasi (wire fraud), serta pencurian identitas yang diperberat (aggravated identity theft).

Aktif di Forum Kejahatan Siber Sejak 2005

Menurut DoJ, Silnikau telah aktif di berbagai forum kejahatan siber berbahasa Rusia sejak 2005.

Selama beroperasi, ia menggunakan beberapa nama samaran, antara lain:

  • J.P. Morgan
  • xxx
  • lansky

Silnikau juga diketahui pernah menjadi anggota situs kejahatan siber Direct Connection antara tahun 2011 hingga 2016, sebelum situs tersebut ditutup menyusul penangkapan administratornya.

Membangun Operasi Ransom Cartel

Dokumen pengadilan mengungkapkan bahwa Silnikau mulai mengembangkan Ransom Cartel pada Mei 2021.

Ia merekrut anggota baru melalui forum bawah tanah (underground forums) dan menyediakan berbagai alat yang dibutuhkan untuk melancarkan serangan, termasuk:

  • Kredensial hasil pencurian.
  • Perangkat lunak enkripsi ransomware.
  • Informasi mengenai target yang telah berhasil dikompromikan.

Selain itu, Silnikau mengelola situs afiliasi yang memungkinkan para anggota:

  • Mengatur operasi serangan.
  • Berkomunikasi antaranggota.
  • Melakukan negosiasi uang tebusan.
  • Membagikan hasil pembayaran ransomware.

Menyerang Sedikitnya 18 Perusahaan

Selama periode 2021 hingga 2023, afiliasi Ransom Cartel diketahui menyerang sedikitnya 18 perusahaan di berbagai wilayah, termasuk organisasi di negara bagian California, New York, Nebraska, serta sejumlah negara lainnya.

Dalam setiap serangan, pelaku tidak hanya mengenkripsi sistem korban tetapi juga mencuri data perusahaan sebelum meminta pembayaran sebagai imbalan untuk memperoleh kunci dekripsi maupun janji bahwa data tersebut tidak akan dipublikasikan.

Jaksa federal menyebut kelompok tersebut berusaha memeras korban dengan total tuntutan sedikitnya US$5,2 juta.

Sementara itu, kerugian yang berhasil diidentifikasi dari 18 korban mencapai lebih dari US$6,7 juta, meskipun angka sebenarnya diyakini jauh lebih besar karena tidak semua korban melaporkan insiden yang mereka alami.

Menargetkan Perusahaan Teknologi Medis dan Firma Hukum

Salah satu serangan yang terjadi pada Agustus 2022 menyebabkan operasional sebuah startup teknologi medis yang mengembangkan robot bedah terganggu selama sekitar dua bulan.

Kemudian pada Mei 2023, Ransom Cartel juga menyerang infrastruktur milik sekelompok firma hukum sehingga aktivitas bisnis mereka terganggu mulai dari beberapa hari hingga berbulan-bulan.

Dalam salah satu kasus, sebuah firma hukum membayar uang tebusan sebesar US$125.000 setelah operasionalnya lumpuh hampir satu bulan.

Firma hukum lainnya menghentikan kegiatan operasional selama hampir satu bulan sebelum akhirnya membayar tebusan sebesar US$300.000.

Total kerugian dari kedua insiden tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$2,2 juta.

Diduga Berhubungan dengan REvil

Ransom Cartel pertama kali muncul secara publik pada Desember 2021.

Peneliti keamanan menemukan bahwa ransomware ini memiliki sejumlah kemiripan kode dengan REvil.

Namun, karena tidak memiliki beberapa teknik obfuscation yang digunakan REvil, para peneliti menduga ransomware tersebut dikembangkan oleh mantan anggota inti REvil yang tidak memiliki akses ke seluruh kode sumber asli.

Menggunakan Cryptocurrency Mixer

Dalam operasi ransomware-as-a-service (RaaS) tersebut, Silnikau memegang peran penting mulai dari merekrut afiliasi, bekerja sama dengan Initial Access Broker (IAB) untuk memperoleh akses ke jaringan perusahaan korban, bernegosiasi dengan korban, hingga mengelola pembayaran uang tebusan.

Untuk menyamarkan aliran dana, pembayaran ransomware diproses melalui layanan cryptocurrency mixer, sehingga lebih sulit dilacak oleh aparat penegak hukum.

Ditangkap Setelah Sempat Melarikan Diri

Silnikau pertama kali ditangkap di Spanyol pada 18 Juli 2023 dalam operasi gabungan penegak hukum internasional.

Namun, saat menunggu proses ekstradisi ke Amerika Serikat, ia berhasil melarikan diri.

Beberapa waktu kemudian, Silnikau kembali ditangkap ketika berusaha menyeberang dari Polandia menuju negara asalnya, Belarus.

Setelah akhirnya menyetujui proses ekstradisi, ia dikirim ke Amerika Serikat untuk menjalani proses hukum di Pengadilan Distrik Virginia Timur.

Sumber: U.S. Department of Justice

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button