AS Jatuhkan Sanksi terhadap Jaringan Tren de Aragua Terkait Serangan ATM Jackpotting

Departemen Keuangan Amerika Serikat melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC) menjatuhkan sanksi terhadap jaringan yang dikaitkan dengan Tren de Aragua (TdA) atas dugaan keterlibatan dalam serangan ATM jackpotting yang menyebabkan kerugian puluhan juta dolar AS terhadap lembaga keuangan di Amerika Serikat.
Salah satu individu yang menjadi fokus tindakan tersebut adalah Anibal Alexander Canelon Aguirre, alias “Prometheus”, yang masuk dalam daftar Ten Most Wanted Fugitives FBI. Pemerintah AS menuduh jaringan yang dipimpinnya menggunakan malware untuk memaksa ATM mengeluarkan uang tunai sebelum hasil kejahatan dicuci dan ditransfer melalui berbagai jalur, termasuk cryptocurrency.
Data OFAC menyebut kerugian yang dilaporkan dari dugaan serangan ATM jackpotting di Amerika Serikat telah mencapai 40,73 juta dolar AS melalui lebih dari 1.500 serangan hingga Agustus 2025.
Malware Digunakan untuk Paksa ATM Mengeluarkan Uang
ATM jackpotting merupakan jenis serangan siber yang memungkinkan pelaku memanipulasi ATM atau interactive teller machine (ITM) sehingga mesin mengeluarkan uang tanpa melakukan debit terhadap rekening bank.
Dalam skenario yang dijelaskan Departemen Keuangan AS, pelaku biasanya terlebih dahulu melakukan pengintaian terhadap ATM yang akan menjadi target.
Mereka kemudian memperoleh akses fisik ke mesin dan memasang malware. Malware tersebut dapat diaktifkan untuk melewati mekanisme keamanan ATM sebelum perintah dispense dikirimkan agar mesin mengeluarkan uang tunai.
Proses tersebut dapat berlanjut sampai persediaan uang di dalam ATM habis atau operasi pelaku terganggu.
Berbagai keluarga malware telah dikembangkan untuk melakukan serangan sejenis selama bertahun-tahun, dengan teknik yang terus berkembang mengikuti sistem keamanan ATM.
Prometheus Dituduh Menjadi Pengembang Malware
Anibal Alexander Canelon Aguirre, yang dikenal menggunakan alias Prometheus dan “The Engineer”, dituduh memimpin konspirasi internasional yang mengirim sejumlah kelompok ke Amerika Serikat untuk melakukan pencurian terhadap lembaga keuangan.
Pemerintah AS menyebut Prometheus sebagai engineer yang diduga mengembangkan malware yang digunakan dalam ATM jackpotting.
Jaringan tersebut disebut beroperasi dari Meksiko dan Venezuela, sementara target serangannya berada di Amerika Serikat.
Setelah uang berhasil dicuri, dana tersebut diduga dipindahkan melalui jaringan money laundering dan dikirimkan kepada anggota serta pihak yang berasosiasi dengan TdA di berbagai negara.
Cryptocurrency juga disebut digunakan untuk membantu menyamarkan asal dana hasil serangan ATM.
FBI memasukkan Canelon Aguirre ke daftar Ten Most Wanted Fugitives pada Maret 2026. Ia menghadapi sejumlah tuduhan federal, termasuk conspiracy to commit bank fraud, bank burglary, money laundering, serta conspiracy to provide material support.
Enam Rekan Prometheus Ikut Masuk Jaringan yang Ditindak
Selain Canelon Aguirre, otoritas AS mengidentifikasi sejumlah individu yang disebut sebagai rekan dalam jaringan ATM jackpotting tersebut.
Mereka termasuk Carlos Javier Martinez Armenta, Alejandro Mejia Castillo, Jose Dario Galeano Bazurto, Eric Gabriel Cardenas Arzola, Oscar Leonardo Martinez Pirona, dan Anthony Wuiliam Hernandez Guerrero.
Para individu tersebut telah didakwa di U.S. District Court for the District of Nebraska terkait dugaan keterlibatan mereka dalam skema ATM jackpotting.
Tuduhan yang dihadapi mencakup pemberian dukungan material kepada TdA, conspiracy terkait bank fraud dan bank burglary, serta money laundering.
OFAC menyatakan transaksi cryptocurrency juga digunakan oleh anggota jaringan untuk membantu pencucian dana hasil ATM jackpotting.
Tindakan sanksi terbaru Departemen Keuangan AS secara keseluruhan mencakup 10 target yang dikaitkan dengan berbagai aktivitas TdA, tidak seluruhnya terbatas pada jaringan ATM jackpotting.
Kerugian Capai 40,73 Juta Dolar AS
Menurut data OFAC, hingga Agustus 2025, kerugian yang dilaporkan akibat dugaan ATM jackpotting di Amerika Serikat mencapai 40,73 juta dolar AS.
Jumlah tersebut berasal dari lebih dari 1.500 serangan terhadap lembaga keuangan.
Sejak 21 Oktober 2025, Department of Justice (DOJ) juga telah mendakwa 98 individu atas dugaan keterlibatan dalam berbagai skema ATM jackpotting.
Tuduhan federal yang dikenakan mencakup bank burglary, bank fraud, money laundering, unauthorized access terhadap protected computer, hingga pemberian dukungan material kepada organisasi yang ditetapkan pemerintah AS.
Jika dinyatakan bersalah, terdakwa dalam berbagai kasus tersebut menghadapi ancaman hukuman maksimum yang berbeda, mulai dari 20 hingga 335 tahun penjara berdasarkan kombinasi dakwaan masing-masing.
Jutaan Dolar Mengalir Melalui Cryptocurrency
Cryptocurrency menjadi salah satu komponen yang digunakan dalam dugaan proses money laundering.
Analisis blockchain dari TRM Labs menyebut Departemen Keuangan AS turut menambahkan tujuh alamat pada jaringan TRON ke Specially Designated Nationals and Blocked Persons List.
Ketujuh alamat tersebut dilaporkan menerima total aliran dana sekitar 6,1 juta dolar AS sejak Maret 2022 dan mengirimkan dana ke alamat lain yang dikaitkan dengan TdA.
Penggunaan cryptocurrency memungkinkan dana dipindahkan melintasi yurisdiksi dengan cepat, tetapi transaksi blockchain publik juga dapat dianalisis untuk menelusuri hubungan antara alamat dan pergerakan aset.
FBI Sebelumnya Peringatkan Lonjakan Serangan ATM
Serangan ATM jackpotting telah menjadi perhatian penegak hukum AS setelah jumlah insiden meningkat.
FBI pada Februari 2026 memperingatkan bahwa pelaku kejahatan telah mencuri lebih dari 20 juta dolar AS sepanjang 2025 dalam lonjakan serangan ATM berbasis malware.
Penegak hukum AS juga terus melakukan penangkapan dan penuntutan terhadap individu yang diduga terlibat.
Pada awal September 2026, lima warga negara Venezuela mengaku bersalah setelah sebelumnya gagal memasang malware dalam percobaan ATM jackpotting di Wamego dan Manhattan, Kansas.
Rangkaian kasus tersebut menunjukkan bahwa ATM jackpotting bukan hanya serangan malware jarak jauh. Operasinya dapat melibatkan pengintaian, akses fisik terhadap mesin, instalasi malware, koordinasi dengan operator lain, pengambilan uang tunai, dan pencucian hasil kejahatan.
Sanksi Membekukan Aset di Bawah Yurisdiksi AS
Sebagai konsekuensi dari tindakan OFAC, properti dan kepentingan atas properti milik individu yang masuk dalam daftar sanksi dan berada di Amerika Serikat atau berada dalam penguasaan warga serta entitas AS akan diblokir dan harus dilaporkan kepada OFAC.
Entitas yang secara langsung atau tidak langsung dimiliki sedikitnya 50% oleh satu atau lebih blocked persons juga dapat ikut diblokir berdasarkan aturan OFAC.
Tindakan ini merupakan bagian dari operasi pemerintah AS yang sejak 2025 telah menghasilkan lebih dari 30 tindakan terhadap lebih dari 300 individu dan entitas yang dikaitkan dengan organisasi kriminal transnasional.
Pemerintah AS sebelumnya menetapkan Tren de Aragua sebagai Transnational Criminal Organization pada Juli 2024 dan kemudian sebagai Foreign Terrorist Organization pada Februari 2025.
Sumber: U.S. Department of the Treasury








