Uni Eropa dan Inggris Jatuhkan Sanksi kepada Peretas Militer Rusia atas Serangan Siber

Uni Eropa (EU) dan Inggris secara bersama-sama menjatuhkan sanksi terhadap puluhan individu dan organisasi asal Rusia yang dituduh terlibat dalam berbagai serangan siber terhadap negara-negara Eropa.
Dalam pengumuman resminya, Dewan Uni Eropa menyatakan bahwa Rusia secara aktif mengoordinasikan jaringan kelompok peretas, pelaku kejahatan siber, hingga perusahaan swasta untuk menjalankan operasi spionase dan sabotase digital terhadap berbagai target penting di kawasan Eropa.
Menargetkan Anggota GRU dan Kelompok Siber Rusia
Uni Eropa menjatuhkan sanksi kepada sembilan individu dan empat entitas, termasuk sejumlah anggota badan intelijen militer Rusia GRU serta pelaku kejahatan siber yang dianggap mendukung operasi pemerintah Rusia.
Sementara itu, Inggris mengumumkan sanksi terhadap 24 individu dan organisasi, termasuk pejabat senior GRU:
- Vyacheslav Stafeyev
- Ivan Senin
- Ivan Kasyanenko
Ketiganya dituduh memimpin berbagai operasi siber dan aktivitas hibrida yang menargetkan negara-negara Eropa.
Perusahaan Perekrut Hacker Ikut Disanksi
Selain aparat intelijen, Inggris juga memberikan sanksi kepada perusahaan IMPULS, yang dituduh merekrut mahasiswa berbakat dari berbagai universitas di Rusia untuk dilibatkan dalam operasi peretasan.
Pemerintah Inggris juga menjatuhkan sanksi kepada sejumlah individu yang dikaitkan dengan operasi malware Lumma Stealer.
Menurut otoritas Inggris, malware pencuri informasi tersebut telah menginfeksi sedikitnya 2.100 korban di Inggris hanya dalam kurun waktu enam bulan.
Tak hanya itu, 10 orang yang berafiliasi dengan media Rybar LLC juga masuk dalam daftar sanksi karena diduga menyebarkan propaganda anti-Ukraina serta melakukan intervensi terhadap proses pemilu di Moldova dan Armenia.
Uni Eropa Ungkap Peran FSB Center 16
Dalam pengumuman yang sama, Uni Eropa secara terbuka mengidentifikasi Center 16 milik Federal Security Service (FSB) Rusia sebagai pengendali sejumlah kelompok peretas terkenal.
Salah satu kelompok yang disebut berada di bawah kendali unit tersebut adalah Turla, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kelompok spionase siber paling aktif di dunia.
Menurut Uni Eropa, sejak 2010 kelompok ini telah menjalankan operasi mata-mata digital terhadap:
- Instansi pemerintah.
- Sektor pertahanan.
- Infrastruktur penting.
Target mereka tersebar di berbagai negara, antara lain:
- Prancis
- Jerman
- Polandia
- Siprus
- Belanda
- Austria
- Slovakia
- Rumania
- Finlandia
Diduga Menargetkan Infrastruktur Energi Polandia
Turla juga dikaitkan dengan upaya serangan terhadap infrastruktur kritis Polandia.
Target yang disasar meliputi jaringan energi, termasuk pembangkit listrik dan fasilitas pemanas.
Apabila berhasil, serangan tersebut diperkirakan berpotensi menyebabkan sekitar 500.000 penduduk kehilangan pasokan listrik selama musim dingin.
Sebelumnya, Polandia juga melaporkan serangan terhadap puluhan fasilitas jaringan listrik yang merusak sejumlah perangkat Operational Technology (OT), meskipun tidak sampai memutus distribusi listrik.
Serangan tersebut kemudian dikaitkan dengan kelompok Sandworm, yang diduga mencoba menyebarkan malware penghancur data DynoWiper.
Rusia Dituding Memanfaatkan Ekosistem Siber
Dalam pernyataannya, Dewan Uni Eropa menegaskan bahwa Rusia memanfaatkan berbagai elemen dalam ekosistem siber, mulai dari:
- Pelaku kejahatan siber.
- Kelompok hacktivist.
- Perusahaan swasta.
- Aparat intelijen.
Seluruh pihak tersebut disebut berkontribusi terhadap berbagai aktivitas yang bertujuan mengganggu layanan publik, infrastruktur penting, serta menciptakan kerugian ekonomi bagi negara-negara anggota Uni Eropa.
Sebagai respons, Uni Eropa menerapkan pembekuan aset dan pembatasan lainnya terhadap individu maupun organisasi yang dianggap terlibat dalam operasi tersebut.
Memperkuat Pertahanan Siber Eropa
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Uni Eropa memperkuat pertahanan terhadap ancaman siber yang semakin meningkat.
Awal tahun ini, Komisi Eropa juga mengusulkan regulasi keamanan siber baru guna meningkatkan perlindungan terhadap infrastruktur kritis dari ancaman kelompok peretas yang didukung negara.
Pada Maret lalu, Uni Eropa juga telah menjatuhkan sanksi terhadap tiga perusahaan asal Tiongkok dan Iran yang dituduh terlibat dalam serangan siber terhadap negara-negara anggota.
Dengan meningkatnya intensitas serangan terhadap sektor energi, pemerintahan, hingga lembaga penelitian, Eropa kini semakin menekankan pentingnya kerja sama internasasional dalam menghadapi ancaman siber yang berasal dari aktor negara maupun kelompok kriminal terorganisir.
Sumber: Council of the European Union








