Lima Pemimpin Black Axe Hadapi Dakwaan Kejahatan Siber di AS

Lima orang yang diduga sebagai pemimpin sindikat kejahatan transnasional Black Axe telah diekstradisi ke Amerika Serikat dan menghadapi dakwaan terkait penipuan melalui internet serta pencucian uang. Kelimanya diduga mengoordinasikan kampanye penipuan berskala besar yang menargetkan korban di Amerika Serikat selama bertahun-tahun.
Kelima terdakwa tersebut adalah Perry Osagiede, Franklyn Osagiede, Osariemen Clement, Collins Otughwor, dan Musa Mudashiru. Mereka didakwa atas keterlibatan dalam operasi penipuan internet yang berlangsung antara 2011 hingga 2021, termasuk skema advance-fee fraud dan romance scam.
Menggunakan Romance Scam untuk Menipu Korban
Menurut dakwaan, para terdakwa menggunakan berbagai identitas palsu, media sosial, situs kencan online, serta nomor telepon berbasis Voice over Internet Protocol (VoIP) untuk mendekati korban.
Pelaku diduga membangun hubungan dengan korban secara online dan membuat mereka percaya bahwa hubungan romantis tersebut benar-benar terjadi. Setelah mendapatkan kepercayaan korban, mereka kemudian membujuk atau menipu korban agar mengirimkan uang.
Metode tersebut merupakan pola umum dalam romance scam, di mana pelaku memanfaatkan hubungan emosional yang dibangun secara online untuk mendapatkan keuntungan finansial.
Dalam kasus ini, tekanan terhadap korban juga diduga meningkat ketika mereka menolak memberikan uang.
Korban Diduga Diancam dengan Penyebaran Foto Sensitif
Selain manipulasi psikologis, para terdakwa diduga menggunakan ancaman untuk memaksa korban melakukan pembayaran.
Salah satu metode yang disebutkan dalam dakwaan adalah mengancam akan menyebarkan foto sensitif milik korban ke internet apabila korban tidak memenuhi permintaan mereka.
Kombinasi antara hubungan palsu, manipulasi emosional, dan ancaman tersebut memungkinkan jaringan ini mempertahankan tekanan terhadap korban sekaligus meningkatkan kemungkinan pembayaran.
FBI Newark Special Agent in Charge Stefanie Roddy mengatakan bahwa Black Axe merupakan organisasi kriminal transnasional yang juga terlibat dalam romance scam untuk mendapatkan keuntungan.
Pihak FBI menegaskan bahwa kerja sama lintas negara diperlukan untuk mengejar pelaku penipuan yang menargetkan korban di Amerika Serikat, termasuk operasi penegakan hukum yang melibatkan mitra di Afrika Selatan.
Ditangkap di Afrika Selatan pada 2021
Kelima terdakwa awalnya ditangkap di Afrika Selatan pada 2021 atas permintaan Amerika Serikat.
Mereka kemudian diekstradisi ke AS dan tiba pada 11 September 2026 untuk menghadapi proses hukum atas dakwaan yang dikenakan kepada mereka.
Jika dinyatakan bersalah, para terdakwa menghadapi ancaman hukuman maksimum hingga 20 tahun penjara untuk dakwaan wire fraud dan hingga 20 tahun untuk pencucian uang. Mereka juga menghadapi tambahan hukuman hingga dua tahun untuk aggravated identity theft.
Besarnya ancaman hukuman tersebut merupakan hukuman maksimum berdasarkan dakwaan dan bukan berarti para terdakwa pasti akan menerima hukuman tersebut apabila dinyatakan bersalah.
Penindakan Black Axe Dilakukan Secara Internasional
Kasus lima terdakwa di Amerika Serikat merupakan bagian dari rangkaian tindakan penegakan hukum internasional terhadap jaringan kriminal yang dikaitkan dengan Black Axe dan kelompok kejahatan Afrika lainnya.
Pada Agustus 2026, aparat penegak hukum dari 22 negara menangkap 58 orang dan mengidentifikasi 263 tersangka yang diduga memiliki hubungan dengan jaringan kejahatan siber yang dikoordinasikan kelompok kriminal Afrika.
Operasi tersebut dikenal sebagai Operation Jackal IV, sebuah operasi gabungan internasional yang ditujukan untuk mengganggu aktivitas jaringan Black Axe.
Di Spanyol, aparat juga menangkap 34 tersangka penipuan siber yang diduga merupakan bagian dari jaringan kriminal yang memiliki keterkaitan dengan Black Axe.
Serangkaian operasi tersebut menunjukkan bahwa jaringan penipuan berbasis internet dapat beroperasi lintas yurisdiksi, dengan pelaku, infrastruktur komunikasi, rekening penerima dana, serta korban berada di negara yang berbeda.
Black Axe Memiliki Sejarah Panjang
Black Axe didirikan di Nigeria pada 1977 dan telah berkembang menjadi organisasi kriminal transnasional dengan jaringan yang luas.
Kelompok tersebut dikaitkan dengan berbagai aktivitas kriminal, termasuk penipuan berbasis internet dan pencucian uang. Jaringannya juga disebut memiliki money mule dan fasilitator yang membantu memindahkan atau menyamarkan hasil kejahatan.
Black Axe diperkirakan memiliki puluhan ribu anggota terdaftar, meskipun jumlah tersebut merupakan estimasi mengenai jaringan organisasi dan bukan jumlah orang yang seluruhnya terbukti terlibat dalam aktivitas kejahatan siber.
Kasus Sebelumnya di Amerika Serikat
Penegakan hukum terhadap anggota Black Axe di AS juga bukan hal baru.
Pada Januari 2024, Olugbenga Lawal, yang disebut sebagai anggota Black Axe, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara di Amerika Serikat setelah dinyatakan bersalah karena mencuci uang jutaan dolar yang dicuri dari warga lanjut usia Amerika dalam skema penipuan internet.
Kasus tersebut menggambarkan bagaimana hasil penipuan online dapat melibatkan jaringan pencucian uang dan pihak lain yang berfungsi sebagai perantara untuk memindahkan dana.
Kasus lima terdakwa yang baru diekstradisi kini akan diproses melalui sistem peradilan Amerika Serikat. Dakwaan terhadap mereka masih merupakan tuduhan, dan masing-masing terdakwa dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah di pengadilan.
Sumber: U.S. Department of Justice








