Coca-Cola Konfirmasi Pencurian Data dalam Serangan Ransomware Fairlife

The Coca-Cola Company mengonfirmasi bahwa data milik anak usahanya, Fairlife, berhasil dicuri dalam serangan ransomware yang terjadi pada awal Juli 2026. Insiden tersebut sebelumnya telah menyebabkan gangguan pada operasional produksi perusahaan di Amerika Serikat.
Dalam pernyataan terbarunya, Coca-Cola menyebut proses pemulihan sistem masih berlangsung. Meski demikian, sebagian besar fasilitas produksi di Amerika Serikat kini telah kembali beroperasi.
Produksi Sempat Terganggu
Serangan siber ini pertama kali diungkap Coca-Cola melalui laporan kepada U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) pada 16 Juli 2026. Saat itu, perusahaan menjelaskan bahwa serangan ransomware telah mengganggu operasional produksi Fairlife.
Fairlife merupakan produsen susu ultra-filtrasi, minuman protein, dan produk nutrisi yang memiliki empat fasilitas produksi di Amerika Serikat. Perusahaan ini juga mencatat penjualan ritel tahunan lebih dari 1 miliar dolar AS.
Kelompok Anubis Mengklaim Bertanggung Jawab
Beberapa hari setelah insiden terungkap, kelompok ransomware Anubis mengklaim sebagai pelaku serangan. Mereka memasukkan Fairlife ke dalam daftar korban di situs pemerasan (extortion site) miliknya.
Kelompok tersebut mengaku telah mencuri sekitar 1 terabyte data perusahaan dan mengancam akan mempublikasikannya apabila Fairlife tidak membayar uang tebusan.
Anubis juga mengklaim telah mengenkripsi sistem Nutanix milik Fairlife sehingga data tidak dapat dipulihkan tanpa kunci dekripsi.
Coca-Cola Akui Terjadi Pencurian Data
Dalam pernyataan resmi terbarunya, Coca-Cola membenarkan bahwa pihak ketiga yang tidak berwenang berhasil memperoleh akses ke sebagian sistem perusahaan dan mengambil sejumlah data.
Perusahaan juga mengonfirmasi bahwa insiden tersebut sempat menyebabkan penghentian sementara aktivitas produksi.
Namun, Coca-Cola tidak mengungkapkan jenis data yang dicuri maupun jumlah data yang terdampak.
Tidak Bernegosiasi dengan Pelaku
Setelah mengetahui adanya pelanggaran keamanan, Coca-Cola segera melaporkan insiden tersebut kepada pihak berwenang dan memilih untuk tidak mengikuti permintaan pelaku untuk melakukan negosiasi.
Sebelumnya, saat dimintai tanggapan terkait klaim kelompok Anubis, juru bicara Coca-Cola juga menolak memberikan komentar lebih lanjut.
Pasokan Produk Tetap Terjaga
Meski produksi sempat terhenti, Coca-Cola memastikan ketersediaan stok yang sudah ada mampu menutupi kekurangan pasokan selama proses pemulihan berlangsung.
Perusahaan juga menegaskan bahwa kualitas maupun keamanan seluruh produk Fairlife tidak pernah terdampak oleh insiden siber tersebut.
Sementara itu, batas waktu yang diberikan kelompok Anubis untuk pembayaran tebusan telah berakhir. Setelah tenggat tersebut habis, data yang diklaim dicuri dari Fairlife dilaporkan mulai dipublikasikan dan tersedia untuk diunduh di situs kelompok ransomware tersebut.
Insiden ini kembali menunjukkan bahwa serangan ransomware tidak hanya mengganggu operasional perusahaan, tetapi juga dapat berujung pada kebocoran data apabila pelaku berhasil memperoleh akses ke sistem internal.








