Harga DRAM Melonjak 172% Secara Tahunan, Krisis Pasokan Belum Menunjukkan Tanda Mereda

Pasar memori global tengah menghadapi lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan laporan terbaru dari CTEE, harga DRAM meningkat hingga 171,8% secara year-over-year (YoY), menjadikannya salah satu komoditas paling berharga di industri teknologi saat ini. Kenaikan tajam ini tidak hanya berdampak pada pusat data berskala besar, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh konsumen rumahan dan para pembuat PC.
Krisis ini bermula dari gangguan signifikan di rantai pasokan memori. Pada Agustus lalu, sejumlah produsen memutuskan untuk menaikkan harga RDIMM secara retroaktif hingga 40–50%, meskipun para pelanggan besar, termasuk hyperscaler, telah menandatangani kontrak dengan harga yang lebih rendah. Langkah sepihak tersebut kini mulai menekan pasar secara luas, mendorong harga modul memori ke level tertinggi sepanjang tahun.

Permintaan AI Menyerap Seluruh Pasokan
Peningkatan permintaan dari sektor kecerdasan buatan (AI) disebut sebagai faktor utama di balik lonjakan harga ini. Ekspansi masif pusat data global telah menyerap hampir seluruh suplai memori dan penyimpanan, meninggalkan ruang sempit bagi pasar konsumen dan OEM. Bahkan dua raksasa memori asal Korea Selatan, Samsung dan SK Hynix, dilaporkan hanya mampu memenuhi sekitar 70% dari total pesanan yang diterima.
Akibatnya, pemesanan dari penyedia layanan cloud Tier-1 di Amerika Serikat dan Tiongkok hanya terpenuhi sekitar 70%, memaksa banyak pembeli kehilangan stok cadangan yang sebelumnya dianggap aman. Bagi produsen modul seperti Kingston dan ADATA, kondisi ini telah memangkas margin keuntungan secara drastis. Harga chip DDR5 berkapasitas 16 GB kini mencapai 13 dolar AS per unit, naik tajam dari 7 dolar hanya dalam waktu enam minggu.
Dampak Serius bagi OEM dan Distributor
Situasi semakin sulit bagi OEM kecil dan distributor saluran (channel distributors). Mereka kini diberitahu bahwa tingkat pemenuhan pesanan hanya akan mencapai 35–40% hingga kuartal pertama 2026. Artinya, banyak rencana peluncuran produk berpotensi tertunda, dan proyeksi pendapatan perusahaan-perusahaan tersebut bisa terancam jika kondisi ini berlanjut.
Dalam posisi serba sulit, beberapa pihak mempertimbangkan dua pilihan ekstrem: membeli chip di pasar spot dengan harga selangit atau menghentikan sementara lini produksi untuk menekan kerugian.
Harga Ritel Melonjak Drastis
Data dari situs pelacak harga seperti PCPartPicker menunjukkan lonjakan yang nyata di tingkat konsumen. Sebagai contoh, satu paket G.Skill Trident Z5 Neo RGB 32 GB (2×16 GB) DDR5-6000 CL30, yang sebelumnya dijual sekitar 106 dolar AS, kini dibanderol 239 dolar AS di toko daring seperti Newegg.
Perubahan harga tersebut menjadi bukti jelas bahwa lonjakan ini nyata dan signifikan. Namun, harapan agar situasi membaik tampaknya masih jauh. CEO ADATA, Chen Libai, bahkan menyebut kuartal terakhir tahun ini sebagai awal dari tren kenaikan besar-besaran di sektor memori, menandai fase baru dari keterbatasan pasokan global.
Senada dengan itu, CEO Phison Electronics, Pua Khein-Seng, memperingatkan bahwa kelangkaan NAND flash dapat berlangsung hingga satu dekade mendatang, menambah kekhawatiran bahwa pasar penyimpanan digital akan menghadapi tekanan harga yang berkepanjangan.
Sumber: CTEE








