Security

Terseret Blokir India, Pavel Durov Tuding Reliance Lakukan BGP Hijacking pada Telegram hingga ke UEA

Krisis kebocoran dokumen ujian medis nasional di India kini berbuntut panjang hingga memicu gangguan jaringan internet skala internasional. Pemerintah India secara resmi menerapkan pemblokiran total terhadap aplikasi pesan instan Telegram secara nasional hingga 22 Juni 2026.

Namun, imbas dari kebijakan pembatasan domestik tersebut dilaporkan meluber secara masif hingga melumpuhkan akses para pengguna Telegram di wilayah Uni Emirat Arab (UEA) serta beberapa negara regional sekitarnya akibat anomali perutean internet global.


Alasan Pemblokiran: Skandal Kebocoran Soal Ujian Medis NEET

Langkah ekstrem yang diambil oleh Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi India (MeitY) dipicu oleh investigasi skandal kecurangan massal pada ujian kedokteran terbesar di India, NEET (National Eligibility-cum-Entrance Test), yang diikuti oleh jutaan siswa.

  1. Sindikat Penjualan Soal: Lembaga Penguji Nasional (NTA) bersama Biro Investigasi Federal India (CBI) menemukan bahwa sindikat kriminal memanfaatkan kanal (channels), grup, dan bot otomatis Telegram untuk memperjualbelikan dokumen bocoran soal ujian seharga ribuan rupee.
  2. Manipulasi Fitur Edit: Para admin kanal peretas memanfaatkan celah fitur pengeditan pesan untuk mengubah tanggal unggahan (backdate posts), seolah-olah mereka telah memiliki dokumen tersebut jauh sebelum ujian dimulai demi menipu pembeli.
  3. Sanksi Ganda Kerajaan: Selain pemblokiran total aplikasi hingga 22 Juni, pemerintah India mengeluarkan perintah terpisah yang memaksa Telegram mematikan fungsi edit pesan di seluruh teritori India hingga 30 Juta 2026.

Pihak Telegram sendiri langsung mendaftarkan gugatan darurat ke Pengadilan Tinggi Delhi untuk membatalkan blokir massal ini. Perwakilan Telegram berargumen bahwa mereka telah menghapus ratusan kanal scam dalam beberapa pekan terakhir dan menilai pemblokiran total ini sebagai tindakan keliru yang justru menghukum 150 juta pengguna tak bersalah—terutama para siswa yang mengandalkan Telegram untuk mencari materi belajar gratis.


Tudingan BGP Hijacking Berujung Spillover ke Uni Emirat Arab

Gangguan akses yang dialami pengguna di luar India, khususnya di UEA, memicu kemarahan CEO Telegram, Pavel Durov. Lewat unggahan di akun X pribadinya, Durov secara terbuka menuduh raksasa telekomunikasi India, Reliance, melakukan sabotase sengaja melalui metode BGP Hijacking demi kepentingan persaingan bisnis (mengingat kedekatan investasi Reliance dengan Meta, induk perusahaan WhatsApp).

[ Telegram Servers ] ◄──────────────────────────┐ (Jalur Perutean Normal)
                                                │
   [ Pengguna di UEA / Internasional ] ──► [ Internet BGP Routing ]
                                                ▲
[ AS18101 Reliance Communications ] ◄───────────┘ (Kebocoran Rute / Hijack)
  • Klaim Kepemilikan IP Telegram secara Ilegal
  • Trafik Telegram Luar India Tersedot & Putus (Drop)

Apa itu BGP Hijacking? Border Gateway Protocol (BGP) adalah sistem navigasi utama yang menentukan rute perjalanan paket data antar-jaringan di internet global. BGP Hijack terjadi ketika sebuah operator jaringan mengumumkan secara ilegal bahwa mereka “memiliki” rentang alamat IP (IP address ranges) milik perusahaan lain. Akibatnya, trafik internet global yang seharusnya mengalir ke server Telegram justru salah arah, tersedot, lalu terputus (dropped) di jaringan Reliance.

Para analis dan pengamat internet independen dari Kentik (Doug Madory) serta peneliti kebijakan teknologi (Pranesh Prakash) membenarkan adanya anomali data di mana nomor sistem otonom AS18101 milik Reliance mulai menyebarkan prefiks IP Telegram ke internet global via provider transit FLAG Telecom (AS15412) saat blokir domestik aktif.

Namun, para pakar menyanggah teori sabotase sengaja dari Durov. Mereka menilai insiden ini murni sebagai kelalaian teknis (misconfiguration leak), di mana sistem pemblokiran lokal yang seharusnya hanya berlaku di internal India tidak sengaja “bocor” dan terpromosikan ke papan perutean internet global, mirip dengan kasus kebocoran rute Telegram yang pernah dilakukan Irak pada tahun 2023.


Cara Mengatasi Blokir Telegram Menggunakan Fitur MTProto Proxy

Bagi para pengguna di India maupun wilayah UEA yang terdampak oleh gangguan perutean ini, Telegram telah menyediakan fitur internal bawaan bernama MTProto Proxy (MTProxy) untuk menembus sensor jaringan tanpa perlu mengaktifkan aplikasi VPN pihak ketiga secara penuh.

Sistem ini bekerja dengan cara mengaburkan (obfuscating) lalu lintas data Telegram dan melemparkannya melalui simpul perantara (intermediary node) sebelum menuju server utama, sehingga penyedia layanan internet (ISP) lokal tidak mendeteksi adanya koneksi langsung ke sistem Telegram.

Panduan Pengaturan pada Telegram Desktop (PC):

  1. Masuk ke menu Settings (Pengaturan), lalu klik opsi Advanced.
  2. Gulir ke bawah dan cari bagian Data and storage, kemudian klik Connection type pada baris paling atas.
  3. Di dalam panel Proxy settings, centang lingkaran Use custom proxy, lalu klik tombol Add proxy.
  4. Pilih tipe MTProto, kemudian masukkan detail nilai Server, Port, dan Secret yang Anda dapatkan dari penyedia proxy tepercaya (misalnya daftar proxy gratis dari proyek StormyCloud atau repositori otomatis SoliSpirit di GitHub). Klik Save.

Panduan Pengaturan pada Aplikasi Mobile (Ponsel):

  • Perangkat iOS (iPhone): Buka Settings > Data and Storage > Proxy > pilih Add Proxy > isi parameter MTProto.
  • Perangkat Android: Buka Settings > Data and Storage > Proxy Settings > pilih Add Proxy > ketuk MTProto dan masukkan kredensial server.

⚠️ Peringatan Keamanan Utama: Walaupun seluruh pesan Anda di dalam Telegram dijamin tetap aman oleh enkripsi end-to-end (operator proxy tidak bisa membaca isi chat), pemilik server proxy jahat tetap dapat merekam alamat IP asli Anda beserta catatan waktu (timestamp) saat Anda terhubung. Demi keamanan privasi yang mutlak, sangat disarankan untuk melapisinya dengan mengaktifkan layanan VPN tepercaya di atas koneksi proxy tersebut.


Sumber: Global Internet Routing Monitors & Cybersecurity Threat Intelligence Network

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button