Security

Serangan DDoS di Atas 1 Tbps Melonjak Lima Kali Lipat pada Kuartal II 2026

Serangan distributed denial-of-service (DDoS) berukuran sangat besar mengalami peningkatan tajam sepanjang kuartal kedua 2026. Jumlah serangan yang mencapai lebih dari 1 Tbps melonjak lebih dari lima kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Dalam laporan terbarunya, Cloudflare mencatat telah memitigasi lebih dari 800 serangan DDoS network-layer dengan bandwidth di atas 1 Tbps selama kuartal kedua tahun ini. Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan 130 serangan dengan skala serupa yang tercatat pada kuartal pertama.

Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa pelaku serangan DDoS semakin mampu menghasilkan traffic dalam volume yang sangat besar untuk melumpuhkan layanan online, meskipun sebagian besar serangan secara keseluruhan masih memiliki ukuran relatif kecil dan berlangsung singkat.

Serangan DDoS Lebih dari 1 Tbps Naik 519 Persen

Peningkatan paling mencolok terjadi pada kategori serangan network-layer dengan bandwidth di atas 1 Tbps.

Dibandingkan kuartal pertama, jumlah serangan dalam kategori tersebut meningkat 519 persen pada kuartal kedua. Dari hanya 130 serangan, jumlahnya naik menjadi lebih dari 800 serangan dalam periode tiga bulan.

Peningkatan juga terlihat pada serangan dengan skala sedikit lebih rendah. Serangan berukuran antara 500 Gbps hingga 1 Tbps meningkat 143 persen secara quarter-over-quarter.

Sementara itu, serangan dengan kapasitas antara 100 Gbps hingga 500 Gbps mengalami peningkatan 105 persen.

Dengan demikian, pertumbuhan tidak hanya terjadi pada serangan DDoS ekstrem, tetapi juga pada berbagai kategori serangan berkapasitas tinggi.

23,2 Juta Serangan DDoS Dimitigasi

Secara keseluruhan, aktivitas DDoS pada paruh pertama 2026 mencapai skala yang sangat besar.

Cloudflare mencatat telah memitigasi sekitar 23,2 juta serangan DDoS network-layer sepanjang enam bulan pertama tahun ini. Pada periode yang sama, perusahaan juga menangani sekitar 29,64 triliun malicious HTTP requests.

Jika dibandingkan antara kuartal pertama dan kedua, jumlah serangan network-layer meningkat dari 10,04 juta menjadi 13,17 juta. Kenaikannya mencapai 31,2 persen.

Volume malicious HTTP requests juga meningkat dari 12,75 triliun menjadi 16,89 triliun, atau naik sekitar 32,4 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan DDoS tidak hanya terjadi pada serangan berkapasitas bandwidth tinggi, tetapi juga pada volume aktivitas secara keseluruhan.

Sebagian Besar Serangan Masih Berukuran Kecil

Meskipun serangan di atas 1 Tbps mengalami lonjakan tajam, mayoritas serangan DDoS tetap berada pada skala yang jauh lebih rendah.

Sekitar 96,62 persen serangan network-layer yang diamati memiliki bandwidth di bawah 50 Mbps. Selain itu, sekitar 90,6 persen serangan berakhir dalam waktu kurang dari 10 menit.

Artinya, peningkatan serangan berukuran ekstrem tidak serta-merta berarti seluruh aktivitas DDoS menjadi lebih besar.

Namun, durasi serangan yang berlangsung lebih dari tiga jam mengalami peningkatan. Porsinya naik dari 0,387 persen pada kuartal pertama menjadi 0,828 persen pada kuartal kedua 2026.

Meskipun persentasenya masih kecil, perubahan tersebut menunjukkan adanya peningkatan pada serangan yang dirancang untuk bertahan lebih lama dan memberikan tekanan operasional yang lebih besar terhadap target.

April Menjadi Bulan dengan Aktivitas DDoS Tertinggi

Aktivitas DDoS secara keseluruhan mencapai puncaknya pada April 2026.

Pada bulan tersebut, Cloudflare mencatat sekitar 6,46 triliun HTTP DDoS requests dan sekitar 165 petabyte traffic serangan pada network layer.

Setelah mencapai puncak pada April, aktivitas DDoS kemudian mengalami penurunan yang cukup terlihat.

Cloudflare mengaitkan kemungkinan penurunan tersebut dengan Operation PowerOFF, operasi internasional yang menargetkan layanan DDoS-for-hire.

Operasi tersebut menghasilkan penangkapan empat orang, pengambilalihan 53 domain, serta pengiriman peringatan kepada sekitar 75.000 pengguna layanan DDoS-for-hire.

Meski belum dapat dipastikan sebagai satu-satunya penyebab penurunan aktivitas, tindakan terhadap ekosistem DDoS-for-hire tersebut diduga memberikan dampak terhadap kemampuan sebagian pelaku dalam melancarkan serangan.

DNS Flood dan Amplification Semakin Dominan

Salah satu perubahan penting yang terlihat selama kuartal kedua adalah pergeseran teknik serangan menuju metode yang berkaitan dengan DNS serta reflection dan amplification.

DNS flood menyumbang sekitar 40 persen dari serangan pada kuartal kedua, meningkat cukup jauh dibandingkan 25,7 persen pada kuartal pertama.

Jika digabungkan dengan DNS amplification, kedua teknik tersebut menyumbang sekitar 34,3 persen dari seluruh serangan network-layer selama paruh pertama 2026.

Teknik lain juga mengalami peningkatan signifikan. Serangan CLDAP flood melonjak 881,9 persen secara quarter-over-quarter.

Sementara itu, UDP flood menjadi teknik serangan terbesar kedua pada kuartal kedua dengan pangsa sekitar 14,06 persen.

Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa pelaku terus memanfaatkan protokol dan infrastruktur jaringan yang dapat digunakan untuk menghasilkan traffic dalam jumlah besar melalui teknik reflection maupun amplification.

Sektor Media Menjadi Target Terbesar

Dari sisi target, sektor Media, Production, and Publishing menerima porsi terbesar malicious HTTP DDoS requests yang dimitigasi sepanjang paruh pertama 2026.

Sektor tersebut menyumbang sekitar 14,2 persen dari seluruh HTTP DDoS requests yang berhasil ditangani.

Sektor pemerintahan juga mengalami peningkatan aktivitas serangan yang cukup signifikan.

Menurut Cloudflare, peningkatan terhadap organisasi pemerintah kemungkinan berkaitan dengan perkembangan geopolitik dan meningkatnya aktivitas hacktivism. Konflik dan operasi militer internasional dapat mendorong kelompok hacktivist untuk menggunakan DDoS sebagai alat gangguan terhadap situs dan layanan milik pemerintah.

Serangan DDoS Semakin Besar dan Beragam

Data sepanjang paruh pertama 2026 menunjukkan dua karakteristik yang berjalan secara bersamaan.

Di satu sisi, mayoritas serangan masih berukuran kecil dan berlangsung singkat. Di sisi lain, jumlah serangan berkapasitas ekstrem terus meningkat, termasuk serangan yang mampu menembus 1 Tbps.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pelaku DDoS memiliki semakin banyak pilihan dalam menentukan skala serangan. Mereka dapat melancarkan serangan singkat dengan volume kecil untuk mengganggu layanan, maupun memanfaatkan botnet dan teknik amplification untuk menghasilkan traffic dalam skala terabit.

Tren tersebut juga memperlihatkan pentingnya perlindungan DDoS yang mampu menangani serangan pada berbagai layer. Infrastruktur yang hanya mengandalkan kapasitas bandwidth besar tanpa kemampuan filtering dan mitigation yang memadai tetap dapat menghadapi risiko ketika serangan diarahkan pada aplikasi atau protokol tertentu.

Dengan melonjaknya serangan berukuran lebih dari 1 Tbps serta meningkatnya penggunaan DNS flood, CLDAP flood, dan UDP flood, organisasi perlu memastikan bahwa sistem proteksi mereka mampu menghadapi serangan volumetric sekaligus serangan yang menargetkan protokol dan aplikasi.

Sumber: Cloudflare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button