Security

Admin Marketplace Rydox Mengaku Bersalah, Terancam Hukuman 22 Tahun Penjara

Salah satu administrator Rydox, marketplace ilegal yang menjual data pribadi curian, kredensial login, informasi kartu pembayaran, serta berbagai perangkat dan alat untuk melakukan kejahatan siber, telah mengaku bersalah di pengadilan Amerika Serikat.

Ardit Kutleshi, warga negara Kosovo berusia 28 tahun, mengaku bersalah atas konspirasi pencucian uang dan aggravated identity theft. Ia dijadwalkan menjalani proses vonis pada 9 Februari 2027 dan menghadapi hukuman maksimal hingga 22 tahun penjara.

Kasus tersebut merupakan hasil operasi penegakan hukum internasional yang sebelumnya berhasil menutup Rydox dan menangkap sejumlah administratornya.

Rydox Ditutup dalam Operasi Internasional

Kutleshi dan dua administrator Rydox lainnya, Jetmir Kutleshi dan Shpend Sokoli, ditangkap oleh aparat penegak hukum Kosovo dan Special Anti-Corruption Body (SPAK) Albania pada Desember 2024.

Operasi tersebut merupakan kerja sama internasional yang juga melibatkan pihak berwenang Malaysia.

Selain menangkap administrator, aparat menyita domain Rydox[.]cc dan mengambil alih server marketplace yang berada di Kuala Lumpur dengan bantuan Royal Malaysian Police.

Penutupan tersebut secara efektif menghentikan operasi marketplace yang telah menjadi salah satu tempat perdagangan data curian dan berbagai produk yang digunakan untuk aktivitas cybercrime.

Ardit Kutleshi kemudian diekstradisi dari Kosovo ke Amerika Serikat pada 2025 untuk menghadapi dakwaan terkait perannya sebagai administrator Rydox.

Marketplace Menjual Data Pribadi dan Kredensial Curian

Berdasarkan dokumen pengadilan, Rydox beroperasi sejak Februari 2016 hingga ditutup pada 2024.

Selama periode tersebut, para penjual di marketplace dilaporkan melakukan lebih dari 7.600 transaksi yang melibatkan kredensial login, informasi kartu kredit, dan data pribadi curian.

Data tersebut mencakup informasi sensitif warga Amerika Serikat, seperti:

  • Nomor Social Security.
  • Nama lengkap.
  • Alamat.
  • Kredensial login.
  • Informasi kartu pembayaran.
  • Identitas pribadi lainnya.

Data yang diperdagangkan dapat digunakan oleh pembeli untuk melakukan pencurian identitas, penipuan finansial, pengambilalihan akun, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya.

FBI menyebut marketplace tersebut menjual identitas dan kredensial ribuan korban.

Lebih dari 321.000 Produk Cybercrime Ditawarkan

Rydox tidak hanya menjadi tempat jual beli data pribadi.

Dokumen pengadilan menunjukkan marketplace tersebut juga menawarkan lebih dari 321.000 produk terkait cybercrime kepada lebih dari 18.000 pengguna.

Produk tersebut mencakup berbagai perangkat, software, tool, dan material yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas ilegal.

Model bisnis tersebut membuat Rydox berfungsi sebagai marketplace dengan berbagai kebutuhan pelaku kejahatan siber, mulai dari memperoleh data korban hingga mendapatkan perangkat dan software untuk melakukan serangan.

Menurut FBI, Rydox secara khusus menyediakan cybercrime tools dan data sensitif dalam satu platform yang dapat digunakan oleh banyak pelaku.

Transaksi Menggunakan Cryptocurrency

Rydox menggunakan sistem pembayaran berbasis cryptocurrency untuk memproses transaksi di marketplace.

Pengguna terlebih dahulu harus menyetor cryptocurrency ke akun mereka sebelum dapat membeli produk yang ditawarkan oleh penjual.

Metode pembayaran yang diterima mencakup:

  • Bitcoin (BTC).
  • Monero.
  • Ripple.
  • Ethereum.
  • Litecoin.
  • Perfect Money.
  • Tron.
  • Verge.

Dana tersebut dikirim ke wallet cryptocurrency yang dikendalikan Rydox dan kemudian digunakan untuk membayar produk, layanan, tool, maupun program ilegal yang dijual oleh para seller.

Penggunaan berbagai cryptocurrency membantu marketplace menjalankan transaksi tanpa mengandalkan sistem pembayaran konvensional.

Rydox Memungut Biaya dari Para Penjual

Rydox juga memiliki sistem keanggotaan khusus untuk pengguna yang ingin menjadi seller.

Calon penjual harus membayar biaya satu kali yang nilainya berkisar antara US$200 hingga US$500 untuk mendapatkan status penjual terverifikasi.

Setelah transaksi berhasil, seller memperoleh 60 persen dari hasil penjualan, sementara Rydox mengambil 40 persen sebagai bagian dari pendapatan marketplace.

Model tersebut menunjukkan bahwa Rydox beroperasi dengan struktur bisnis yang cukup terorganisir. Administrator tidak hanya menyediakan platform, tetapi juga memperoleh pendapatan dari setiap transaksi yang dilakukan melalui marketplace.

Ardit Kutleshi Mengaku Bersalah

Dalam proses hukum di Amerika Serikat, Kutleshi akhirnya mengaku bersalah atas dua dakwaan, yaitu aggravated identity theft dan money laundering conspiracy.

Kasus tersebut sebelumnya mencakup sejumlah dakwaan yang berkaitan dengan aktivitas Rydox, termasuk konspirasi pencurian identitas, aggravated identity theft, identity theft, access device fraud, serta pencucian uang.

Dengan pengakuan bersalah tersebut, Kutleshi kini menghadapi hukuman maksimal 20 tahun penjara untuk dakwaan konspirasi pencucian uang.

Sementara itu, dakwaan aggravated identity theft memiliki hukuman minimum dua tahun penjara.

Kedua ketentuan tersebut membuat Kutleshi menghadapi potensi hukuman maksimum hingga 22 tahun penjara, selain konsekuensi hukum lainnya yang dapat ditetapkan pengadilan.

Vonis dijadwalkan berlangsung pada 9 Februari 2027.

FBI Menyebut Penutupan Rydox sebagai Hasil Kerja Sama Internasional

FBI mengatakan penutupan Rydox merupakan hasil kerja sama antara lembaga penegak hukum Amerika Serikat dan mitra internasional.

Brett Leatherman, assistant director FBI Cyber Division, mengatakan Rydox menjual berbagai tool cybercrime serta data sensitif, termasuk identitas dan kredensial login ribuan orang.

Menurut FBI, penutupan marketplace tersebut menunjukkan bahwa operasi cybercrime yang menggunakan platform internasional tetap dapat menjadi target penegakan hukum lintas negara.

Penyitaan server di Malaysia dan penangkapan administrator di Kosovo juga memperlihatkan bagaimana infrastruktur marketplace kejahatan siber dapat tersebar di berbagai yurisdiksi.

Penegakan Hukum terhadap Marketplace Gelap Terus Berlanjut

Kasus Rydox merupakan bagian dari rangkaian tindakan hukum terhadap operator marketplace ilegal di dark web.

Sepanjang 2026, sejumlah operator marketplace lainnya juga telah menerima hukuman berat di Amerika Serikat.

Pemilik marketplace narkoba dark web Incognito Market dijatuhi hukuman 30 tahun penjara pada Februari 2026. Sementara itu, seorang penjual fentanyl dan methamphetamine melalui marketplace dark web Nemesis dijatuhi hukuman lebih dari 26 tahun penjara.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa aparat penegak hukum semakin aktif menargetkan bukan hanya pengguna marketplace ilegal, tetapi juga operator, administrator, dan penjual yang membangun ekosistem perdagangan tersebut.

Vonis Kutleshi Dijadwalkan Februari 2027

Dengan pengakuan bersalah, proses hukum terhadap Ardit Kutleshi kini memasuki tahap menuju vonis.

Pengadilan akan menentukan hukuman berdasarkan dakwaan yang diakui, ketentuan hukum yang berlaku, serta faktor-faktor lain yang dipertimbangkan dalam proses sentencing.

Sementara itu, penutupan Rydox telah menghentikan marketplace yang selama bertahun-tahun digunakan untuk memperdagangkan data pribadi, kredensial, serta berbagai alat cybercrime.

Kasus ini juga memperlihatkan bahwa marketplace kejahatan siber dapat beroperasi dengan struktur bisnis yang menyerupai platform perdagangan biasa, lengkap dengan sistem seller, biaya pendaftaran, komisi transaksi, wallet pembayaran, dan katalog produk. Namun, ketika infrastrukturnya berhasil diidentifikasi dan operatornya ditangkap, aktivitas tersebut dapat ditindak melalui kerja sama penegakan hukum lintas negara.

Sumber: FBI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button