Botnet Dysphoria Infeksi 200.000 Perangkat dan Luncurkan Serangan DDoS Global

Sebuah botnet baru bernama Dysphoria dilaporkan telah menginfeksi sekitar 200.000 perangkat di berbagai negara dan digunakan untuk melancarkan serangan Distributed Denial of Service (DDoS) serta operasi relay lalu lintas internet.
Menurut laporan peneliti keamanan dari QiAnXin XLab, Dysphoria merupakan evolusi dari malware jackskid dan fbot, dengan kemampuan baru yang membuat infrastruktur pengendalinya jauh lebih sulit dideteksi maupun dibongkar.
Manfaatkan Blockchain untuk Menyembunyikan Server Pengendali
Salah satu keunggulan utama Dysphoria adalah penggunaan teknologi blockchain sebagai mekanisme command-and-control (C2).
Botnet ini memanfaatkan layanan Ethereum Name Service (ENS) dan Solana Name Service (SNS) untuk memperoleh informasi mengenai server pengendali. Selain itu, alamat server C2 juga disembunyikan dalam string IPv6 palsu dan dipulihkan menggunakan algoritma transformasi khusus.
Teknik ini membuat pelacakan infrastruktur botnet menjadi jauh lebih rumit dibandingkan botnet konvensional.
Terus Berkembang Sejak Awal 2026
Peneliti pertama kali mendeteksi Dysphoria pada 25 Maret 2026. Sejak saat itu, berbagai varian baru terus bermunculan dengan sejumlah peningkatan kemampuan.
Perubahan tersebut mencakup:
- Algoritma baru untuk memperoleh alamat server C2.
- Dukungan terhadap lebih dari satu jaringan blockchain.
- Penambahan domain baru.
- Pemisahan fungsi antara varian DDoS dan varian relay jaringan.
Menurut XLab, perkembangan teknis yang cepat menunjukkan bahwa operator botnet secara aktif meningkatkan kemampuan malware mereka agar lebih tangguh menghadapi upaya deteksi.
Digunakan untuk Serangan DDoS dan Relay Jaringan
Perangkat yang telah terinfeksi secara rutin mengirim paket login dan heartbeat ke server pengendali.
Sebagai balasannya, operator dapat mengirim berbagai instruksi, termasuk:
- Target serangan.
- Durasi serangan.
- Jenis serangan DDoS.
- Parameter tambahan sesuai kebutuhan.
Pada akhir Juni 2026, peneliti juga menemukan varian baru yang tidak lagi memiliki fungsi DDoS. Varian tersebut difokuskan untuk mengubah perangkat korban menjadi proxy jaringan, sehingga dapat digunakan untuk meneruskan lalu lintas internet tanpa sepengetahuan pemilik perangkat.
Untuk mencapai hal tersebut, malware memanfaatkan fitur Universal Plug and Play (UPnP) dan membuat hingga 155 aturan port forwarding, sehingga layanan internal perangkat dapat diakses dari internet.
Menyerang Router dan Perangkat IoT
Dysphoria menyebar melalui kombinasi kredensial Telnet dan SSH yang lemah serta eksploitasi berbagai celah keamanan pada router, kamera IP, dan perangkat Internet of Things (IoT).
Beberapa kerentanan yang menjadi sasaran antara lain:
- React2Shell (CVE-2025-55182)
- CVE-2025-34152
- CVE-2025-28137 pada perangkat Totolink
- CVE-2025-9528 pada router Linksys
Selain itu, botnet ini juga masih mengeksploitasi celah lama yang hingga kini belum ditambal pada banyak perangkat, termasuk kerentanan pada produk Huawei dan DrayTek.
Aktivitas Sangat Tinggi
Selama periode pemantauan pada pertengahan Juli 2026, XLab mencatat aktivitas yang sangat besar dari jaringan botnet ini.
Dalam satu hari, tercatat hingga 740.000 ping dari perangkat yang telah terinfeksi. Sebagian besar koneksi berasal dari luar China, dengan lebih dari 239.000 koneksi internasional, sementara sekitar 1.800 koneksi berasal dari wilayah China.
Berdasarkan data tersebut, peneliti memperkirakan jumlah perangkat yang telah menjadi bagian dari botnet saat ini mencapai sekitar 200.000 unit.
Operator Dysphoria juga mengklaim layanan mereka mampu menghasilkan serangan DDoS hingga 4 Tbps, meskipun angka tersebut masih berada di bawah rekor botnet terbesar yang pernah tercatat.
Cara Melindungi Perangkat
Untuk mengurangi risiko menjadi korban botnet seperti Dysphoria, pengguna disarankan selalu memperbarui firmware perangkat, mengganti kata sandi bawaan administrator dengan kombinasi yang kuat, menonaktifkan akses jarak jauh jika tidak diperlukan, serta mengaktifkan seluruh fitur keamanan yang tersedia.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu mencegah perangkat direkrut menjadi bagian dari botnet dan digunakan dalam aktivitas siber ilegal.








