Security

Pria Illinois Divonis 6 Tahun Penjara karena Retas Ratusan Akun Snapchat

Seorang pria asal Illinois dijatuhi hukuman 76 bulan penjara setelah mengaku melakukan phishing terhadap kode akses Snapchat milik ratusan perempuan untuk mengambil gambar pribadi, lalu memperjualbelikan atau menukarnya secara online.

Terdakwa, Kyle Svara, 27 tahun, dari Oswego, Illinois, juga dijatuhi tiga tahun supervised release setelah masa penjara. Putusan tersebut dijatuhkan pada 21 Juli 2026 oleh Hakim Distrik AS Brian E. Murphy di pengadilan federal Boston.

Svara sebelumnya mengaku bersalah atas aggravated identity theft, wire fraud, computer fraud, conspiracy to commit computer fraud, serta false statements terkait investigasi materi eksploitasi seksual anak. Ia didakwa pada Desember 2025 dan mengajukan pengakuan bersalah pada Februari 2026.

Gunakan Social Engineering untuk Mencuri Kode Snapchat

Menurut dokumen Departemen Kehakiman AS, Svara menjalankan aksinya setidaknya sejak Mei 2020 hingga Februari 2021. Ia mengumpulkan email, nomor telepon, dan username Snapchat korban, lalu menggunakan informasi tersebut untuk memicu pengiriman kode keamanan dari Snap Inc.

Dengan memakai nomor telepon anonim, Svara kemudian menyamar sebagai perwakilan Snap dan mengirim pesan kepada lebih dari 4.500 target untuk meminta kode akses tersebut. Setelah korban memberikan kode, ia masuk ke akun Snapchat tanpa izin.

Contoh pesan phishing yang digunakan untuk meminta kode akses Snapchat
Contoh pesan phishing yang digunakan untuk meminta kode akses Snapchat. Sumber: U.S. Department of Justice

Jaksa menyebut sekitar 570 perempuan memberikan kode akses yang diminta. Svara kemudian mengakses sekitar 517 akun Snapchat perempuan tanpa izin untuk mengambil gambar pribadi. Dalam sejumlah kasus, ia juga mengaktifkan two-factor authentication agar korban terkunci dari akun mereka sendiri.

Menawarkan Jasa Hack di Forum Online

Selain menjalankan aksinya sendiri, Svara juga menawarkan kemampuan tersebut kepada orang lain melalui forum online. Ia mengiklankan bahwa dirinya dapat masuk ke akun Snapchat perempuan dan meminta calon klien menghubunginya melalui aplikasi pesan Kik.

Iklan online yang menawarkan akses ilegal ke akun Snapchat
Iklan online yang menawarkan akses ilegal ke akun Snapchat. Sumber: U.S. Department of Justice

Salah satu kliennya adalah Steve Waithe, mantan pelatih atletik Northeastern University, yang membayar Svara untuk meretas akun Snapchat mahasiswi atlet. Waithe sendiri telah divonis lima tahun penjara pada Maret 2024 setelah dinyatakan bersalah dalam kasus cyber fraud, cyberstalking, sextortion, dan computer fraud.

Di luar pekerjaan berbayar tersebut, Svara juga menargetkan perempuan di sekitar Plainfield, Illinois, termasuk tetangga, teman keluarga, teman sekolah, teman pribadi, serta orang-orang yang terkait dengan keluarganya. Sebagian korban lainnya adalah mahasiswa Colby College di Waterville, Maine.

Penyidik Temukan Catatan Target dan Bukti Tambahan

Investigasi menemukan bahwa Svara menyimpan spreadsheet dan catatan di komputer maupun ponselnya untuk melacak daftar korban, informasi kontak, username Snapchat dan Instagram, serta status keberhasilan upaya peretasan.

Catatan tersebut juga memuat informasi personal korban yang diduga diberikan oleh pihak yang membeli jasa peretasan, termasuk minat, lokasi, dan tanggal lahir yang dapat digunakan untuk menebak password atau menjawab pertanyaan keamanan.

Penyidik juga menemukan materi eksploitasi seksual anak dalam akun penyimpanan cloud milik Svara. Saat diwawancarai, ia sempat memberikan keterangan palsu kepada penyidik dengan mengaku tidak mengetahui aktivitas peretasan Snapchat dan tidak memiliki ketertarikan terhadap materi ilegal tersebut.

Kasus Ini Soroti Risiko Phishing Kode Login

Kasus ini menunjukkan bahwa serangan terhadap akun pribadi tidak selalu membutuhkan malware atau eksploit teknis canggih. Kode verifikasi yang diberikan secara sukarela kepada pelaku dapat menjadi kunci untuk mengambil alih akun, terutama ketika pelaku berhasil membangun skenario yang terlihat meyakinkan.

Pengguna layanan online disarankan tidak pernah membagikan kode login, recovery code, atau one-time password kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai perwakilan perusahaan. Platform resmi umumnya tidak meminta kode keamanan melalui SMS atau pesan pribadi.

Aktivasi multi-factor authentication tetap penting, tetapi pengguna juga perlu memastikan metode pemulihan akun aman, nomor telepon dan email tidak mudah diambil alih, serta segera mengganti password jika menerima notifikasi login yang tidak dikenal.

Sumber: U.S. Department of Justice

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button