Valve Akui “Tidak Optimis” Harga Konsol Steam Machine Bisa Turun dalam Waktu Dekat

Semenjak resmi dipasarkan pada pertengahan Juni lalu, konsol Steam Machine besutan Valve terus menuai sorotan tajam akibat harganya yang melambung tinggi. Perangkat yang awalnya digadang-gadang sebagai hibrida konsol-PC berformat kecil (Small Form Factor / SFF) dengan harga terjangkau tersebut justru mendarat di pasar dengan banderol harga awal yang cukup mengejutkan, yakni $1.049 (sekitar 17,2 juta rupiah).
Tingginya nominal tersebut merupakan dampak langsung dari krisis kelangkaan serta lonjakan harga komponen DRAM dan penyimpanan (NAND Flash) global yang tengah mencekik industri perangkat keras. Menanggapi pertanyaan besar dari komunitas gamer mengenai kapan harga perangkat ini akan turun agar nilainya menjadi lebih kompetitif, pihak Valve akhirnya angkat bicara secara jujur.
Komitmen Valve: Lebih Murah, Lebih Baik untuk Ekosistem
Dalam sebuah sesi wawancara eksklusif bersama media teknologi Digital Foundry, duet insinyur senior Valve, Yazan Aldehayyat dan Pierre-Loup Griffais, memaparkan sudut pandang filosofis perusahaan dalam menetapkan harga komoditas hardware mereka.
“Sama sekali tidak ada untungnya bagi kami untuk sengaja menahan perangkat keras di harga yang tinggi. Kehadiran hardware ini sejatinya dimaksudkan sebagai fasilitator untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara pemain dengan game-game mereka,” ungkap perwakilan Valve tersebut.
Mereka menegaskan bahwa dari kacamata bisnis Valve, prinsip “semakin murah harga perangkat, maka akan semakin baik” selalu menjadi landasan utama guna memperluas jangkauan ekosistem digital SteamOS. Namun, realita rantai pasok memaksa mereka mengambil keputusan pahit.
Badai Krisis Memori Belum Menunjukkan Tanda-Tanda Mereda
Meskipun mendambakan harga yang lebih ramah kantong, Yazan Aldehayyat mengakui bahwa kondisi pasar semikonduktor saat ini sangat tidak berpihak pada konsumen.
“Sangat sulit bagi kami untuk memprediksi masa depan secara pasti, tetapi kami tidak optimis bahwa penurunan harga (Steam Machine) akan terjadi dalam waktu dekat,” punggung Aldehayyat. Ia juga menambahkan, “Para pelaku industri lainnya di sektor ini pun sudah menyuarakan kekhawatiran yang sama.”
Pernyataan bernada pesimis dari Valve ini merujuk langsung pada laporan proyeksi kelangkaan DRAM dan NAND Flash yang diprediksi akan terus merangkak naik hingga akhir dekade. Proyeksi kelam ini sebelumnya juga diaminkan oleh raksasa teknologi lain; Microsoft bahkan sudah mengumumkan gelombang kenaikan harga resmi untuk lini konsol Xbox Series X|S mereka yang akan berlaku per 1 Agustus mendatang, sementara Lenovo memproyeksikan bahwa mahalnya harga memori akan menjadi “norma baru” akibat masifnya pembangunan pusat data (data center) berbasis kecerdasan buatan (AI).
Melihat konfirmasi langsung dari pihak Valve, para gamer yang mendambakan pemangkasan harga resmi (price cut) untuk Steam Machine tampaknya harus gigit jari dan bersabar lebih lama. Untuk saat ini, Valve akan tetap berfokus memaksimalkan optimasi perangkat lunak pada SteamOS—termasuk perampungan dukungan HDMI 2.1 murni serta implementasi FSR 4—guna memastikan performa yang dihadirkan sepadan dengan investasi tinggi yang dikeluarkan oleh para pengguna setianya.
Sumber: Valve Engineers Interview via Digital Foundry








