Harga Awal Steam Machine Sempat Dirancang 30% Lebih Murah Sebelum Terjadinya Krisis RAM

Bukan rahasia lagi jika peluncuran konsol mini Steam Machine besutan Valve terjadi pada momentum yang bisa dibilang paling buruk bagi industri perangkat keras game PC maupun konsol. Hal ini tidak lepas dari bayang-bayang krisis pasokan memori DRAM global yang tengah melanda pasar semikonduktor dunia.
Baru-baru ini, insinyur senior Valve, Pierre-Loup Griffais, memberikan gambaran mengenai strategi harga awal Steam Machine sebelum krisis RAM melanda. Melalui penjelasannya, terungkap bahwa perangkat komputer hibrida ruang keluarga ini pada dasarnya memang tidak pernah dirancang sebagai perangkat yang murah sejak awal pengembangannya.
Dalam sebuah sesi wawancara bersama media game IGN, Pierre-Loup Griffais mengungkapkan bahwa selisih harga antara unit Steam Machine yang ada di pasar saat meluncur dengan estimasi harga jika perangkat tersebut dirilis tanpa pengaruh krisis DRAM tercatat “kemungkinan mirip” dengan persentase kenaikan harga yang terpaksa diterapkan Valve pada lini konsol genggam Steam Deck pada bulan Mei lalu.
Jika mengacu pada selisih sekitar 30% antara harga varian dasar Steam Deck saat ini dengan harga eceran resmi (MSRP) orisinalnya, maka sebelum krisis RAM terjadi, Steam Machine sejatinya bisa saja dipasarkan dengan harga serendah $730 hingga $750 (sekitar 11,9 hingga 12,2 juta rupiah).
Potensi Menjadi Pesaing Kuat PS5 dan PS5 Pro
Konfigurasi harga awal di kisaran $730 tersebut dinilai bakal menempatkan posisi Steam Machine dalam jarak persaingan yang sangat dekat dengan konsol Sony PlayStation 5. Bahkan, estimasi harga tersebut berada di bawah banderol konsol premium PS5 Pro yang dipasarkan seharga $899,99 setelah kebijakan kenaikan harga yang diterapkan Sony baru-baru ini.
Mengingat karakteristik Steam Machine yang merupakan perangkat hibrida—yang dapat berfungsi ganda sebagai konsol game di ruang keluarga sekaligus PC desktop konvensional—skema harga orisinal pra-krisis tersebut diyakini akan jauh lebih masuk akal dan dapat diterima oleh komunitas gamer, meskipun nominalnya masih sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan unit PS5 standar.
Alasan Valve Tidak Memberikan Subsidi Harga Perangkat
Tingginya harga jual yang melekat pada Steam Machine ini juga sangat dipengaruhi oleh sifat keterbukaan (openness) dari ekosistem yang diusung oleh Valve. Pada umumnya, produsen konsol konvensional seperti Sony dengan PlayStation atau Microsoft dengan Xbox berani memberikan subsidi harga perangkat keras (jual rugi atau margin tipis) karena mereka dapat menutup kerugian tersebut melalui potongan komisi dari hasil penjualan game, konten digital, serta biaya langganan layanan premium di ekosistem tertutup mereka.
Kondisi tersebut tidak berlaku untuk lini perangkat keras buatan Valve. Pihak Valve membebaskan pengguna dan tidak memberikan batasan sistem pada hardware mereka. Tidak ada yang melarang pembeli untuk menghapus sistem operasi bawaan dan memasang Windows di dalamnya, lalu meninggalkan ekosistem Valve sepenuhnya setelah membeli perangkat.
Bahkan, pengguna tidak perlu menghapus SteamOS sekalipun hanya untuk memainkan game-game di luar platform Steam. Karena Valve tidak memiliki jaminan mutlak untuk meraup keuntungan dari penjualan software pasca-pembelian perangkat keras, perusahaan tidak memiliki insentif atau alasan kuat untuk memberikan subsidi harga pada unit Steam Machine. Dampaknya, harga jual retail perangkat terpaksa dipatok mengikuti biaya produksi riil komponen yang membengkak akibat krisis rantai pasok dunia.
Sumber: Valve via IGN








