Security

Terduga Developer Malware Ploutus Ditangkap, Hadapi Dakwaan Terkait ATM Jackpotting di AS

Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan penangkapan Anibal Alexander Canelon Aguirre, pria Venezuela berusia 50 tahun yang diduga mengembangkan malware Ploutus dan menjadi salah satu pemimpin utama jaringan ATM jackpotting.

Canelon Aguirre, yang juga dikenal dengan alias “Prometheus” dan “The Engineer”, sebelumnya masuk dalam daftar FBI Ten Most Wanted Fugitives pada Maret 2026. Menurut pemerintah AS, ia merupakan cybercriminal pertama yang dimasukkan ke daftar tersebut.

Ia telah didakwa oleh federal grand jury di District of Nebraska sejak Desember 2025. Pada 2 Oktober 2026, Canelon Aguirre menjalani initial appearance di pengadilan Nebraska dan menyatakan tidak bersalah atas seluruh dakwaan. Ia tetap ditahan sambil menunggu persidangan.

Pemerintah AS menuduh jaringan tersebut menggunakan Ploutus ATM malware dalam serangkaian serangan jackpotting yang menguras uang tunai dari ATM bank dan credit union di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Ploutus Dirancang Memaksa ATM Mengeluarkan Uang Tunai

Ploutus merupakan keluarga malware yang secara khusus dirancang untuk melakukan ATM jackpotting.

Dalam serangan seperti ini, pelaku memanipulasi ATM sehingga mesin mengeluarkan uang tunai tanpa melakukan debit terhadap rekening bank normal.

Berbeda dari pencurian kartu atau credential nasabah, jackpotting menargetkan sistem ATM itu sendiri.

Menurut dakwaan pemerintah AS, Canelon Aguirre diduga menjadi developer Ploutus sekaligus salah satu pemimpin utama konspirasi yang menggunakan malware tersebut.

Departemen Kehakiman mengatakan malware yang digunakan jaringan itu memiliki sejumlah mekanisme anti-analysis untuk mempersulit forensic investigation.

Di antaranya adalah software protection utility yang dirancang untuk menghambat reverse-engineering dan debugging.

Malware Bisa Menghapus Jejak dari ATM

Ploutus yang digunakan dalam operasi tersebut juga disebut memiliki komponen yang dapat menghapus malware dari sistem.

Menurut Departemen Kehakiman AS, fungsi tersebut digunakan sebagai bagian dari upaya menyembunyikan keberadaan malware dan membuat pegawai financial institution tidak mengetahui bahwa ATM telah dikompromikan.

Kemampuan anti-analysis dan penghapusan jejak menjadi penting dalam operasi jackpotting karena penyerang berusaha mempertahankan akses sekaligus mempersulit investigator memahami bagaimana serangan dilakukan.

Teknik tersebut juga dapat memperlambat proses identifikasi malware setelah financial institution menemukan ATM telah mengeluarkan uang secara tidak sah.

Jutaan Dolar Dicuri dalam Serangan ATM

Menurut court documents yang dikutip dalam laporan kasus tersebut, Canelon Aguirre dan sejumlah alleged accomplice dituduh menjalankan serangan ATM jackpotting antara Februari 2024 dan Desember 2025.

Kerugian dalam sejumlah insiden disebut dapat melampaui US$100.000 per serangan.

Sedikitnya 63 serangan jackpotting terhadap ATM bank dan 54 serangan terhadap credit union dikaitkan dengan operasi tersebut, dengan lebih dari US$5,4 juta dilaporkan berhasil dicuri.

Selain itu, terdapat sekitar US$1,43 juta dalam attempted attacks.

Angka tersebut merupakan bagian dari tuduhan dan temuan investigasi pemerintah AS yang masih akan diuji melalui proses pengadilan.

Jaringan Disebut Terhubung dengan Tren de Aragua

Pemerintah AS mengaitkan konspirasi ATM jackpotting tersebut dengan Tren de Aragua (TdA).

Menurut court documents dan Departemen Kehakiman, hasil pencurian dicuci dan sebagian dana kemudian ditransfer ke account yang dikendalikan oleh pihak yang dikaitkan dengan TdA di berbagai negara.

Pemerintah AS menggambarkan TdA sebagai transnational criminal organization yang berasal dari Venezuela dan telah memperluas aktivitasnya ke berbagai wilayah di Western Hemisphere.

Departemen Keuangan AS sebelumnya menetapkan TdA sebagai transnational criminal organization pada Juli 2024, sedangkan Departemen Luar Negeri AS menetapkannya sebagai foreign terrorist organization pada Februari 2025.

Status tersebut merupakan designation resmi pemerintah Amerika Serikat dan menjadi bagian dari dasar penegakan hukum serta sanksi yang diterapkan terhadap individu yang menurut pemerintah terhubung dengan organisasi tersebut.

Canelon Aguirre Hadapi Empat Dakwaan Federal

Canelon Aguirre menghadapi empat dakwaan federal di District of Nebraska.

Dakwaan pertama adalah conspiracy to commit bank fraud, dengan ancaman maksimum 30 tahun penjara dan denda hingga US$1 juta.

Dakwaan kedua adalah conspiracy to commit bank burglary and fraud in connection with computers, yang membawa ancaman maksimum lima tahun penjara.

Ia juga didakwa melakukan conspiracy to commit money laundering, dengan ancaman maksimum 20 tahun penjara.

Dakwaan terakhir adalah conspiracy to provide material support to terrorists, dengan ancaman maksimum 15 tahun penjara.

Seluruh dakwaan tersebut masih merupakan tuduhan. Canelon Aguirre dianggap tidak bersalah kecuali dan sampai terbukti bersalah melalui proses hukum.

Masuk FBI Ten Most Wanted pada Maret 2026

Canelon Aguirre ditambahkan ke daftar FBI Ten Most Wanted Fugitives pada Maret 2026.

Menurut Departemen Kehakiman, ia menjadi individu ke-540 yang masuk daftar tersebut sekaligus cybercriminal pertama yang dimasukkan ke Ten Most Wanted Fugitives.

Setelah ditangkap, ia dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi proses hukum.

Pada 2 Oktober, Canelon Aguirre muncul di hadapan U.S. Magistrate Judge Michael D. Nelson dan memasukkan not guilty plea untuk seluruh dakwaan.

Ia akan tetap berada dalam tahanan di District of Nebraska selama menunggu persidangan.

Investigasi Melibatkan FBI, HSI, dan CCIPS

Kasus tersebut merupakan bagian dari penyelidikan terkoordinasi yang melibatkan U.S. Attorney’s Office for the District of Nebraska dan Computer Crime and Intellectual Property Section (CCIPS) dari Criminal Division Departemen Kehakiman AS.

FBI dan Homeland Security Investigations (HSI) menjadi lead investigative agencies.

Joint Task Force Vulcan juga terlibat dalam investigasi dan prosecution terhadap jaringan yang dikaitkan dengan TdA.

Menurut Departemen Kehakiman, investigasi tersebut berfokus pada jaringan ATM jackpotting berskala luas yang diklaim memiliki direct maupun indirect links dengan TdA.

Serangan Disebut Menjangkau 47 Negara Bagian AS

Pemerintah AS mengatakan investigasi telah menemukan bahwa konspirasi ATM jackpotting tersebut menargetkan atau menjalankan serangan di 47 negara bagian Amerika Serikat, District of Columbia, dan beberapa negara lain.

Skala tersebut menunjukkan operasi jackpotting tidak terbatas pada satu kelompok lokal atau satu wilayah tertentu.

Jaringan seperti ini dapat melibatkan beberapa peran, mulai dari developer malware, koordinator operasi, pihak yang mendapatkan physical access ke ATM, money mule, hingga individu yang menangani pencucian hasil kejahatan.

Menurut Departemen Kehakiman, hingga pengumuman terbaru terdapat 120 terdakwa yang telah didakwa di District of Nebraska terkait peran mereka dalam konspirasi tersebut.

Tiga terdakwa telah dijatuhi hukuman penjara masing-masing 78 bulan, 78 bulan, dan 96 bulan.

OFAC Juga Menjatuhkan Sanksi

Office of Foreign Assets Control (OFAC) dari Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi terhadap Canelon Aguirre pada 30 September 2026.

Langkah tersebut menjadi bagian dari tindakan pemerintah AS terhadap individu yang menurut otoritas terlibat dalam operasi ATM jackpotting dan memiliki hubungan dengan TdA.

Sanksi OFAC merupakan tindakan administratif pemerintah dan terpisah dari criminal prosecution yang sedang berlangsung di pengadilan federal.

Dengan demikian, penetapan sanksi tidak menggantikan proses pembuktian atas dakwaan pidana yang dihadapi Canelon Aguirre.

ATM Jackpotting Menjadi Ancaman Serius bagi Financial Institution

Serangan jackpotting menunjukkan bahwa ATM tidak hanya menghadapi risiko dari card skimming atau pencurian PIN.

Karena ATM pada dasarnya merupakan komputer yang terhubung dengan komponen khusus untuk mengelola dan mengeluarkan uang tunai, compromise pada software atau physical access dapat membuka jalur serangan langsung terhadap cash dispenser.

Malware seperti Ploutus dirancang untuk mengeksploitasi karakteristik tersebut dengan membuat mesin mengeluarkan uang berdasarkan perintah attacker.

Operasi berskala besar juga dapat menggunakan banyak anggota untuk menyerang ATM secara serentak di berbagai lokasi.

FBI sebelumnya memperingatkan bahwa lebih dari US$20 juta telah dicuri dalam lonjakan ATM malware attack selama 2025, menunjukkan jackpotting telah berkembang menjadi ancaman finansial yang signifikan.

Penangkapan Canelon Aguirre kini membawa salah satu individu yang dituduh berperan penting dalam pengembangan malware tersebut ke pengadilan AS. Namun, proses hukum masih berlangsung dan seluruh tuduhan terhadapnya tetap harus dibuktikan di pengadilan.

Sumber: U.S. Department of Justice

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button