Departemen Kehakiman AS Sita Hampir 400 Domain Streaming Ilegal Piala Dunia 2026 via “Operation Offsides”

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) Divisi Kriminal mengumumkan keberhasilan operasi siber global yang berujung pada penyitaan hampir 400 domain situs web yang digunakan untuk menyiarkan pertandingan sepak bola Piala Dunia FIFA 2026 secara ilegal.
Ratusan situs web tersebut kedapatan menyediakan layanan real-time streaming tanpa izin resmi hak siar sepanjang turnamen berlangsung, yang merupakan pelanggaran berat terhadap hukum hak cipta Amerika Serikat (U.S. copyright law).
Aliansi Global “Operation Offsides” Targetkan Enam Negara
Operasi penindakan berskala internasional yang diberi nama sandi “Operation Offsides” ini dipimpin langsung oleh Pusat Koordinasi Hak Kekayaan Intelektual Nasional AS (IPR Center). Operasi ini dikoordinasikan secara ketat bersama jaringan jaksa penuntut umum internasional lewat International Computer Hacking and Intellectual Property (ICHIP) Network.
Dalam aksi serentak tersebut, aparat penegak hukum berhasil mengidentifikasi, melacak, dan melumpuhkan infrastruktur server serta domain yang tersebar di enam negara tujuan utama, yaitu:
- Peru dan Kolombia (Wilayah Amerika Latin)
- Bulgaria, Kroasia, Rumania, dan Polandia (Wilayah Eropa)
Saat ini, jika pengguna mencoba mengakses salah satu dari 400 situs web yang telah diblokir tersebut, layar mereka akan langsung menampilkan spanduk (banner) resmi dari Departemen Kehakiman AS yang berbunyi: “Situs web ini telah disita oleh otoritas penegak hukum sebagai bagian dari Operation Offsides… Tindakan ini diambil untuk melindungi konsumen dan menegakkan hak kekayaan intelektual di seluruh dunia.”
Kolaborasi Pemegang Hak Siar dan Ancaman Keamanan Siber
Keberhasilan pelacakan ratusan domain bajakan ini tidak lepas dari bantuan serta laporan data intelijen yang dipasok oleh koalisi sektor swasta dan badan olahraga dunia, termasuk FIFA, beIN Media Group, NBCUniversal, UFC, Warner Bros, serta aliansi anti-bajakan Alliance for Creativity and Entertainment (ACE) bentukan Motion Picture Association.
Selain merugikan pemegang hak siar resmi dari segi nilai ekonomi, Agen Khusus Eric Weindorf dari kantor Homeland Security Investigations (HSI) Washington memperingatkan adanya bahaya laten yang mengincar para penonton streaming ilegal:
“Para penyedia platform streaming ilegal ini tidak hanya melanggar hukum hak cipta, tetapi juga mengekspos para penontonnya pada ancaman keamanan siber yang nyata. Ini termasuk serangan malware tersembunyi dan koneksi tidak aman yang dapat membocorkan serta menyalahgunakan data pribadi hingga data finansial perbankan penonton,” tegas Weindorf.
Penindakan darurat pada akhir Juni 2026 ini merupakan kelanjutan dari rangkaian antisipasi penipuan Piala Dunia. Sebelumnya pada Mei lalu, FBI juga sempat menerbitkan peringatan resmi mengenai maraknya kemunculan situs web palsu yang meniru identitas resmi FIFA untuk menjual tiket pertandingan dan paket akomodasi hospitality fiktif demi menguras kartu kredit korban.
Runtuhnya Jaringan PirloTV yang Raup 950 Juta Kunjungan Setahun
Langkah masif HSI ini menyusul kesuksesan operasi serupa yang digelar sepekan lalu oleh ACE, UEFA, UC3, dan otoritas penegak hukum Meksiko. Dalam operasi tersebut, petugas berhasil meruntuhkan jaringan pembajakan olahraga raksasa yang berafiliasi dengan platform legendaris PirloTV dengan menyita 44 domain utama.
Profil dari jaringan pembajakan PirloTV yang berhasil dilumpuhkan tersebut meliputi:
- Trafik Fantastis: Secara kolektif, 44 domain di bawah payung PirloTV tersebut mampu mendatangkan lebih dari 950 juta kunjungan setiap tahunnya, di mana 230 juta kunjungan di antaranya disumbang secara masif dari area geografi Meksiko saja.
- Modus Migrasi Agresif: PirloTV dikenal sangat licin di mata hukum karena bertindak sebagai agregator yang menanamkan (embed) tautan siaran sepak bola ilegal, dan secara agresif selalu bermigrasi ke nama domain baru setiap kali situs lama mereka disita petugas.
- Eksploitasi Celah Akses: Pihak ACE melaporkan bahwa PirloTV menjadi pilihan utama bagi banyak pengguna di Amerika Latin, Spanyol, dan Amerika Serikat untuk menonton laga Piala Dunia 2026 melalui perangkat ponsel pintar (smartphone). Hal ini terjadi lantaran rumitnya akses legal akibat fragmentasi hak siar antar-wilayah serta adanya pembatasan akses geografis (geoblocking) pada aplikasi penyiaran resmi.
Sumber: Departemen Kehakiman AS (DOJ) / HSI Media Advisory








