Security

Workiva Ungkap Kebocoran Data Akibat Serangan ke Salesforce

Workiva, penyedia SaaS (Software as a Service) berbasis cloud terkemuka, mengonfirmasi bahwa sebagian data pelanggannya dicuri setelah aktor ancaman berhasil menembus sistem manajemen hubungan pelanggan (CRM) pihak ketiga yang terhubung ke platform mereka.

Workiva menyediakan perangkat lunak cloud untuk pengumpulan, penghubungan, dan berbagi data terkait laporan keuangan, kepatuhan, dan audit. Hingga akhir 2024, perusahaan ini memiliki 6.305 pelanggan dengan pendapatan sebesar $739 juta. Daftar kliennya mencakup 85% perusahaan Fortune 500, termasuk Google, T-Mobile, Delta Air Lines, Wayfair, Hershey, Slack, Cognizant, Santander, Nokia, Kraft Heinz, Wendy’s, Paramount, Air France KLM, Mercedes-Benz, dan banyak lainnya.

Data yang Dicuri

Dalam pemberitahuan email pribadi kepada pelanggan yang terdampak, Workiva menjelaskan bahwa penyerang mengekstraksi sebagian kecil informasi kontak bisnis. Data tersebut meliputi:

  • Nama
  • Alamat email
  • Nomor telepon
  • Konten tiket dukungan pelanggan

Workiva menegaskan bahwa platform inti dan data di dalamnya tidak diakses atau dikompromikan. Insiden ini terjadi karena adanya akses tidak sah melalui aplikasi pihak ketiga yang terhubung ke vendor CRM mereka.

Peringatan bagi Pelanggan

Perusahaan memperingatkan pelanggan untuk tetap waspada karena informasi yang dicuri berpotensi digunakan dalam serangan spear-phishing. Workiva menekankan bahwa pihaknya tidak akan pernah meminta kata sandi atau detail keamanan melalui SMS atau telepon, dan seluruh komunikasi resmi hanya dilakukan melalui saluran dukungan terpercaya.

Terkait Gelombang Serangan Salesforce

Meski Workiva tidak merinci lebih lanjut, laporan independen menunjukkan bahwa insiden ini merupakan bagian dari rangkaian kebocoran data Salesforce yang dikaitkan dengan kelompok pemeras ShinyHunters.

ShinyHunters sebelumnya diketahui menargetkan pelanggan Salesforce dengan metode voice phishing (vishing) sejak awal tahun, menyerang perusahaan besar seperti Google, Cisco, Allianz Life, Workday, Qantas, Adidas, hingga LVMH (Dior, Louis Vuitton, Tiffany & Co).

Baru-baru ini, kelompok tersebut mulai memanfaatkan token OAuth curian dari integrasi AI chat Drift milik Salesloft untuk mengakses instans Salesforce. Dengan teknik ini, mereka dapat mencuri data sensitif seperti kata sandi, kunci akses AWS, dan token Snowflake dari pesan serta tiket dukungan pelanggan. Bahkan, mereka dilaporkan berhasil membobol Salesforce milik perusahaan keamanan siber besar seperti Zscaler dan Palo Alto Networks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button