GMO Jepang Minta Pelanggan Matikan Komputer Usai Ancaman Ransomware, Data Pelanggan Bocor

GMO Internet Group, salah satu perusahaan internet terbesar di Jepang, mengeluarkan peringatan darurat kepada pelanggan untuk memutus koneksi internet dan mematikan komputer setelah pelaku serangan siber mengancam akan mengaktifkan ransomware pada perangkat yang sebelumnya telah dikompromikan.
Peringatan tersebut disampaikan pada 27 Oktober 2026, menyusul serangan terhadap layanan Onamae Desktop Cloud yang dioperasikan GMO Internet, anak perusahaan GMO Internet Group.
Insiden ini sebelumnya dilaporkan berpotensi memengaruhi hingga 26.739 server pelanggan, setelah perusahaan menemukan adanya akses tidak sah yang memungkinkan penyerang memasang malware pada lingkungan server berbasis cloud.
Situasi semakin serius ketika pelaku mengancam akan memublikasikan informasi pelanggan dan menjalankan serangan ransomware secara serentak pada 27 Oktober pukul 12.00 waktu Jepang.
GMO kemudian mengonfirmasi bahwa informasi yang diklaim berkaitan dengan perusahaan dan pelanggannya telah dipublikasikan secara online. Namun, hingga pembaruan yang dirilis pada sore hari tanggal tersebut, perusahaan belum menemukan bukti bahwa ransomware telah diaktifkan.
Serangan Onamae Desktop Cloud Berpotensi Berdampak pada 26.739 Server
Serangan terhadap Onamae Desktop Cloud pertama kali terdeteksi pada 20 Oktober 2026, ketika GMO menemukan aktivitas penyusupan pada infrastruktur layanan virtual desktop miliknya.
Onamae Desktop Cloud merupakan layanan berbasis Virtual Private Server (VPS) yang menyediakan lingkungan Windows desktop jarak jauh bagi pelanggan di Jepang.
Layanan ini banyak digunakan untuk menjalankan aplikasi yang membutuhkan koneksi berkelanjutan, termasuk platform perdagangan finansial seperti MetaTrader 4 dan MetaTrader 5 (MT4/MT5).
Berdasarkan investigasi awal, penyerang diduga berhasil memperoleh akses ke lingkungan layanan dan berpotensi memasang program berbahaya pada server pelanggan.
GMO memperkirakan sebanyak 26.739 server dapat terdampak oleh insiden tersebut.
Untuk mencegah penyebaran ancaman dan membatasi kemungkinan kerusakan lebih lanjut, perusahaan memutuskan menghentikan sebagian layanan serta menonaktifkan server pelanggan secara bertahap mulai 21 Oktober.
Langkah ini menyebabkan gangguan operasional bagi pengguna yang mengandalkan Onamae Desktop Cloud untuk menjalankan aplikasi dan mengakses lingkungan kerja mereka.
Pada tahap awal, GMO menyatakan belum menemukan bukti penyalahgunaan informasi pribadi pelanggan. Namun, perkembangan investigasi berikutnya mengonfirmasi bahwa sebagian informasi telah berhasil dikeluarkan dari lingkungan layanan.
Perusahaan juga mengingatkan bahwa informasi akun trading, termasuk credentials MetaTrader dan detail akun perdagangan, berpotensi telah terekspos.
Meski begitu, GMO menegaskan bahwa informasi pembayaran pelanggan, termasuk data kartu kredit, tidak disimpan oleh perusahaan sehingga tidak termasuk dalam kategori informasi yang dikelola melalui sistem tersebut.
Hacker Minta Tebusan 8 Miliar Yen dan Ancam Jalankan Ransomware
Serangan terhadap GMO kemudian berkembang menjadi upaya pemerasan berskala besar.
Pada 21 Oktober, perusahaan menerima pesan ancaman dari pelaku yang meminta pembayaran sekitar 8 miliar yen atau setara US$50 juta.
Pelaku mengancam akan membocorkan informasi perusahaan dan pelanggan apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Ancaman tidak berhenti pada publikasi data. Penyerang juga mengklaim memiliki kemampuan untuk mengaktifkan ransomware yang sebelumnya telah ditanamkan pada sistem pelanggan.
Pada 26 Oktober, GMO menerima peringatan bahwa pelaku berencana menjalankan serangan tersebut pada 27 Oktober pukul 12.00 waktu setempat.
Perusahaan menanggapi ancaman itu dengan mengeluarkan serangkaian pemberitahuan keamanan kepada pelanggan.
GMO secara tegas menyatakan tidak akan memenuhi tuntutan pembayaran tebusan.
Menurut perusahaan, membayar pelaku tidak memberikan jaminan bahwa informasi yang telah dicuri benar-benar akan dihapus atau tidak disalahgunakan.
Pembayaran tebusan juga dinilai berpotensi mendukung kegiatan kriminal dan mendorong terjadinya serangan siber berikutnya.
GMO telah melibatkan aparat penegak hukum Jepang dan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk menangani insiden tersebut.
Pelanggan Diminta Putus Koneksi Internet dan Cabut Kabel Komputer
Menghadapi ancaman aktivasi ransomware, GMO mengeluarkan instruksi darurat kepada pelanggan Onamae Desktop Cloud pada pagi hari tanggal 27 Oktober.
Perusahaan meminta pengguna melakukan backup terhadap data penting, memutus seluruh koneksi jaringan, kemudian mematikan perangkat sebelum pukul 12.00 waktu Jepang.
Pelanggan juga diminta mencabut kabel yang terhubung ke komputer setelah perangkat dimatikan.
Instruksi tersebut merupakan langkah pencegahan sementara terhadap kemungkinan adanya malware yang telah masuk ke perangkat pelanggan melalui koneksi dengan lingkungan Onamae Desktop Cloud.
Selain mematikan perangkat, GMO meminta pelanggan menjalankan pemeriksaan antivirus secara menyeluruh menggunakan metode full system scan, bukan hanya quick scan.
Perusahaan juga menyarankan agar backup disimpan pada media eksternal yang tidak terus-menerus terhubung ke jaringan.
Langkah isolasi tersebut bertujuan membatasi kemungkinan komunikasi malware dengan infrastruktur penyerang dan mengurangi risiko penyebaran ancaman melalui koneksi jaringan.
Namun, memutus koneksi internet dan mematikan komputer tidak secara otomatis menghapus malware yang mungkin sudah terpasang.
Karena itu, perangkat yang berpotensi terdampak tetap memerlukan pemeriksaan keamanan sebelum digunakan kembali.
GMO Libatkan Tim Keamanan dan Trend Micro untuk Investigasi
GMO mengerahkan tim internal yang terdiri dari pakar keamanan dan white-hat hacker untuk menganalisis perangkat pelanggan yang diduga terdampak.
Sejak 25 Oktober, perusahaan mulai meminta kesediaan pelanggan untuk menyerahkan perangkat yang sebelumnya digunakan mengakses Onamae Desktop Cloud.
Petugas GMO mendatangi pelanggan di berbagai wilayah Jepang untuk mengambil perangkat yang akan diperiksa.
Analisis difokuskan pada kemungkinan adanya malware, termasuk ransomware, serta upaya menemukan metode pemulihan yang aman.
GMO juga menerima tawaran bantuan dari sejumlah perusahaan keamanan siber dan teknologi, termasuk Trend Micro.
Perusahaan menyatakan sedang mengoordinasikan bentuk kerja sama teknis untuk memanfaatkan keahlian para mitra dalam proses investigasi dan pemulihan.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan apakah ancaman ransomware yang disampaikan pelaku benar-benar didukung oleh keberadaan malware aktif pada perangkat pelanggan.
GMO juga menyatakan akan memberikan perangkat pengganti dengan spesifikasi setara kepada pelanggan yang mengalami kerusakan komputer akibat serangan ransomware.
Data Perusahaan dan Pelanggan Dipublikasikan Penyerang
Pada 27 Oktober pukul 12.30 waktu Jepang, GMO mengonfirmasi telah menemukan publikasi informasi secara online oleh pihak yang diduga bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Informasi yang dipublikasikan diklaim mencakup data perusahaan dan pelanggan Onamae Desktop Cloud.
Namun, GMO menegaskan bahwa seluruh materi yang beredar masih harus diperiksa karena terdapat kemungkinan sebagian informasi tidak akurat.
Perusahaan belum mengungkapkan rincian lengkap mengenai jenis data yang dipublikasikan maupun jumlah pelanggan yang benar-benar terdampak kebocoran tersebut.
GMO menyatakan akan menghubungi pelanggan secara individual apabila hasil verifikasi menunjukkan bahwa informasi mereka termasuk dalam data yang terekspos.
Perusahaan juga memperingatkan masyarakat agar tidak mengakses situs kebocoran data yang digunakan penyerang.
Menurut GMO, pelaku dapat mengumpulkan informasi mengenai pengunjung yang membuka halaman tersebut, sehingga akses terhadap situs kebocoran berpotensi menimbulkan risiko keamanan tambahan.
GMO bahkan menyatakan sedang mempersiapkan langkah hukum terhadap pihak yang dengan sengaja menyebarluaskan informasi sensitif pelanggan dan menyebabkan kerugian lanjutan.
Sementara itu, ancaman aktivasi ransomware yang sebelumnya dijadwalkan pada pukul 12.00 tidak terbukti terjadi berdasarkan pemeriksaan perusahaan hingga pukul 13.55 waktu Jepang.
Meski demikian, GMO menegaskan bahwa pemantauan keamanan masih dilanjutkan.
GMO Siapkan Kompensasi 5.000 Yen untuk Pelanggan
Sebagai bentuk tanggung jawab atas gangguan layanan, GMO mengumumkan pemberian kompensasi sebesar 5.000 yen kepada setiap pelanggan aktif Onamae Desktop Cloud.
Kompensasi tersebut diberikan tanpa memandang apakah pelanggan mengalami kerugian finansial secara langsung.
Selain itu, perusahaan menyatakan akan menanggung kerugian tertentu akibat transaksi tidak sah pada akun perdagangan pelanggan, sepanjang investigasi membuktikan bahwa transaksi tersebut merupakan dampak langsung dari insiden keamanan.
GMO juga mulai mempertimbangkan kompensasi tambahan bagi pelanggan yang informasi pribadinya terbukti telah dipublikasikan oleh penyerang.
Untuk pemulihan layanan, perusahaan memutuskan tidak mengaktifkan kembali infrastruktur lama yang telah mengalami kompromi.
Sebagai gantinya, GMO akan menawarkan layanan alternatif yang dijalankan pada infrastruktur cloud terpisah dan telah melalui evaluasi keamanan.
Pelanggan yang memilih bermigrasi ke layanan tersebut akan memperoleh masa penggunaan gratis selama enam bulan.
Keputusan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk membangun kembali lingkungan operasional dengan arsitektur keamanan yang lebih kuat.
Pengguna MetaTrader Diimbau Mengganti Password dan Mengamankan Akun
Selain ancaman ransomware, GMO mengingatkan pelanggan terhadap potensi penyalahgunaan akun perdagangan finansial.
Pengguna MetaTrader 4 dan MetaTrader 5 disarankan segera mengganti password serta menghentikan seluruh sesi login yang masih aktif.
Perusahaan juga merekomendasikan perubahan credentials pada akun email, layanan Google, platform perdagangan saham, maupun layanan keuangan lain yang sebelumnya diakses melalui Onamae Desktop Cloud.
Seluruh proses penggantian password disarankan dilakukan menggunakan perangkat lain yang telah dipastikan aman.
Pengguna juga perlu mengaktifkan multi-factor authentication (MFA), memeriksa aplikasi terhubung yang tidak dikenal, serta menghapus konfigurasi email forwarding atau browser extension yang mencurigakan.
Untuk akun finansial, pemeriksaan riwayat transaksi menjadi langkah penting guna mendeteksi aktivitas perdagangan yang tidak dilakukan oleh pemilik akun.
GMO turut memperingatkan pelanggan mengenai kemungkinan munculnya serangan phishing yang memanfaatkan situasi tersebut.
Penyerang dapat menyamar sebagai staf GMO, perusahaan keamanan, maupun lembaga resmi dengan menawarkan bantuan pemulihan data atau pengembalian dana.
Perusahaan menegaskan bahwa pelanggan tidak akan diminta memberikan password atau kode autentikasi melalui komunikasi semacam itu.
Serangan GMO Tunjukkan Risiko Keamanan pada Layanan Cloud
Insiden Onamae Desktop Cloud memperlihatkan bagaimana kompromi terhadap satu penyedia layanan cloud dapat menimbulkan dampak yang meluas hingga ke lingkungan pelanggan.
Ketika sebuah platform menyediakan akses remote desktop yang terhubung dengan akun penting, aplikasi finansial, dan data pengguna, penyusupan pada infrastruktur penyedia layanan dapat membuka risiko tambahan di luar server yang menjadi target awal.
Ancaman ransomware dalam kasus GMO juga menunjukkan bahwa penyerang dapat menggunakan kekhawatiran terhadap kemungkinan kerusakan sistem sebagai alat tekanan, bahkan ketika aktivasi ransomware yang dijanjikan belum terjadi.
Bagi penyedia VPS dan layanan cloud, insiden ini menegaskan pentingnya segmentasi jaringan, pembatasan akses administratif, pemantauan aktivitas mencurigakan, serta penerapan mekanisme pemulihan yang tidak bergantung pada sistem produksi yang telah dikompromikan.
Sementara itu, pelanggan disarankan untuk tidak sepenuhnya bergantung pada keamanan penyedia layanan. Perlindungan kredensial, backup terpisah, dan pemantauan aktivitas akun tetap menjadi tanggung jawab penting dalam penggunaan infrastruktur cloud.
Hingga pembaruan resmi pada 27 Oktober 2026, GMO telah mengonfirmasi adanya pencurian dan publikasi informasi terkait insiden tersebut, tetapi belum menemukan bukti aktivasi ransomware pada perangkat pelanggan sesuai ancaman pelaku.
Investigasi masih berlangsung untuk memastikan cakupan kompromi, mengidentifikasi data yang benar-benar terdampak, dan menentukan langkah pemulihan lanjutan.
Sumber: GMO Internet Group – Pembaruan Insiden Keamanan Onamae Desktop Cloud








