Dua Eks Eksekutif Perusahaan Analitik AS Mengaku Bersalah Sediakan Infrastruktur bagi Jaringan Penipu Tech Support Global

Dua mantan eksekutif puncak dari sebuah perusahaan pelacakan telepon dan analitik terkemuka resmi menyatakan mengaku bersalah di pengadilan federal Amerika Serikat. Keduanya terbukti secara sengaja menyembunyikan dan memfasilitasi skema penipuan dukungan teknis (tech support fraud scheme) berskala internasional yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menelan korban di berbagai belahan dunia.
Mantan CEO Adam Young (asal Miami, Florida) dan mantan CSO Harrison Gevirtz (asal Las Vegas, Nevada) mengakui dakwaan misprision of a felony (secara sengaja menyembunyikan terjadinya tindak pidana kejahatan dari pihak berwajib). Atas dakwaan ini, keduanya menghadapi ancaman hukuman maksimal tiga tahun penjara federal, denda hingga $250.000 (sekitar Rp4 miliar), atau keduanya, dengan sidang pembacaan vonis (sentencing) yang dijadwalkan pada 16 Juni 2026.
Modus Operandi: Sediakan Kolam Nomor Rotasi untuk Mengelabui Hukum
Berdasarkan dokumen persidangan, Young dan Gevirtz mengoperasikan bisnis bernama C.A. Cloud Attribution, Ltd. (beroperasi dengan nama dagang C.A. Cloud) antara awal tahun 2017 hingga April 2022. Perusahaan ini menyediakan layanan nomor telepon, perekaman panggilan, pengalihan panggilan (call forwarding), serta dasbor analitik pelacakan telepon.
Penyidik menemukan bahwa kedua terdakwa mengetahui secara persis bahwa mayoritas pelanggan besar mereka adalah sindikat pelaku penipuan telemarketing dan tech support:
- Skema Pop-up Palsu: Para penipu tersebut memasang iklan pop-up manipulatif pada komputer korban yang mengeklaim secara palsu bahwa sistem operasi mereka telah terinfeksi malware parah. Pop-up tersebut mendesak korban untuk menghubungi nomor pusat panggilan (call center) tertentu yang diatur oleh infrastruktur C.A. Cloud.
- Pencatutan Brand Raksasa: Di level operator, para agen penipu akan menyamar sebagai perwakilan teknis resmi dari Microsoft atau Apple, lalu memeras korban hingga ratusan dolar untuk biaya perbaikan fiktif. Beberapa di antaranya bahkan melakukan interkoneksi jarak jauh (remote access) untuk mencuri data finansial rahasia dan menguras rekening korban.
Alih-alih melaporkan aktivitas ilegal tersebut kepada penegak hukum, Young dan Gevirtz justru memberikan layanan konsultasi taktis kepada para penipu. Mereka menyarankan sindikat tersebut untuk menggunakan kolam nomor telepon berukuran besar yang dirotasi secara berkala (large pools of rotating telephone numbers). Taktik ini sengaja diterapkan untuk menekan jumlah komplain publik serta menghindari pemblokiran akun otomatis oleh operator telekomunikasi hulu.
Tak hanya itu, mereka juga memerintahkan tim penjualan internal untuk agresif memasarkan layanan kepada bisnis-bisnis ilegal, bahkan sesekali bertindak sebagai makelar yang mempertemukan antar-kelompok penipu untuk aktivitas jual-beli basis data panggilan.
Kepemilikan Call Center Ilegal di Tunisia
Kedalaman keterlibatan kedua eksekutif ini tidak berhenti pada penyediaan software analitik saja. Rekam jejak forensik mengungkap bahwa Young dan Gevirtz juga memiliki dan mengoperasikan sebuah call center fisik di Tunisia dari tahun 2016 hingga April 2022.
Di fasilitas tersebut, karyawan mereka secara aktif terlibat langsung dalam melancarkan penipuan dukungan teknis. Modusnya meliputi pengiriman tautan berbahaya untuk menyusup ke komputer korban secara sepihak, menyamar sebagai tim bantuan teknis resmi, hingga mengirimkan nota tagihan (invoice) palsu bernilai besar.
🏢 “Apa yang dilakukan oleh CEO dan CSO dari perusahaan pelacakan panggilan terkenal ini benar-benar keji. Berdasarkan pengakuan mereka sendiri, mereka dengan sengaja meraup keuntungan dari para penipu telemarketing dan tech support, baik di dalam maupun luar negeri, yang memangsa lansia, mengeksploitasi kelompok rentan, serta menguras tabungan hidup dan ketenangan pikiran para korban.” — Ted E. Docks, Agen Khusus FBI Divisi Boston.
Ancaman Kerugian Finansial akibat Tech Support Fraud
Kasus penindakan hukum terhadap fasilitator hulu ini mempertegas agresivitas aparat dalam memberantas ekosistem kejahatan siber bermotif rekayasa sosial (social engineering). Sebelumnya pada Agustus 2024, seorang gembong skema penipuan serupa telah dijatuhi hukuman 7 tahun penjara setelah terbukti menguras lebih dari $6 juta dari 6.500 korban lansia di AS dan Kanada.
Berdasarkan data resmi dari Laporan Kejahatan Internet FBI 2025 yang baru dirilis, total kerugian masyarakat Amerika akibat penipuan berkedok tech support sepanjang tahun lalu telah menembus angka fantastis $2,1 billion (sekitar Rp33,2 triliun). Angka kerugian tersebut dihimpun dari total 48.000 pengaduan resmi yang masuk ke pusat pelaporan Internet Crime Complaint Center (IC3) milik FBI selama tahun 2025.








