News

Lenovo Prediksi Lonjakan Harga Memori RAM dan NAND Flash Bakal Jadi Tren Normal hingga 2030

Menyusul kebijakan penyesuaian harga dari raksasa teknologi seperti Microsoft dan Apple, raksasa manufaktur PC terbesar dunia, Lenovo, memberikan proyeksi yang kian kelam bagi industri komputer konsumen. Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh Wall Street News China pada ajang ISC 2026, Lenovo menyatakan bahwa tren kenaikan harga memori akan menjadi “norma baru” (new norm) yang harus dihadapi industri dan konsumen dalam beberapa tahun ke depan.

Pernyataan ini tentu menjadi pukulan telak bagi para antusias perakit PC (PC DIY) dan pencinta teknologi yang sempat berharap adanya stabilisasi harga komoditas DRAM dan NAND Flash dalam waktu dekat.

Kapasitas Pabrik Samsung, SK hynix, dan Micron Tak Mampu Kejar Permintaan

Sebagai salah satu produsen Original Equipment Manufacturer (OEM) PC terbesar di dunia, Lenovo secara rutin melakukan pengecekan jalur pasokan (channel checks) dengan para raksasa produsen semikonduktor memori seperti Samsung, SK hynix, dan Micron.

Lewat analisis proyeksi rasio penawaran dan permintaan (supply-demand) tersebut, Lenovo menyimpulkan fakta krusial:

  • Ekspansi Fabrikasi Tidak Cukup: Meskipun Samsung, SK hynix, dan Micron saat ini tengah mempercepat pembangunan fasilitas pabrik pengolahan semikonduktor (semiconductor fabs) baru untuk menggenjot kapasitas produksi massal, langkah tersebut dinilai tetap tidak cukup untuk mengimbangi ledakan permintaan pasar.
  • Kelangkaan Berlangsung Lebih Lama: Krisis kelangkaan pasokan fisik chip DRAM dan NAND Flash diproyeksikan akan mengakar jauh lebih lama di pasar global daripada estimasi awal para pengamat industri.

Efek Domino Booming Data Center AI: Selamat Tinggal Gadget Murah

Lenovo mencatat bahwa riwayat kenaikan harga yang mulai terdeteksi sejak awal kuartal keempat (Q4) tahun 2025 lalu memiliki potensi kuat untuk terus merangkak naik hingga akhir dekade ini (tahun 2030 dan bahkan seterusnya).

Faktor utama yang menguras pasokan memori dunia secara masif adalah akselerasi pembangunan infrastruktur pusat data (data center buildout) berskala raksasa di seluruh dunia demi melayani kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) tingkat tinggi. Selama korporasi raksasa berebut mengamankan pasokan memori kelas enterprise untuk server AI mereka dengan harga premium, maka alokasi jatah chip memori untuk pasar komputer konsumen otomatis akan terus tertekan.

Lenovo menyimpulkan bahwa era perangkat elektronik dan komponen PC ramah kantong kemungkinan besar telah berakhir untuk beberapa tahun ke depan. Masa depan stabilitas harga perangkat keras di pasar retail kini sepenuhnya bergantung pada seberapa cepat dan seberapa besar volume produksi massal (ramp-up) yang mampu dicapai oleh fasilitas pabrik baru milik SK hynix, Samsung, dan Micron dalam meredam defisit pasokan.

Sumber: Lenovo Corporate Advisory via Wall Street News China

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button