Artificial Intelligence (AI)

Google Perluas Penggunaan AI Gemini untuk Berantas Iklan Berbahaya di Platformnya

Google menyatakan bahwa mereka semakin mengandalkan model AI Gemini untuk mendeteksi dan memblokir iklan berbahaya di platform periklanannya. Langkah ini diambil seiring dengan taktik para penipu dan aktor ancaman yang terus berevolusi untuk menghindari sistem deteksi.

Dalam unggahan terbarunya, perusahaan melaporkan telah memblokir atau menghapus 8,3 miliar iklan dan menangguhkan 24,9 juta akun pengiklan sepanjang tahun 2025. Dari jumlah fantastis tersebut, 602 juta iklan di antaranya terbukti terkait erat dengan operasi penipuan (scams).

Ancaman Malvertising dan Taktik Penipuan

Malvertising (iklan berbahaya) telah lama menjadi masalah pelik di jaringan iklan Google. Para penyerang kerap membeli ruang iklan yang menyamar sebagai merek atau layanan sah guna mendistribusikan perangkat perusak (malware), mencuri aset mata uang kripto, atau menggiring pengguna ke situs web phishing.

Kampanye periklanan semacam ini umumnya memanfaatkan teknik penyelubungan (cloaking) dan pengalihan URL. Taktik ini membuat iklan jahat tampak seperti situs web tepercaya, bahkan tidak jarang menampilkan domain milik Google sendiri, halaman unduhan perangkat lunak sah, maupun portal autentikasi resmi.

Beberapa kampanye terbaru yang terdeteksi meliputi:

  • Pembuatan halaman login palsu untuk mencuri akun Google Ads.
  • Distribusi perangkat lunak yang disusupi trojan melalui iklan yang menyamar sebagai alat populer, seperti Google Authenticator dan Homebrew.
  • Penayangan iklan untuk situs web yang menyamar sebagai platform kripto dengan tujuan menguras isi dompet digital pengunjung.

Peran Gemini AI dalam Memblokir Iklan Jahat

Menurut Google, penjahat siber masa kini mulai mempersenjatai diri dengan AI generatif. Teknologi ini memungkinkan mereka untuk membangun operasi penipuan berskala masif yang jauh lebih canggih dalam waktu singkat.

“Aktor jahat menggunakan AI generatif untuk membuat iklan penipuan dalam skala besar, dan Gemini membantu kami mendeteksi serta memblokirnya secara real-time. Pada akhir tahun lalu, sebagian besar Iklan Penelusuran Responsif (Responsive Search Ads) yang dibuat di Google Ads ditinjau secara instan, dan konten berbahaya diblokir saat pengajuan—sebuah kemampuan yang kami rencanakan untuk dihadirkan pada lebih banyak format iklan tahun ini,” jelas Keerat Sharma, VP & General Manager, Ads Privacy and Safety Google.

Untuk menangkis serangan modern ini, Google kini sangat bergantung pada sistem bertenaga AI Gemini guna mengotomatisasi penemuan dan pemblokiran iklan berbahaya sebelum iklan tersebut sempat ditayangkan kepada pengguna akhir.

Jika sistem deteksi generasi sebelumnya hanya mengandalkan analisis kata kunci untuk mencari anomali perilaku, Google mengklaim Gemini mampu melangkah lebih jauh. Model AI ini dapat menganalisis miliaran sinyal—termasuk perilaku pengiklan, riwayat akun, pola kampanye, hingga niat (intent) di balik iklan tersebut—untuk menentukan apakah sebuah promosi bersifat jahat atau sah.

Dampak Positif dan Rencana ke Depan

Di wilayah Amerika Serikat saja, Google menyebutkan telah menghapus 1,7 miliar iklan dan menangguhkan 3,3 juta akun pengiklan pada tahun 2025. Dua pelanggaran kebijakan yang paling mendominasi adalah “penyalahgunaan jaringan iklan” dan “representasi yang keliru”.

Penerapan kecerdasan buatan telah terbukti meningkatkan respons Google terhadap iklan penipuan yang sempat lolos dari proses peninjauan awal. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk memproses laporan pengguna jauh lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Google juga menegaskan bahwa peningkatan akurasi model AI-nya telah berhasil menekan angka kesalahan penangguhan akun pengiklan (false positives) hingga 80%.

Ke depannya, perusahaan berjanji akan terus memperluas integrasi Gemini ke berbagai format iklan dan sistem penegakan tambahan, dengan tujuan akhir membasmi kampanye berbahaya tepat pada saat proses pengajuan berlangsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button