Jaguar Land Rover Perpanjang Shutdown Pabrik Akibat Serangan Siber

Jaguar Land Rover (JLR) mengumumkan bahwa penghentian produksi akibat serangan siber yang melumpuhkan sistem internal perusahaan pada akhir Agustus akan diperpanjang hingga setidaknya 24 September 2025.
Dampak Serangan Siber
JLR, yang berada di bawah naungan Tata Motors India sejak diakuisisi dari Ford pada 2008, mempekerjakan sekitar 39.000 karyawan dan memproduksi lebih dari 400.000 kendaraan per tahun, dengan pendapatan tahunan dilaporkan mencapai lebih dari $38 miliar (£29 miliar).
Sejak mengumumkan insiden ini pada 2 September, perusahaan menyebut produksi terganggu secara signifikan. JLR juga telah mengonfirmasi bahwa data internal berhasil dicuri oleh pelaku, sehingga staf diminta tidak masuk kerja sementara penyelidikan berlangsung.
Pernyataan Resmi JLR
Dalam pengumuman terbaru, perusahaan menyampaikan:
“Hari ini kami telah memberi tahu kolega, pemasok, dan mitra bahwa penghentian produksi saat ini diperpanjang hingga Rabu, 24 September 2025. Keputusan ini diambil karena investigasi forensik atas insiden siber masih berlangsung, serta untuk mempertimbangkan tahapan restart operasi global yang terkontrol, yang memerlukan waktu.”
Pelaku dan Klaim Tanggung Jawab
Meski JLR belum mengaitkan insiden ini dengan kelompok tertentu, sebuah grup bernama “Scattered Lapsus$ Hunters” mengklaim bertanggung jawab. Melalui kanal Telegram, kelompok ini mempublikasikan tangkapan layar dari sistem internal SAP JLR serta menyatakan telah menanamkan ransomware.
Kelompok ini mengklaim sebagai gabungan kriminal siber yang berafiliasi dengan Scattered Spider, Lapsus$, dan ShinyHunters. Mereka juga mengaku berada di balik pencurian data Salesforce terbaru, menggunakan rekayasa sosial serta kompromi token OAuth Salesloft Drift untuk mencuri data dari berbagai perusahaan ternama.
Belum Ada Kepastian untuk Konsumen
Hingga saat ini, JLR belum memberikan detail terkait potensi dampak serangan terhadap pelanggan. Investigasi masih berlanjut dengan fokus utama pada pemulihan sistem dan restart operasi produksi secara bertahap.
Sumber: Jaguar Land Rover








