JadePuffer Gunakan AI Agent untuk Menyerang Azure dan Menghapus Resource Cloud

Operator ransomware JadePuffer mulai menargetkan tenant Microsoft Azure menggunakan serangan berbasis AI agent yang mampu mengotomatiskan berbagai tahapan serangan, mulai dari reconnaissance, pencurian kredensial, hingga penghapusan resource cloud.
Microsoft Security Research mengamati dua serangan JadePuffer pada Juni 2026. Dalam serangan tersebut, pelaku berhasil memetakan resource cloud, mengambil storage account key, serta menghapus sejumlah resource Azure.
Aktivitas destruktif berlangsung hanya sekitar tujuh menit dan menargetkan lebih dari 100 Azure Storage account, selain Key Vault, Function Apps, Virtual Machines, dan App Services.
Microsoft melacak aktor di balik operasi tersebut dengan nama Storm-3168.
AI Agent Mengotomatiskan Rangkaian Serangan
JadePuffer pertama kali muncul pada Juli 2026. Peneliti dari perusahaan keamanan cloud Sysdig menemukan bahwa malware tersebut memanfaatkan AI agent untuk mengotomatisasi attack chain.
Rangkaian tersebut mencakup beberapa tahapan yang biasanya membutuhkan interaksi manual dari operator, termasuk:
- Reconnaissance dan pemetaan lingkungan
- Pengumpulan kredensial
- Lateral movement
- Persistence
- Pencurian data
- Enkripsi data
- Penghancuran resource cloud
JadePuffer kemudian memperluas targetnya ke aset AI, termasuk AI model, training dataset, dan vector database. Untuk menyerang aset tersebut, operator menggunakan tool bernama EncForge.
Perkembangan ini menunjukkan perubahan pola serangan ransomware, di mana cloud dan infrastruktur AI tidak lagi hanya menjadi tempat menjalankan workload, tetapi juga menjadi target utama yang dapat dihancurkan untuk meningkatkan tekanan terhadap korban.
Storm-3168 Menggunakan Dua Service Principal yang Dikompromikan
Dalam serangan yang diamati Microsoft, Storm-3168 menggunakan dua service principal yang telah dikompromikan.
Service principal merupakan identitas keamanan yang memungkinkan aplikasi, layanan yang berjalan di cloud, maupun tool otomatis melakukan autentikasi ke Azure dan mengakses resource sesuai hak yang diberikan.
Kedua service principal tersebut berasal dari tenant yang sama, tetapi digunakan untuk fungsi berbeda.
Service principal pertama digunakan untuk reconnaissance dan resource discovery. Sementara service principal kedua digunakan untuk melakukan discovery lebih lanjut, operasi destruktif, serta pengumpulan kredensial.
Penggunaan identitas service seperti ini menjadi penting karena akses yang diberikan kepada aplikasi atau automation dapat memiliki hak yang cukup luas. Jika kredensialnya bocor, penyerang dapat memanfaatkan izin tersebut tanpa harus memperoleh akun administrator manusia.
Lebih dari 100 Storage Account Menjadi Target
Setelah memperoleh akses, Storm-3168 melakukan pemetaan terhadap resource Azure yang tersedia.
Pada tahap destruktif, pelaku menargetkan lebih dari 100 Azure Storage account.
Sebagian besar storage account berhasil dihapus. Namun, tidak seluruh target berhasil dihancurkan karena beberapa resource dilindungi oleh Azure resource locks dan mekanisme perlindungan pada level storage account.
Resource lock dapat mencegah operasi tertentu terhadap resource meskipun identitas yang digunakan memiliki izin administratif tertentu.
Dalam konteks serangan ransomware, perlindungan tersebut dapat menjadi lapisan pertahanan tambahan yang menghambat upaya penyerang menghapus data atau infrastruktur secara massal.
Key Vault, VM, Function Apps, dan App Services Ikut Diserang
Serangan tidak berhenti pada Azure Storage.
Microsoft menemukan bahwa Storm-3168 juga menargetkan sejumlah komponen lain dalam lingkungan Azure, termasuk:
- Azure Key Vault
- Function Apps
- Virtual Machines
- App Services
- Azure SQL databases
Pola tersebut menunjukkan bahwa pelaku berusaha memperluas dampak serangan ke berbagai jenis resource, bukan hanya satu layanan penyimpanan.
Microsoft menyebut upaya paralel terhadap Azure SQL database dan storage account menunjukkan kemungkinan adanya usaha untuk memperluas dampak destruktif ke berbagai layanan data.
Pelaku Berusaha Menghapus Proteksi Recovery
Salah satu bagian penting dari serangan adalah upaya menghilangkan mekanisme yang dapat digunakan korban untuk melakukan pemulihan.
Storm-3168 mencoba menghapus backup dan recovery protections, termasuk Azure Site Recovery locks.
Jika berhasil, tindakan tersebut dapat membuat proses pemulihan setelah serangan menjadi lebih sulit.
Strategi ini sejalan dengan pola ransomware modern yang tidak hanya berusaha mengenkripsi data, tetapi juga mengganggu backup dan sistem recovery agar korban memiliki lebih sedikit pilihan ketika mencoba mengembalikan layanan.
Microsoft tidak melaporkan adanya tuntutan pembayaran dalam dua serangan yang diamati tersebut. Microsoft juga tidak mengonfirmasi adanya pencurian data pada kasus yang diamati.
Beberapa Upaya Penghapusan Gagal
Meskipun serangan berhasil menghapus banyak resource, tidak semua operasi destruktif berjalan sesuai rencana.
Upaya menghapus Azure SQL databases gagal karena pelaku menggunakan versi API yang tidak didukung.
Upaya menghapus beberapa recovery protection locks juga gagal.
Hal tersebut menunjukkan bahwa otomatisasi menggunakan AI agent tidak berarti setiap operasi yang dilakukan pelaku pasti berhasil. Agent tetap bergantung pada API, izin, konfigurasi, dan kondisi lingkungan cloud yang dihadapi.
Namun, kecepatan eksekusi tetap menjadi faktor penting.
Tahap destruktif dalam kasus ini berlangsung hanya sekitar tujuh menit, sehingga sejumlah besar resource dapat ditargetkan dalam waktu relatif singkat.
Storm-3168 Kembali Mengambil Storage Account Key
Sekitar 30 menit setelah upaya penghapusan, Storm-3168 kembali melakukan aktivitas terhadap lingkungan Azure.
Microsoft mencatat lebih dari 30 permintaan untuk mengambil storage account key, dan sebagian besar permintaan tersebut berhasil.
Storage account key dapat memberikan kemampuan akses yang sangat luas terhadap data pada storage account terkait. Karena itu, kebocoran atau penyalahgunaan key dapat memberikan dampak besar terhadap keamanan data.
Aktivitas setelah tahap penghapusan tersebut juga menunjukkan bahwa serangan tidak hanya berfokus pada penghancuran resource. Pengumpulan kredensial tetap menjadi bagian dari operasi yang dilakukan aktor.
Kredensial Service Principal Diduga Bocor di GitHub
Microsoft belum dapat memastikan secara pasti bagaimana Storm-3168 memperoleh akses awal.
Namun, peneliti menemukan indikasi bahwa kredensial untuk salah satu service principal pernah muncul dalam sebuah GitHub issue publik sebelum serangan berlangsung.
Jika kredensial tersebut masih aktif dan memiliki izin yang luas, informasi yang dipublikasikan secara tidak sengaja dapat menjadi titik masuk bagi penyerang.
Kasus ini kembali menunjukkan risiko menyimpan secret, API key, token, maupun kredensial cloud di repository publik atau platform kolaborasi yang dapat diakses umum.
Microsoft Mendorong Penerapan Least Privilege
Untuk mengurangi risiko serangan serupa, Microsoft dan peneliti keamanan merekomendasikan organisasi melakukan beberapa langkah perlindungan.
Pertama, organisasi perlu mengaktifkan cloud workload protection untuk meningkatkan visibilitas terhadap aktivitas mencurigakan di lingkungan cloud.
Administrator juga disarankan memeriksa repository publik, termasuk GitHub, untuk memastikan tidak ada secret atau kredensial cloud yang terekspos.
Selain itu, hak akses Azure RBAC perlu dievaluasi berdasarkan prinsip least privilege.
Service principal, aplikasi, automation tool, dan identitas non-manusia sebaiknya hanya diberikan permission yang benar-benar dibutuhkan.
Pemberian hak administratif yang terlalu luas dapat membuat satu kredensial yang bocor berubah menjadi akses untuk melakukan reconnaissance, mengambil secret, menghapus resource, hingga mengganggu sistem recovery.
AI Membuat Serangan Cloud Lebih Otomatis
Kasus JadePuffer memperlihatkan bagaimana AI agent dapat digunakan untuk mengotomatisasi operasi yang sebelumnya membutuhkan banyak langkah manual.
Dalam serangan terhadap Azure, agent dapat membantu menjalankan proses discovery, menentukan resource yang tersedia, mengambil kredensial, dan menjalankan operasi terhadap banyak target.
Bagi defender, tantangannya bukan hanya mendeteksi malware atau ransomware tradisional. Aktivitas berbahaya dapat muncul sebagai rangkaian operasi cloud yang secara individual terlihat seperti aktivitas administratif biasa.
Karena itu, pemantauan terhadap service principal, API calls, perubahan RBAC, pengambilan credential, operasi massal terhadap resource, dan penghapusan recovery protection menjadi semakin penting.
JadePuffer juga menunjukkan bahwa perlindungan cloud perlu mencakup bukan hanya data dan workload, tetapi juga mekanisme pemulihan. Resource locks, least-privilege access, pengamanan secret, serta monitoring aktivitas identitas dapat menjadi lapisan pertahanan yang membantu membatasi dampak ketika kredensial cloud berhasil dikompromikan.
Sumber: Microsoft Security Research








