Peneliti Temukan Peretas Gunakan DeepSeek AI untuk Menyerang Server Secara Otonom

Sebuah kelompok peretas berbahasa Mandarin diketahui memanfaatkan model kecerdasan buatan DeepSeek bersama framework open-source Hermes Agent untuk melakukan serangan siber secara otomatis terhadap server yang rentan dengan keterlibatan manusia yang sangat minim.
Aktivitas tersebut diungkap oleh peneliti Unit 42 dari Palo Alto Networks setelah Hermes secara tidak sengaja membuat web server dari direktori home miliknya. Kesalahan konfigurasi itu justru membuka akses ke lingkungan kerja pelaku, termasuk API key, skrip eksploitasi, daftar target, riwayat shell, hingga log aktivitas AI selama menjalankan serangan.
Berdasarkan hasil investigasi, Unit 42 mengaitkan aktivitas tersebut dengan aktor ancaman asal Tiongkok yang menggunakan alias “knaithe” dan “KnYuan”, yang menyebut dirinya sebagai peneliti keamanan biner (binary security researcher).
Meski serangan otomatis yang diamati tidak berhasil mengompromikan target, para peneliti menilai kampanye ini menunjukkan bahwa AI kini telah mampu menjalankan seluruh tahapan serangan siber secara mandiri.
DeepSeek Menjadi Otak Serangan
Dalam kampanye tersebut, DeepSeek digunakan sebagai mesin penalaran (reasoning engine) yang mengendalikan Hermes Agent.
Hermes sendiri merupakan framework AI open-source yang mampu:
- Berinteraksi langsung dengan terminal sistem operasi.
- Menjalankan perintah secara otomatis.
- Mengakses internet.
- Mengoperasikan berbagai alat keamanan ofensif.
Framework ini juga memiliki mode “YOLO”, yang memungkinkan AI menjalankan perintah berisiko tanpa meminta persetujuan operator terlebih dahulu.
Selain itu, Hermes dikonfigurasi agar dapat menerima instruksi melalui Telegram, menggunakan kemampuan keamanan siber khusus, serta terhubung ke mesin pencari aset internet FOFA untuk mencari target yang rentan.
AI Menentukan Target Secara Mandiri
Unit 42 menemukan sesi serangan yang berlangsung pada Mei 2026, di mana operator hanya memberikan satu instruksi awal.
Setelah itu, Hermes bersama DeepSeek mengambil alih seluruh proses secara otomatis tanpa interaksi manusia.
Target pertama yang dipilih adalah server Langflow yang terpapar internet dan rentan terhadap CVE-2026-33017.
AI kemudian:
- Mengunduh proof-of-concept (PoC) eksploitasi yang tersedia secara publik.
- Menggunakan FOFA untuk menemukan 84 server Langflow yang dapat diakses melalui internet.
- Memindai seluruh server tersebut guna mencari konfigurasi yang benar-benar rentan.
Setelah menyimpulkan bahwa target tersebut tidak dapat dieksploitasi, AI secara mandiri mencari kerentanan lain yang lebih menjanjikan.
Beralih Menyerang Platform n8n
DeepSeek kemudian menganalisis berbagai repositori eksploitasi publik sebelum memilih platform otomatisasi workflow n8n sebagai target berikutnya.
Melalui FOFA, AI menemukan lebih dari 647.000 instance n8n yang dapat diakses melalui internet.
Selanjutnya AI:
- Mengunduh eksploitasi yang menggabungkan CVE-2026-21858 dan CVE-2025-68613.
- Mengidentifikasi server yang menjalankan versi rentan.
- Memeriksa keberadaan formulir unggah file tanpa autentikasi yang diperlukan untuk menyelesaikan serangan.
Namun seluruh target yang ditemukan ternyata tetap memerlukan autentikasi sehingga seluruh upaya eksploitasi tersebut gagal.
Analisis Target Berlangsung Sangat Cepat
Menurut Unit 42, bagian paling menarik dari kampanye ini bukanlah keberhasilan serangannya, melainkan kemampuan AI melakukan analisis target secara mandiri.
Dalam hitungan menit, sistem mampu:
- Meneliti berbagai kerentanan publik.
- Memilih target yang paling potensial.
- Mengunduh kode eksploitasi.
- Melakukan pemindaian terhadap ratusan server.
Proses yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam bagi seorang analis keamanan dapat diselesaikan AI dalam waktu yang jauh lebih singkat sambil mengelola sumber daya komputasinya sendiri.
Tetap Ada Serangan Manual
Walaupun AI dimanfaatkan secara intensif, pelaku juga melakukan sejumlah serangan secara manual terhadap lebih dari 460 sistem.
Beberapa produk yang menjadi sasaran antara lain:
- Citrix NetScaler.
- Apache Tomcat.
- Marimo Notebook.
- Windows IKE VPN.
- Berbagai perangkat lunak lainnya.
Unit 42 mengonfirmasi adanya tiga kompromi yang berhasil, seluruhnya memanfaatkan kerentanan CVE-2026-3055 pada Citrix NetScaler.
Setelah berhasil masuk, pelaku mengambil isi memori server untuk mencari cookie autentikasi yang dapat digunakan membajak sesi pengguna.
Berbagai Model AI Lain Turut Dikonfigurasi
Selain DeepSeek, peneliti juga menemukan bahwa pelaku telah mengonfigurasi beberapa platform AI lain, antara lain:
- Qwen.
- GLM.
- Kimi.
- MiniMax.
- Claude Code.
- OpenAI Codex.
Namun berdasarkan log yang ditemukan, model-model tersebut jarang digunakan dibandingkan DeepSeek.
Bukan Kasus Pertama yang Melibatkan Hermes
Temuan ini muncul tidak lama setelah insiden lain yang juga melibatkan Hermes Agent.
Sebelumnya, peneliti Hunt.io bersama Bob Diachenko menemukan direktori web terbuka yang memperlihatkan aktivitas Hermes dalam dugaan serangan terhadap Kementerian Keuangan Thailand.
Dalam insiden tersebut, Hermes digunakan untuk mengotomatisasi aktivitas pasca-eksploitasi seperti:
- Mencari peluang peningkatan hak akses.
- Mengidentifikasi layanan yang berjalan.
- Memeriksa container.
- Menelusuri sistem berkas.
- Menginventarisasi dokumen.
Namun pada kasus sebelumnya, target dan alat serangan masih ditentukan oleh operator manusia.
Sebaliknya, pada kampanye terbaru yang ditemukan Unit 42, AI sudah mampu menentukan target, memilih kerentanan, mengunduh eksploitasi, hingga menjalankan proses penyerangan secara mandiri.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam operasi ofensif siber semakin matang dan berpotensi mempercepat proses serangan di masa mendatang, meskipun efektivitasnya masih bergantung pada keberadaan kerentanan yang benar-benar dapat dieksploitasi.








