Tata Electronics Konfirmasi Serangan Siber, Kelompok Hacker Bocorkan Data Manufaktur Produk Apple dan Tesla

Raksasa manufaktur komponen elektronik asal India, Tata Electronics, mengonfirmasi bahwa mereka telah menjadi target serangan siber yang berdampak pada sebagian infrastruktur teknologi informasi (TI) milik perusahaan. Meski demikian, pihak perusahaan menegaskan bahwa seluruh aktivitas operasional mereka tetap berjalan normal dan tidak terganggu oleh insiden tersebut.
Dalam pernyataan resminya, perwakilan dari Tata Electronics menjelaskan bahwa insiden keamanan siber ini pertama kali terdeteksi pada beberapa sistem internal perusahaan sejak beberapa minggu lalu. Begitu protokol respons darurat diaktifkan, tim teknis langsung melokalisir dampak serangan sehingga tidak sampai menimbulkan gangguan atau waktu henti (downtime) pada lini bisnis manufaktur mereka.
Profil Tata Electronics dan Perannya dalam Rantai Pasok Global
Tata Electronics merupakan salah satu divisi strategis di bawah naungan Tata Group, sebuah konglomerat multinasional terkemuka di India yang berfokus pada produksi komponen elektronik dan manufaktur semikonduktor. Sejak didirikan pada tahun 2020, perusahaan ini berkembang pesat menjadi salah satu kekuatan manufaktur teknologi terbesar di India.
Saat ini, Tata Electronics memegang peran sangat krusial dalam rantai pasok global karena menjadi mitra utama dalam memproduksi serta merakit perangkat Apple iPhone beserta komponen-komponen pendukungnya di India. Selain Apple, perusahaan ini juga diketahui telah menjalin kemitraan strategis untuk memasok komponen sirkuit dan semikonduktor bagi produsen otomotif terkemuka, Tesla.
Kebocoran Data Skala Besar oleh Kelompok World Leaks
Meskipun Tata Electronics tidak membeberkan identitas maupun motif dari pelaku serangan, konfirmasi ini dirilis setelah kelompok peretas bernama World Leaks mengeklaim telah berhasil membobol pertahanan siber perusahaan. Kelompok pemeras ini mengunggah database berukuran sekitar 630 GB yang berisi lebih dari 200.000 file yang diduga kuat dicuri dari jaringan internal Tata Electronics.
Berdasarkan analisis terhadap sampel data yang tersebar di situs gelap (dark web), dokumen yang bocor mencakup informasi manufaktur yang sangat rahasia untuk produk-produk Apple dan Tesla. Beberapa data sensitif yang teridentifikasi meliputi:
- Skema komponen internal dan desain papan sirkuit cetak (PCB) untuk perangkat iPhone.
- Dokumen panduan standar inspeksi kualitas pabrik.
- File spesifikasi material produksi dan file Software Development Kit (SDK).
- Gambar teknik dan cetak biru komponen yang berkaitan dengan proyek otomotif Tesla, termasuk dokumen rahasia “Project Highland”.
- Salinan paspor karyawan serta log aktivitas sistem (event logs) selama beberapa tahun terakhir.
Hingga saat ini, pihak Apple dilaporkan tengah melakukan analisis mendalam dan penyelidikan internal untuk memastikan sejauh mana data kepemilikan (proprietary data) mereka terekspos akibat insiden di sisi penyuplai ini.
Transformasi Kelompok Peretas dari Hunters International
Para peneliti keamanan siber mengidentifikasi bahwa World Leaks merupakan bentuk baru atau rebrand dari kelompok ransomware terkenal, Hunters International, yang sebelumnya telah menyatakan berhenti beroperasi pada pertengahan tahun 2025.
Terdapat perubahan taktik yang cukup signifikan pada model operasi baru ini. Jika sebelumnya Hunters International kerap menggunakan malware enkripsi data (ransomware) untuk mengunci sistem korban, World Leaks kini beroperasi murni sebagai kelompok pemeras data (data extortion). Mereka fokus menyusup ke jaringan target, menyalin dokumen penting secara diam-diam, dan menggunakannya sebagai jaminan untuk memeras korban dengan ancaman publikasi data ke publik jika uang tebusan tidak dibayarkan.
Rekam jejak digital menunjukkan bahwa Tata Electronics bukanlah satu-satunya korban besar dari kelompok ini. Sebelum menyasar industri manufaktur India, kelompok peretas yang sama juga mengklaim telah sukses membobol jaringan produsen komputer Dell, serta meluncurkan serangan siber terhadap perusahaan perlengkapan olahraga global, Nike, dengan mencuri data internal sebesar 1,4 TB.
Sumber: Tata Electronics Statement








