Security

InfraTrust Temukan 2.813 Celah Keamanan Infrastruktur Jaringan, PHP2Shell Ancam Firewall dan VPN

Laporan keamanan terbaru dari InfraTrust Pulse mengungkap ribuan kerentanan yang memengaruhi perangkat infrastruktur jaringan penting, termasuk firewall, VPN gateway, sistem manajemen jaringan, server, dan perangkat penyimpanan. Sejumlah celah tersebut bahkan telah dieksploitasi secara aktif oleh pelaku ancaman siber sebelum vendor menyediakan perbaikan keamanan.

Laporan edisi Oktober 2026 yang diterbitkan Eclypsium melalui platform InfraTrust mencatat 133 security advisory dari 18 vendor, mencakup 2.813 kerentanan dengan identifikasi Common Vulnerabilities and Exposures (CVE).

Dari jumlah tersebut, 37 advisory memiliki tingkat keparahan Critical, lima mencakup kerentanan dengan skor CVSS maksimum 10.0, dan 58 mencakup celah yang dapat dieksploitasi dari jarak jauh tanpa autentikasi.

Selain itu, sebanyak 16 advisory baru mencakup kerentanan yang telah masuk dalam katalog Known Exploited Vulnerabilities (KEV) milik Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) Amerika Serikat.

Laporan ini juga memberikan perhatian khusus terhadap dua kerentanan PHP yang dikenal sebagai PHP2Shell, yaitu CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619.

Kedua celah tersebut tidak hanya berpotensi memengaruhi website dan aplikasi berbasis PHP, tetapi juga antarmuka manajemen perangkat jaringan yang menggunakan PHP sebagai bagian dari firmware.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi administrator karena pembaruan PHP pada perangkat seperti firewall dan VPN appliance umumnya tidak dapat dilakukan secara mandiri. Pengguna harus menunggu vendor menyediakan firmware atau software yang telah diperbaiki.

InfraTrust Catat 2.813 Kerentanan dari 18 Vendor

InfraTrust Pulse merupakan laporan bulanan yang memantau perkembangan kerentanan keamanan pada berbagai komponen infrastruktur teknologi informasi.

Cakupannya meliputi perangkat jaringan, server, firmware, chip, hingga Baseboard Management Controller (BMC) yang digunakan untuk pengelolaan hardware server.

Dalam laporan Oktober 2026, InfraTrust menganalisis security advisory yang diterbitkan antara 18 September hingga 14 Oktober 2026.

Sepanjang periode tersebut, tim peneliti mencatat 133 advisory baru dari 18 vendor yang mencakup 2.813 identifikasi CVE berbeda.

Dari 133 advisory tersebut, sebanyak 37 dikategorikan Critical.

Lima advisory mencakup kerentanan dengan skor CVSS 10.0, yang merupakan tingkat keparahan maksimum dalam sistem penilaian CVSS.

Sementara itu, 58 advisory mencakup kerentanan yang dapat dieksploitasi dari jarak jauh tanpa membutuhkan autentikasi.

Karakteristik tersebut menjadi perhatian karena penyerang berpotensi mengeksploitasi sistem tanpa terlebih dahulu memperoleh kredensial pengguna.

InfraTrust juga mencatat 96 advisory lama yang mengalami revisi selama periode pemantauan, tetapi tidak dihitung sebagai advisory baru.

Namun, penting untuk dipahami bahwa 2.813 CVE tersebut bukan berarti seluruhnya telah dieksploitasi oleh hacker.

Angka tersebut menunjukkan jumlah kerentanan yang tercakup dalam pemantauan InfraTrust, dengan sebagian di antaranya telah memiliki bukti eksploitasi aktif.

Sebanyak 16 Advisory Mencakup Kerentanan yang Sudah Dieksploitasi

Salah satu temuan paling penting dalam laporan ini adalah keberadaan 16 advisory baru yang mencakup kerentanan dalam katalog CISA KEV.

Katalog tersebut digunakan untuk mengidentifikasi celah keamanan yang telah diketahui dieksploitasi dalam serangan nyata.

Dari 16 advisory tersebut, sepuluh berkaitan dengan kerentanan pada produk vendor yang telah dieksploitasi oleh pelaku ancaman.

Sementara enam lainnya mencakup kerentanan lama pada komponen software pihak ketiga yang diintegrasikan ke dalam produk vendor.

Temuan ini memperlihatkan bahwa risiko keamanan infrastruktur tidak selalu berasal dari kesalahan pengembangan software utama.

Komponen open-source, library, kernel, dan dependency yang digunakan dalam firmware juga dapat menjadi sumber kerentanan.

Dalam sejumlah kasus, pelaku ancaman diketahui mengeksploitasi celah sebelum perbaikan keamanan tersedia.

Kondisi tersebut dikenal sebagai serangan zero-day, ketika penyerang memanfaatkan kerentanan yang belum memiliki patch pada saat serangan berlangsung.

InfraTrust menekankan bahwa administrator tidak cukup hanya memasang pembaruan setelah kerentanan diumumkan.

Organisasi juga perlu melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah perangkat sebelumnya telah dikompromikan.

Hal ini penting karena pembaruan firmware tidak selalu menghapus akses tersembunyi, malware, atau perubahan konfigurasi yang sudah dilakukan penyerang.

PHP2Shell Menjadi Ancaman Baru bagi Firewall dan VPN

Laporan InfraTrust memberikan perhatian khusus terhadap PHP2Shell, dua kerentanan kritis pada PHP yang diumumkan pada Oktober 2026.

Kedua kerentanan tersebut dilacak sebagai CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619.

Keduanya memiliki skor CVSS 9.2 dan berpotensi memungkinkan Remote Code Execution (RCE) tanpa autentikasi pada kondisi yang rentan.

Proyek PHP telah merilis perbaikan keamanan pada 21 Oktober 2026 melalui pembaruan berikut.

Cabang PHPVersi Perbaikan
PHP 8.28.2.35
PHP 8.38.3.36
PHP 8.48.4.27
PHP 8.58.5.12

Selama ini, perhatian terhadap kerentanan PHP lebih banyak berfokus pada website dan aplikasi seperti WordPress, Drupal, serta Nextcloud.

Namun, PHP juga digunakan sebagai komponen internal berbagai perangkat infrastruktur jaringan.

Beberapa vendor mengintegrasikan PHP untuk menjalankan antarmuka administrasi berbasis web yang digunakan dalam konfigurasi firewall, VPN, dan perangkat jaringan lainnya.

Jika implementasi PHP yang digunakan terdampak PHP2Shell, antarmuka manajemen tersebut berpotensi menjadi jalur serangan.

Risikonya semakin besar apabila halaman administrasi dapat diakses langsung melalui internet.

Meski demikian, penggunaan PHP tidak otomatis membuat seluruh perangkat dari vendor terkait rentan.

Dampak aktual tetap bergantung pada versi PHP, konfigurasi perangkat, jalur pemrosesan input, dan komponen yang digunakan dalam firmware.

Mengapa Administrator Tidak Bisa Langsung Memperbarui PHP?

Berbeda dari server Linux yang memungkinkan administrator memperbarui PHP melalui package manager atau repository vendor, banyak network appliance menggunakan firmware terintegrasi.

Pada perangkat tersebut, PHP dapat dikompilasi langsung bersama komponen sistem operasi dan aplikasi manajemen.

Akibatnya, administrator tidak selalu memiliki akses untuk mengganti versi PHP secara terpisah.

Bahkan apabila akses shell tersedia, penggantian library atau runtime secara manual dapat menyebabkan ketidakcocokan dengan komponen internal perangkat.

Karena itu, pembaruan harus dilakukan melalui firmware atau software resmi yang disediakan produsen.

Situasi tersebut menciptakan ketergantungan terhadap siklus pengembangan patch masing-masing vendor.

Setelah proyek PHP merilis perbaikan, produsen appliance masih perlu mengintegrasikan patch, melakukan pengujian, dan menerbitkan firmware baru.

Proses ini dapat menyebabkan jeda antara ketersediaan patch upstream dan pembaruan yang dapat dipasang pelanggan.

InfraTrust mencatat bahwa Palo Alto Networks, F5, Citrix NetScaler, Check Point, dan QNAP telah mengidentifikasi produk tertentu yang terdampak PHP2Shell.

Pada 24 Oktober 2026, sejumlah perbaikan mulai tersedia.

QNAP telah menyediakan pembaruan untuk QTS, QuTS hero, dan QuTScloud, sedangkan Check Point merilis hotfix untuk beberapa cabang software.

HPE juga menerbitkan pembaruan ClearPass yang menangani sebagian dampak kerentanan tersebut.

Namun, status pembaruan tidak sama untuk seluruh produk. Administrator tetap perlu memeriksa security advisory terbaru sesuai model perangkat dan versi firmware yang digunakan.

Citrix NetScaler Jadi Salah Satu Prioritas Tertinggi

Selain PHP2Shell, InfraTrust menyoroti sejumlah kerentanan yang telah dieksploitasi pada perangkat Citrix NetScaler ADC dan NetScaler Gateway.

Dua kerentanan yang mendapat perhatian utama adalah CVE-2026-88771 dan CVE-2026-88772.

Kedua celah tersebut diumumkan pada 27 September 2026 setelah aktivitas eksploitasi terhadap perangkat yang belum mendapatkan mitigasi terdeteksi.

CISA kemudian memasukkan keduanya ke dalam katalog KEV.

NetScaler banyak digunakan untuk application delivery, load balancing, serta akses jarak jauh ke aplikasi perusahaan.

Karena sering ditempatkan pada perimeter jaringan, perangkat tersebut dapat menjadi target awal bagi penyerang yang ingin memperoleh akses ke infrastruktur internal.

InfraTrust juga mencatat CVE-2026-88779, kerentanan lain pada NetScaler yang memengaruhi perangkat dengan konfigurasi Security Assertion Markup Language (SAML) tertentu.

Kerentanan tersebut dapat menyebabkan denial of service dan telah ditambahkan ke katalog KEV setelah eksploitasi terdeteksi.

Selain memasang patch, organisasi yang menggunakan NetScaler disarankan memeriksa kemungkinan kompromi sebelum dan sesudah pembaruan.

Hal ini diperlukan karena penyerang yang telah berhasil memperoleh akses mungkin meninggalkan mekanisme persistensi pada perangkat.

Ivanti Connect Secure Rentan terhadap Eksekusi Perintah Jarak Jauh

Produk VPN Ivanti Connect Secure juga menjadi salah satu perhatian utama dalam laporan InfraTrust.

Kerentanan CVE-2026-104935 memungkinkan penyerang tanpa autentikasi menjalankan perintah arbitrer pada gateway VPN yang rentan.

Celah tersebut memiliki skor CVSS 8.6 dan telah dikonfirmasi dieksploitasi terhadap sejumlah pelanggan Ivanti.

Kerentanan ini diumumkan pada 13 Oktober 2026 dan kemudian masuk dalam katalog CISA KEV.

Ivanti Connect Secure merupakan solusi remote access yang digunakan organisasi untuk memberikan konektivitas aman kepada karyawan dan pengguna dari luar jaringan kantor.

Karena berfungsi sebagai pintu masuk menuju infrastruktur internal, kompromi pada VPN gateway dapat menimbulkan dampak yang luas.

Penyerang yang berhasil mengeksploitasi perangkat mungkin dapat menggunakan akses tersebut sebagai langkah awal untuk melakukan aktivitas lanjutan di dalam jaringan organisasi.

InfraTrust menempatkan Ivanti Connect Secure bersama Citrix NetScaler sebagai perangkat yang harus mendapatkan prioritas pembaruan tertinggi.

Check Point Security Management Server Juga Menjadi Target

Kerentanan lain yang disoroti adalah CVE-2026-93616 pada Check Point Security Management Server.

Celah ini memiliki skor CVSS 9.8 dan memungkinkan penyerang tanpa autentikasi mengunggah serta menjalankan script berbahaya pada sistem manajemen yang terdampak.

Produk yang berpotensi terkena dampak mencakup Security Management Server, Multi-Domain Security Management Server, serta beberapa sistem logging dan SmartEvent.

Check Point mengungkap bahwa aktivitas serangan terarah telah diamati sejak Juli 2026, sebelum perbaikan tersedia.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena Security Management Server memiliki peran penting dalam pengelolaan kebijakan firewall.

Apabila sistem manajemen berhasil dikompromikan, risikonya dapat melampaui satu perangkat jaringan.

Penyerang berpotensi memperoleh akses terhadap informasi konfigurasi keamanan yang digunakan untuk melindungi infrastruktur organisasi.

Karena itu, InfraTrust merekomendasikan pembaruan segera sekaligus pemeriksaan terhadap aktivitas administrasi dan perubahan konfigurasi yang mencurigakan.

Cisco Catalyst SD-WAN Manager Mengalami Authentication Bypass

Pada produk Cisco, InfraTrust menyoroti CVE-2026-76504 yang memengaruhi Catalyst SD-WAN Manager.

Kerentanan dengan skor CVSS 9.8 ini memungkinkan penyerang tanpa autentikasi melewati mekanisme pemeriksaan akses pada endpoint API tertentu.

Menurut advisory Cisco, request HTTP yang dibentuk secara khusus dapat melewati aturan autentikasi dan memberikan akses administrator terhadap management API.

Cisco mengonfirmasi bahwa aktivitas eksploitasi telah diketahui sejak September 2026.

Celah tersebut kemudian dimasukkan ke katalog KEV.

SD-WAN Manager merupakan komponen penting dalam pengelolaan jaringan Software-Defined Wide Area Network.

Dalam lingkungan enterprise, sistem ini dapat digunakan untuk mengonfigurasi dan mengelola konektivitas jaringan pada berbagai lokasi.

Akses administrator tidak sah terhadap platform tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap integritas konfigurasi serta keamanan jaringan yang dikelola.

Arista VeloCloud Orchestrator Memiliki Celah dengan Skor CVSS 10.0

InfraTrust juga menyoroti kerentanan kritis pada Arista VeloCloud Orchestrator.

Kerentanan CVE-2026-93952 memiliki skor maksimum CVSS 10.0 dan telah dikonfirmasi dieksploitasi.

VeloCloud Orchestrator merupakan sistem manajemen yang digunakan untuk mengonfigurasi perangkat SD-WAN Edge dalam suatu deployment.

Pada konfigurasi yang terdampak, penyerang dapat mengeksploitasi kelemahan tersebut melalui antarmuka web dengan memenuhi kondisi teknis tertentu, termasuk akses terhadap informasi sertifikat yang relevan.

Arista telah menerbitkan security advisory dan pembaruan untuk menangani masalah tersebut.

Namun, risiko pada produk ini tidak berhenti pada satu kerentanan.

Pada 22 Oktober 2026, Arista kembali mengumumkan CVE-2026-114625, celah berbeda yang juga telah dieksploitasi.

Kerentanan kedua tersebut memungkinkan pengguna dengan akses portal tertentu, termasuk peran dengan hak terbatas, menjangkau fungsi internal yang lebih sensitif.

Karena kedua kerentanan berbeda, administrator yang telah memasang patch untuk CVE-2026-93952 tetap perlu memastikan perangkatnya terlindungi dari CVE-2026-114625.

InfraTrust menekankan pentingnya pemeriksaan versi software berdasarkan advisory terbaru Arista.

FortiMail dan Cisco Secure Email Gateway Ikut Terdampak

Perangkat keamanan email juga menjadi sasaran eksploitasi.

Pada Fortinet FortiMail, kerentanan CVE-2026-104286 memungkinkan penyerang tanpa autentikasi melakukan penulisan file arbitrer melalui antarmuka web.

Celah tersebut merupakan kerentanan path traversal dengan skor CVSS 9.8.

Fortinet mengonfirmasi adanya eksploitasi aktif dan telah menyediakan pembaruan keamanan.

Sementara itu, Cisco Secure Email Gateway memiliki kerentanan CVE-2026-76519 yang juga mendapatkan skor CVSS 9.8.

Dalam konfigurasi yang terdampak, penyerang dapat mengirim email dengan attachment yang dibuat secara khusus untuk memicu penulisan file dan eksekusi perintah menggunakan hak akses root.

Kerentanan tersebut berkaitan dengan komponen pemrosesan konten dan fitur File Reputation pada sistem yang memenuhi kondisi rentan.

Cisco mengonfirmasi adanya eksploitasi pada Oktober 2026.

Kasus kedua produk ini menunjukkan bahwa gateway keamanan email, yang seharusnya melindungi organisasi dari ancaman berbahaya, juga dapat menjadi titik masuk serangan apabila memiliki kerentanan.

Karena itu, keamanan email gateway tidak cukup hanya bergantung pada kemampuan mendeteksi spam atau malware.

Pembaruan firmware, pembatasan akses administrasi, dan pemantauan integritas sistem juga perlu menjadi bagian dari strategi keamanan.

F5 BIG-IP APM dan PAN-OS Masuk Daftar Perhatian

InfraTrust turut mencatat kerentanan pada F5 BIG-IP Access Policy Manager (APM) serta antarmuka manajemen Palo Alto Networks PAN-OS.

Pada F5 BIG-IP APM, CVE-2026-94127 merupakan kerentanan heap overflow dengan skor CVSS 9.8 yang dapat memungkinkan Remote Code Execution tanpa autentikasi.

Namun, dampaknya terbatas pada konfigurasi tertentu ketika BIG-IP APM digunakan sebagai OAuth authorization server.

Tidak semua deployment BIG-IP APM otomatis terdampak.

F5 telah mengonfirmasi adanya eksploitasi terhadap kerentanan tersebut.

Sementara itu, Palo Alto Networks melaporkan eksploitasi CVE-2026-0322 pada antarmuka manajemen PAN-OS.

Kerentanan ini memungkinkan administrator yang telah terautentikasi dan memiliki akses jaringan menjalankan kode dengan hak akses root pada sistem yang rentan.

Celah tersebut memengaruhi konfigurasi tertentu pada firewall PA-Series, VM-Series, dan Panorama.

Berbeda dari sejumlah kerentanan lain, eksploitasi CVE-2026-0322 membutuhkan autentikasi administrator.

Meski demikian, risikonya tetap serius apabila kredensial administratif berhasil dicuri atau disalahgunakan.

PHP2Shell Perlihatkan Risiko Komponen Open-Source dalam Firmware

Salah satu kesimpulan penting InfraTrust adalah meningkatnya risiko keamanan dari komponen software pihak ketiga yang digunakan dalam firmware.

Produsen perangkat jaringan tidak selalu mengembangkan seluruh software secara mandiri.

Banyak produk menggunakan Linux kernel, PHP, OpenSSL, library kompresi, dan berbagai komponen open-source lainnya.

Ketika kerentanan ditemukan pada salah satu komponen tersebut, dampaknya dapat meluas ke banyak produk dari vendor berbeda.

PHP2Shell menjadi contoh bagaimana satu kelompok kerentanan pada runtime populer dapat memengaruhi berbagai jenis sistem.

Pada server Linux biasa, administrator mungkin dapat memasang patch melalui repository distribusi.

Namun, pada appliance dengan firmware terintegrasi, proses pembaruan bergantung pada vendor perangkat.

Situasi ini menjadi lebih kompleks apabila perangkat menggunakan versi software yang sudah mencapai End of Life.

Dalam kondisi tersebut, produsen mungkin harus melakukan backport patch secara khusus atau menyediakan pembaruan firmware yang lebih besar.

InfraTrust merekomendasikan agar organisasi memiliki inventaris komponen software yang digunakan perangkat mereka.

Salah satu pendekatan adalah meminta Software Bill of Materials (SBOM) kepada vendor.

SBOM merupakan daftar komponen dan dependency software yang digunakan dalam suatu produk.

Dengan informasi tersebut, administrator dapat mengidentifikasi produk yang mungkin terdampak ketika kerentanan baru ditemukan pada library atau framework tertentu.

Kerentanan Linux Copy Fail Muncul di Banyak Vendor

Selain PHP2Shell, laporan InfraTrust menyoroti CVE-2026-31431, kerentanan Linux kernel yang dikenal sebagai Copy Fail.

Kerentanan ini berkaitan dengan peningkatan hak akses atau privilege escalation pada sistem Linux yang terdampak.

CISA telah memasukkan CVE-2026-31431 ke dalam katalog KEV pada 1 Mei 2026.

InfraTrust menemukan bahwa kerentanan tersebut kini muncul dalam 29 security advisory dari delapan vendor.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan laporan bulan sebelumnya yang mencatat 19 advisory dari enam vendor.

Perkembangan ini menunjukkan bagaimana satu kerentanan pada komponen dasar seperti Linux kernel dapat muncul berulang kali dalam produk berbeda.

Masing-masing vendor perlu melakukan evaluasi dan menyediakan pembaruan sesuai versi kernel atau implementasi yang digunakan.

InfraTrust juga menemukan contoh serupa pada komponen lama.

Salah satunya adalah kerentanan Android kernel yang memengaruhi printer HP LaserJet Enterprise.

Selain itu, terdapat kerentanan jQuery dari 2020 yang masih tercatat dalam software Dell Data Lakehouse.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa usia sebuah kerentanan tidak selalu berkorelasi dengan hilangnya risiko.

Komponen lama yang tetap digunakan dalam produk aktif masih dapat menjadi sumber ancaman apabila belum diperbaiki.

Fortinet Rilis Pembaruan Tambahan pada 22 Oktober

Di luar periode statistik utama laporan, InfraTrust juga memberikan perhatian terhadap pembaruan keamanan Fortinet yang dirilis pada 22 Oktober 2026.

Pembaruan tersebut mencakup FortiOS, FortiManager, dan FortiAnalyzer.

Menurut Fortinet, update ini menangani sejumlah kerentanan Critical dan High yang ditemukan melalui proses pengujian internal, termasuk penggunaan model AI canggih.

Namun, rincian teknis dan nomor CVE untuk sebagian perbaikan tersebut belum dipublikasikan pada saat laporan InfraTrust diterbitkan.

Fortinet menjadwalkan publikasi advisory lengkap pada 10 November 2026.

Pendekatan ini dilakukan untuk memberikan waktu kepada pelanggan memasang pembaruan sebelum informasi teknis kerentanan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan exploit.

Fortinet mengingatkan bahwa penyerang kini dapat menggunakan alat berbasis AI untuk melakukan analisis perbedaan antara firmware lama dan baru.

Melalui teknik tersebut, pelaku berpotensi mengidentifikasi bagian kode yang telah diperbaiki dan mengembangkan metode eksploitasi.

Karena itu, Fortinet meminta pelanggan memprioritaskan pembaruan, terutama pada perangkat yang dapat diakses melalui internet.

Infrastruktur AI dan Data Center Juga Memiliki Risiko

Laporan InfraTrust tidak hanya berfokus pada firewall dan VPN.

Eclypsium juga menyoroti kerentanan pada komponen yang digunakan untuk mengelola infrastruktur artificial intelligence dan data center.

Salah satunya adalah CVE-2026-65113 pada NVIDIA Infrastructure Controller.

Kerentanan tersebut memiliki skor CVSS 9.8 dan berkaitan dengan penggunaan kredensial yang tertanam secara permanen atau hard-coded credentials.

Pada sistem yang terdampak, penyerang tanpa autentikasi berpotensi memanfaatkan kelemahan tersebut melalui jaringan.

NVIDIA Infrastructure Controller digunakan untuk mendukung pengelolaan siklus hidup server bare-metal dalam lingkungan AI.

Karena itu, kompromi terhadap komponen manajemen berpotensi memengaruhi keamanan sistem yang menjalankan GPU cluster.

InfraTrust juga menyoroti kerentanan pada firmware NVIDIA BlueField dan ConnectX serta sejumlah driver GPU data center.

Namun, laporan tersebut membedakan antara kerentanan yang telah dieksploitasi secara aktif dan kerentanan yang belum memiliki bukti eksploitasi.

Untuk sejumlah masalah pada infrastruktur NVIDIA yang dibahas, InfraTrust belum menemukan bukti eksploitasi aktif.

Artinya, pembaruan tetap diperlukan, tetapi tingkat urgensinya perlu disesuaikan dengan kondisi penggunaan dan paparan jaringan.

Administrator Diminta Menutup Akses Management Interface dari Internet

Salah satu rekomendasi paling penting dari InfraTrust adalah membatasi akses terhadap antarmuka manajemen perangkat jaringan.

Menurut peneliti, administrator sebaiknya memastikan bahwa halaman administrasi firewall, VPN appliance, Application Delivery Controller, dan perangkat infrastruktur lainnya tidak dapat diakses secara bebas melalui internet.

Rekomendasi tersebut menjadi semakin penting ketika vendor belum menyediakan patch untuk kerentanan yang baru ditemukan.

Antarmuka manajemen merupakan komponen sensitif karena sering memberikan akses untuk mengubah konfigurasi keamanan, mengelola pengguna, serta memantau aktivitas perangkat.

Apabila penyerang berhasil memperoleh akses administratif, dampaknya dapat meluas ke berbagai sistem yang dilindungi perangkat tersebut.

Organisasi disarankan menggunakan jaringan manajemen terpisah, membatasi alamat IP yang diizinkan, serta menerapkan VPN atau mekanisme akses administratif yang aman sesuai kebutuhan.

Selain itu, administrator perlu memastikan bahwa akses manajemen hanya tersedia bagi personel yang memang membutuhkan.

Penggunaan autentikasi multifaktor juga dapat membantu mengurangi risiko penyalahgunaan kredensial, meskipun tidak menggantikan patch untuk kerentanan yang dapat dieksploitasi tanpa autentikasi.

Untuk perangkat yang menggunakan PHP dalam antarmuka manajemen, pembatasan akses menjadi mitigasi penting selama pembaruan vendor belum tersedia.

Namun, tindakan tersebut tidak otomatis menghilangkan seluruh risiko apabila perangkat memiliki layanan lain yang masih dapat dieksploitasi.

Prioritas Pembaruan untuk Firewall, VPN, dan Perangkat Jaringan

Berdasarkan temuan laporan, InfraTrust menyarankan administrator memprioritaskan perangkat yang memiliki riwayat eksploitasi aktif dan memberikan akses langsung ke jaringan organisasi.

Citrix NetScaler dan Ivanti Connect Secure menjadi prioritas tertinggi karena keduanya merupakan perangkat remote access yang sering ditempatkan pada perimeter jaringan.

Fortinet juga meminta pelanggan segera memasang pembaruan FortiOS, FortiManager, dan FortiAnalyzer yang dirilis pada 22 Oktober, terutama untuk perangkat yang terhubung langsung ke internet.

Setelah itu, InfraTrust merekomendasikan penanganan terhadap Check Point Security Management Server, Cisco Catalyst SD-WAN Manager, dan Arista VeloCloud Orchestrator.

Perangkat FortiMail, Cisco Secure Email Gateway, F5 BIG-IP APM dengan konfigurasi yang terdampak, serta antarmuka manajemen PAN-OS juga masuk dalam daftar prioritas.

Namun, urutan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing organisasi.

Perangkat yang tidak digunakan atau tidak menjalankan konfigurasi rentan tentu memiliki tingkat risiko berbeda dibandingkan perangkat produksi yang dapat diakses melalui internet.

Administrator sebaiknya menggabungkan informasi CVSS, status eksploitasi, paparan jaringan, dan peran perangkat dalam operasional bisnis untuk menentukan prioritas perbaikan.

Selain pemasangan patch, pemeriksaan log, perubahan konfigurasi, akun administrator baru, serta indikasi akses tidak sah juga perlu dilakukan.

Pada sistem yang diketahui telah menjadi target eksploitasi aktif, proses incident response sebaiknya berjalan bersamaan dengan pembaruan firmware.

Keamanan Infrastruktur Jaringan Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Patch

Laporan InfraTrust Pulse Oktober 2026 menunjukkan bahwa ancaman keamanan terhadap infrastruktur jaringan semakin kompleks.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, InfraTrust mencatat 2.813 kerentanan dari 133 security advisory yang diterbitkan 18 vendor.

Sebagian kerentanan tersebut telah dieksploitasi oleh pelaku ancaman, termasuk pada perangkat yang memiliki peran penting dalam mengamankan jaringan perusahaan.

Kasus PHP2Shell juga memperlihatkan bagaimana satu komponen software yang digunakan secara luas dapat menimbulkan risiko pada berbagai jenis perangkat.

Ketika PHP terintegrasi langsung ke firmware, administrator tidak selalu memiliki keleluasaan untuk melakukan pembaruan secara mandiri.

Kondisi tersebut membuat keamanan perangkat tidak hanya bergantung pada pengguna, tetapi juga pada kemampuan vendor menyediakan patch tepat waktu.

Bagi organisasi yang mengelola firewall, VPN gateway, sistem manajemen jaringan, maupun infrastruktur data center, langkah terpenting adalah memastikan seluruh perangkat tercatat dalam inventaris dan menggunakan software yang masih memperoleh dukungan keamanan.

Akses administratif juga perlu dibatasi agar tidak dapat dijangkau secara bebas melalui internet.

Selain itu, organisasi perlu memantau security advisory vendor secara berkala dan memeriksa kemungkinan kompromi ketika kerentanan diketahui telah dieksploitasi.

Dengan meningkatnya jumlah ancaman terhadap perangkat perimeter dan sistem manajemen, keamanan infrastruktur kini menuntut pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari pengelolaan dependency software, pembaruan firmware, segmentasi jaringan, hingga pemantauan aktivitas mencurigakan.

Temuan InfraTrust menjadi pengingat bahwa perangkat yang berfungsi melindungi jaringan juga dapat berubah menjadi titik masuk serangan apabila kerentanannya tidak ditangani dengan cepat.


Sumber: InfraTrust — InfraTrust Pulse October 2026: What to Patch First

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button