Cloudflare Blokir Serangan DDoS Terbesar yang Pernah Tercatat, Mencapai 11,5 Tbps
Cloudflare, perusahaan infrastruktur internet terkemuka, baru saja mengumumkan bahwa mereka telah berhasil memblokir serangan DDoS (Distributed Denial-of-Service) terbesar dalam sejarah, dengan puncak mencapai 11,5 terabit per detik (Tbps).
Serangan ini merupakan jenis volumetric DDoS, yaitu metode di mana pelaku membanjiri target dengan volume data yang sangat besar untuk menguras bandwidth atau sumber daya sistem, sehingga layanan menjadi tidak dapat diakses oleh pengguna yang sah.
“Selama beberapa minggu terakhir, kami telah secara otomatis memblokir ratusan serangan DDoS hyper-volumetric, dengan yang terbesar mencapai puncak 5,1 Bpps dan 11,5 Tbps,” ujar Cloudflare dalam pernyataan resminya.
Serangan dengan volume 11,5 Tbps ini diketahui menggunakan metode UDP flood dan berasal dari infrastruktur Google Cloud. Meskipun sangat masif, serangan tersebut hanya berlangsung sekitar 35 detik sebelum berhasil dinetralisir.

🔒 Lonjakan Serangan DDoS: Ancaman yang Terus Meningkat
Serangan terbaru ini terjadi hanya dua bulan setelah Cloudflare juga mengumumkan pemblokiran serangan 7,3 Tbps terhadap penyedia hosting yang dirahasiakan pada Juni lalu. Sebelumnya, rekor serangan tertinggi adalah 3,8 Tbps pada Oktober 2024.
Laporan Q1 2025 dari Cloudflare menunjukkan lonjakan besar dalam insiden DDoS:
- 21,3 juta serangan DDoS diblokir sepanjang 2024
- 6,6 juta di antaranya menargetkan langsung infrastruktur Cloudflare
- Kenaikan 358% secara YoY dalam total serangan DDoS
- Serangan layer jaringan meningkat 509% dibanding awal 2025
Cloudflare mencatat serangan dengan pola multi-vektor seperti:
- SYN Flood
- Mirai Botnet
- SSDP Amplification
- Dan teknik lain yang ditujukan untuk melumpuhkan layanan
🚨 Perlu Kesiapan Tinggi dari Penyedia Layanan
Dengan tingginya frekuensi dan kompleksitas serangan DDoS saat ini, perusahaan penyedia layanan internet dan cloud perlu memiliki sistem mitigasi yang otonom dan skalabel.
Cloudflare sendiri menggunakan pendekatan otomatis dan real-time untuk memblokir serangan, menunjukkan pentingnya arsitektur keamanan adaptif dalam menjaga keandalan dan uptime layanan digital di tengah ancaman yang terus berkembang.
✅ Kesimpulan
Serangan DDoS dengan puncak 11,5 Tbps menjadi pengingat bahwa skala dan kecanggihan serangan siber terus meningkat. Namun, insiden ini juga menunjukkan efektivitas teknologi pertahanan modern seperti yang dimiliki Cloudflare dalam menjaga infrastruktur internet tetap stabil dan aman.








