Microsoft Akan Mengaktifkan Fitur Backup Pengaturan Windows Secara Default untuk Perangkat Enterprise

Microsoft mengumumkan bahwa fitur Windows Settings Backup and Restore akan diaktifkan secara default pada perangkat enterprise yang tergabung dalam Microsoft Entra maupun Microsoft Entra Hybrid Join setelah diperbarui ke Windows 11 versi 26H2.
Perubahan ini bertujuan mempermudah proses migrasi perangkat, penggantian PC, hingga pemulihan sistem dengan menyimpan pengaturan Windows pengguna secara otomatis.
Backup Pengaturan Kini Aktif Secara Default
Fitur yang sebelumnya dikenal sebagai Windows Backup for Organizations ini dirancang untuk membantu perusahaan mencadangkan dan memulihkan berbagai pengaturan Windows milik pengguna ketika perangkat:
- di-reset;
- diganti dengan perangkat baru;
- di-upgrade;
- atau di-reimage oleh administrator TI.
Microsoft pertama kali memperkenalkan fitur tersebut pada ajang Microsoft Ignite 2024 sebagai fitur opsional (nonaktif secara default). Setelah memasuki tahap Public Preview pada Mei 2025, fitur ini resmi tersedia secara umum (General Availability) pada Agustus 2025.
Sebelumnya, administrator harus mengaktifkan fitur ini secara manual melalui kebijakan (policy) setelah memasang pembaruan kumulatif Windows September 2025.
Namun mulai Windows 11 versi 26H2, perilaku default tersebut berubah.
Apabila administrator belum menentukan kebijakan backup secara eksplisit, Windows akan otomatis mengaktifkan fitur backup pengaturan pada perangkat yang memenuhi syarat.
Tetap Menghormati Kebijakan Administrator
Microsoft menegaskan bahwa perubahan ini tidak akan menimpa konfigurasi yang sudah dibuat administrator.
Apabila administrator sebelumnya telah:
- mengaktifkan backup secara manual; atau
- menonaktifkannya melalui kebijakan,
maka pengaturan tersebut tetap berlaku.
Dengan kata lain, fitur hanya akan aktif otomatis apabila kebijakan backup masih berada dalam kondisi Not Configured.
Hanya Berlaku untuk Perangkat Tertentu
Fitur default ini tidak akan diterapkan ke seluruh perangkat Windows 11.
Microsoft menetapkan beberapa persyaratan, yaitu:
- menjalankan Windows 11 versi 26H2;
- menggunakan Microsoft Entra Join atau Microsoft Entra Hybrid Join;
- berada di negara atau wilayah yang tidak termasuk cakupan regulasi EU Digital Markets Act (DMA);
- tidak menggunakan lingkungan Sovereign Cloud atau Restricted Cloud;
- kebijakan backup belum pernah dikonfigurasi administrator.
Administrator Tetap Memiliki Kendali Penuh
Meski backup diaktifkan secara otomatis, administrator TI tetap memiliki kontrol penuh terhadap fitur tersebut.
Melalui solusi Mobile Device Management (MDM) seperti Microsoft Intune, maupun melalui Group Policy, administrator dapat:
- menonaktifkan fitur backup;
- mengaktifkannya secara eksplisit;
- mengatur kebijakan sesuai kebutuhan organisasi.
Konfigurasi yang dibuat melalui Intune atau Group Policy akan selalu menjadi prioritas dibandingkan pengaturan default Windows.
Restore Masih Harus Diaktifkan Manual
Microsoft juga menegaskan bahwa perubahan ini hanya berlaku untuk proses backup.
Fitur restore atau pemulihan pengaturan tidak akan aktif secara otomatis. Administrator tetap harus mengonfigurasi kebijakan restore secara manual sebelum pengguna dapat mengembalikan pengaturan Windows mereka ke perangkat baru atau hasil instalasi ulang.
Sudah Bisa Diuji Melalui Windows Insider
Administrator yang ingin mencoba perilaku baru ini dapat mengujinya melalui Windows Insider Program Experimental Channel mulai Juli 2026.
Microsoft berencana menerapkan fitur ini secara luas ketika Windows 11 versi 26H2 resmi dirilis untuk publik pada akhir tahun 2026.
Selain itu, perangkat yang awalnya menggunakan Windows 11 versi 26H1 juga akan memperoleh perilaku default yang sama setelah menerima pembaruan fitur berikutnya.
Mempermudah Migrasi Perangkat di Lingkungan Enterprise
Dengan mengaktifkan backup pengaturan secara default, Microsoft berharap proses penggantian perangkat di lingkungan perusahaan menjadi lebih sederhana.
Pengguna dapat mempertahankan berbagai preferensi Windows mereka tanpa perlu melakukan konfigurasi ulang secara manual, sementara administrator tetap memiliki fleksibilitas penuh untuk mengelola kebijakan sesuai kebutuhan organisasi.
Sumber: Microsoft








