Security

Blackfield Ransomware Minta Tebusan US$2 Juta dari Nidec Corporation

Blackfield ransomware mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber yang menargetkan Nidec Corporation, salah satu produsen motor listrik terbesar di dunia asal Jepang. Kelompok tersebut dikabarkan menuntut uang tebusan sebesar US$2 juta dengan ancaman akan mempublikasikan atau menjual data yang diduga berhasil dicuri.

Sebelumnya, Nidec telah mengonfirmasi bahwa salah satu anak perusahaannya di Taiwan menjadi korban serangan ransomware.

Anak Perusahaan di Taiwan Menjadi Korban

Dalam pernyataan resminya pekan lalu, Nidec menjelaskan bahwa serangan terjadi pada Nidec Chaun Choung Technology, anak perusahaan yang berbasis di Taiwan.

Perusahaan menyebut bahwa pada 22 Juni 2026, sebagian server mereka terkonfirmasi terkena serangan ransomware.

Untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, Nidec segera mengambil langkah darurat, termasuk mematikan server serta jaringan yang terdampak.

Selain itu, perusahaan juga mengungkap adanya kemungkinan kebocoran data, meskipun hingga saat ini belum ditemukan bukti bahwa informasi pribadi maupun data rahasia telah dipublikasikan di internet.

Operasional Masih Dalam Proses Evaluasi

Nidec menyatakan masih melakukan investigasi untuk mengetahui dampak insiden terhadap proses produksi, pengiriman, dan operasional bisnis lainnya.

Namun, berdasarkan hasil evaluasi sementara, perusahaan tidak memperkirakan gangguan tersebut akan meluas ke unit bisnis lain di bawah Nidec Corporation maupun perusahaan-perusahaan dalam grup Nidec.

Blackfield Tuntut US$2 Juta

Blackfield kemudian mengklaim serangan tersebut melalui situs pemerasan mereka.

Kelompok ransomware itu memberikan waktu lebih dari 15 hari kepada Nidec untuk memulai negosiasi sebelum data yang diklaim berhasil dicuri dipublikasikan atau dijual.

Sebagai syarat untuk menghapus data tersebut, Blackfield meminta pembayaran sebesar US$2 juta.

Menariknya, kelompok tersebut juga menawarkan perpanjangan tenggat waktu kebocoran data selama satu hari dengan biaya tambahan US$5.000.

Selain itu, Blackfield bahkan mencantumkan tautan yang memungkinkan pihak lain membeli seluruh data hasil curian dengan harga US$400.000.

Sampel Data Ikut Dipublikasikan

Sebagai bukti atas klaim mereka, Blackfield mempublikasikan sejumlah contoh data yang memperlihatkan struktur folder dan beberapa dokumen yang diduga berasal dari sistem internal Nidec.

Namun, hingga saat ini keaslian data tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Pernah Menjadi Korban pada 2024

Ini bukan pertama kalinya Nidec menjadi target serangan ransomware.

Pada Oktober 2024, perusahaan juga mengalami insiden keamanan yang menargetkan divisi Nidec Precision di Vietnam.

Dalam serangan tersebut, lebih dari 50.000 file sensitif dilaporkan berhasil dicuri.

Menariknya, insiden tersebut sempat diklaim secara terpisah oleh dua kelompok ransomware berbeda, yaitu 8Base dan Everest, yang sama-sama berusaha memeras perusahaan menggunakan data hasil pencurian.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi apakah Nidec akan melakukan negosiasi ataupun membayar tuntutan yang diajukan oleh Blackfield.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button