Celah Kritis Check Point Memungkinkan Hacker Menjalankan Kode sebagai Root

Check Point Software merilis pembaruan keamanan untuk mengatasi kerentanan kritis yang dapat memungkinkan penyerang menjalankan kode dengan hak akses root pada sistem manajemen yang digunakan untuk mengelola firewall dan memantau keamanan jaringan.
Kerentanan tersebut dilacak sebagai CVE-2026-91843 dan disebabkan oleh kelemahan stack-based buffer overflow pada proses login Security Management Server.
Security Management Server digunakan untuk mengelola Security Gateway, termasuk firewall Check Point, serta memantau berbagai aktivitas dan event keamanan jaringan.
Kerentanan yang sama juga berdampak pada Log Server, yaitu server khusus yang digunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan log yang dihasilkan oleh firewall Check Point.
Eksploitasi Tidak Membutuhkan Autentikasi
CVE-2026-91843 memiliki dampak serius karena dapat dieksploitasi oleh penyerang yang tidak memiliki hak akses ke sistem.
Eksploitasi dapat dilakukan secara remote dengan kompleksitas rendah dan tidak membutuhkan interaksi dari pengguna.
Jika serangan berhasil, penyerang dapat memperoleh kemampuan remote code execution (RCE) dengan hak akses root pada sistem yang rentan.
Karena root merupakan tingkat hak akses tertinggi pada sistem Linux, keberhasilan eksploitasi dapat memberikan kendali luas terhadap sistem manajemen keamanan yang terdampak.
Check Point menegaskan bahwa seluruh deployment Security Management Server rentan terhadap masalah ini, terlepas dari konfigurasi yang digunakan.
“All Security Management Server deployments are vulnerable, regardless of configuration.”
Perusahaan juga menyatakan bahwa kerentanan tersebut tidak bergantung pada konfigurasi manajemen tertentu. Bahkan sistem yang tidak menggunakan atau tidak mengonfigurasi VPN tetap dapat terdampak.
Berasal dari Proses Login
CVE-2026-91843 berakar pada proses login Security Management Server.
Kelemahan stack-based buffer overflow dapat terjadi ketika sistem memproses input yang terlalu panjang. Dalam konteks kerentanan ini, kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memicu eksekusi kode pada sistem target.
Karena proses yang terdampak merupakan bagian dari sistem manajemen keamanan, eksploitasi tidak hanya berpotensi mengganggu layanan login, tetapi juga dapat memberikan akses tingkat tinggi terhadap server yang menjalankan komponen tersebut.
Check Point telah menyediakan security update untuk mengatasi masalah tersebut.
Belum Ada Bukti Eksploitasi Aktif
Hingga pengungkapan kerentanan ini, Check Point mengatakan CVE-2026-91843 belum ditandai sebagai actively exploited.
Namun, perusahaan menyediakan indikator yang dapat digunakan tim keamanan untuk mencari kemungkinan percobaan eksploitasi.
Administrator dapat memeriksa Audit dan Admin login logs untuk mencari alert berikut:
Administrator failed to log in: Username too long
Pesan tersebut dapat menjadi indikator bahwa sistem menerima input username yang terlalu panjang dan berpotensi terkait dengan percobaan eksploitasi CVE-2026-91843.
Check Point Menyediakan Mitigasi Sementara
Bagi pelanggan yang belum dapat memasang LivePatch terbaru, Check Point menyediakan beberapa langkah mitigasi sementara.
Salah satunya adalah melakukan hardening terhadap sistem yang rentan.
Administrator juga disarankan membatasi akses ke sistem manajemen hanya dari alamat IP atau subnet yang dipercaya.
Pengaturan tersebut dapat dilakukan melalui SmartConsole pada:
Manage & Settings > Permissions & Administrators > Trusted Clients
Dengan membatasi sumber koneksi yang dapat mengakses sistem manajemen, organisasi dapat mengurangi permukaan serangan hingga patch dapat diterapkan.
Namun, mitigasi tersebut sebaiknya dipandang sebagai langkah sementara. Pemasangan security update tetap diperlukan untuk menghilangkan kerentanan dari sistem.
Dua Kerentanan Kritis Lain Baru Ditambal
Pengungkapan CVE-2026-91843 terjadi hanya sekitar satu minggu setelah Check Point memperbaiki kerentanan kritis lainnya.
Kerentanan pertama, CVE-2026-85103, merupakan remote code execution yang disebabkan oleh heap overflow pada proses decoding VPN certificate ASN.1.
Kerentanan tersebut memengaruhi firewall dan sistem manajemen Check Point.
Pada hari yang sama, Check Point juga memperbaiki CVE-2026-85102, sebuah kerentanan kritis yang memungkinkan hacker tanpa autentikasi melewati mekanisme autentikasi dan menjalankan kode secara remote pada firewall yang rentan.
Kedua kerentanan tersebut juga belum dilaporkan dieksploitasi secara aktif ketika pembaruan dirilis.
Check Point Sebelumnya Menghadapi Zero-Day yang Dieksploitasi
Meskipun CVE-2026-91843 belum diketahui telah dieksploitasi di dunia nyata, Check Point sebelumnya menghadapi sejumlah kerentanan yang memang telah dimanfaatkan dalam serangan.
Salah satunya adalah CVE-2026-50751, sebuah zero-day authentication bypass yang dilaporkan digunakan oleh affiliate ransomware Qilin sejak Juni 2026.
Kerentanan lainnya, CVE-2026-16232, merupakan authentication bypass zero-day yang telah dieksploitasi setidaknya sejak Juli untuk mendapatkan autentikasi dengan hak administrator pada panel admin SmartConsole.
Riwayat eksploitasi tersebut menjadi konteks penting bagi administrator Check Point karena menunjukkan bahwa kerentanan pada produk keamanan jaringan perusahaan sebelumnya telah menjadi target serangan nyata.
NCSC Belanda Minta Organisasi Segera Menambal
Dutch National Cyber Security Centre (NCSC-NL) sebelumnya juga memperingatkan organisasi agar memprioritaskan patching terhadap dua kerentanan kritis Check Point, yaitu CVE-2026-85102 dan CVE-2026-85103.
NCSC-NL memperkirakan upaya eksploitasi terhadap kedua kerentanan tersebut dapat segera terjadi.
Dengan adanya rangkaian kerentanan kritis pada produk Check Point dalam beberapa bulan terakhir, administrator sebaiknya memastikan seluruh Security Management Server, Log Server, firewall, dan komponen terkait telah menggunakan versi yang mendapatkan security update terbaru.
Untuk CVE-2026-91843 sendiri, organisasi dapat memulai dengan menerapkan pembaruan yang disediakan Check Point, membatasi akses ke trusted clients, serta memeriksa log untuk mencari indikasi percobaan login dengan username yang terlalu panjang.
Sumber: Check Point Software








