Vendor Dark Web “Nemesis Market” Divonis 26 Tahun Penjara Akibat Jual Fentanyl dan Sabu

Seorang pria asal California dijatuhi hukuman lebih dari 26 tahun penjara di penjara federal karena terbukti mengedarkan narkotika jenis fentanyl dan metamfetamin (sabu) melalui Nemesis Market, salah satu pasar gelap (dark web marketplace) terbesar di dunia.
Terdakwa bernama Darren Hughes (39 tahun) asal San Jose, sebelumnya telah dinyatakan bersalah atas dakwaan perdagangan narkoba pada November 2025. Vonis resmi dijatuhkan oleh Hakim Distrik AS, John F. Kness, pada 26 Mei lalu.
Taktik Dagang: Berikan Sampel Sabu Gratis untuk Gaet Pembeli
Berdasarkan dokumen persidangan, Hughes mengoperasikan toko daring di Nemesis Market dengan strategi yang cukup berani untuk menarik calon pelanggan, yaitu menawarkan sampel sabu secara gratis.
Siasat ini justru menjadi pintu masuk bagi aparat penegak hukum untuk membongkar kedoknya:
- Jebakan Agen Menyamar: Hughes mengirimkan sampel sabu gratis tersebut kepada seorang agen penegak hukum yang sedang menyamar (undercover agent).
- Transaksi Kripto: Setelah komunikasi terjalin, Hughes tercatat melakukan transaksi penjualan sabu dan pil fentanyl sebanyak lima kali terpisah kepada agen tersebut sepanjang tahun 2023. Seluruh pembayaran dilakukan menggunakan mata uang kripto (cryptocurrency) demi menyamarkan jejak keuangan.
Penangkapan dan Penyitaan “Ghost Gun” Tanpa Nomor Seri
Pelarian Hughes berakhir pada 28 Juni 2023. Kepolisian Redwood City (Redwood City Police Department) berhasil meringkus Hughes di California setelah menjebaknya dalam skenario transaksi pembelian berikutnya yang diatur oleh agen penegak hukum.
Saat melakukan penggeledahan terhadap kendaraan pribadi milik Hughes, detektif dari Street Crime Suppression Team menemukan barang bukti berupa:
- Sekitar 672 gram metamfetamin siap edar.
- Satu pucuk senjata api rakitan ilegal (ghost gun) kaliber 9mm dalam kondisi terisi peluru dan tanpa nomor seri pabrikan.
Pernyataan Tegas Aparat Hukum: “Para kriminal yang menjual racun di dark web sering kali bertindak dengan rasa aman yang semu karena mereka keliru mengira bahwa mereka berada di luar jangkauan hukum federal. Kejaksaan AS di Chicago dan mitra penegak hukum kami akan terus mengidentifikasi, menyelidiki, dan menuntut pengedar narkoba di mana pun mereka beroperasi—termasuk di jejaring dark net,” tegas Jaksa AS, Andrew S. Boutros.
Sekilas tentang Nemesis Market: Runtuhnya Raksasa Pasar Gelap
Nemesis Market pertama kali diluncurkan pada tahun 2021 dan dengan cepat tumbuh menjadi salah satu platform ilegal online terbesar di dunia untuk perdagangan narkoba, data curian, dan layanan siber ilegal, sebelum akhirnya berhasil digulung oleh otoritas gabungan Jerman dan Amerika Serikat pada Maret 2024.
Statistik Nemesis Market di Puncak Kejayaannya:
- Pengguna: Menampung lebih dari 150.000 akun pembeli dan 1.100 akun vendor/penjual terverifikasi.
- Transaksi: Memproses lebih dari 400.000 pesanan secara total.
- Komoditas Terlarang: Termasuk sekitar 17.000 pesanan untuk golongan opioid (fentanyl, heroin, oksikodon) dan lebih dari 55,000 pesanan untuk zat psikotropika (sabu, kokain, dan crack kokain).
Operasi penumbangan infrastruktur (take down) Nemesis Market dipimpin oleh Kantor Polisi Kriminal Federal Jerman (BKA) dan unit kejahatan siber Frankfurt pada 20 Maret 2024. Petugas menyita server utama yang berlokasi di Jerman dan Lithuania, serta mengamankan uang tunai senilai USD 100.000. Penyidikan panjang ini melibatkan kolaborasi internasional sejak Oktober 2022 bersama lembaga federal AS seperti FBI, DEA, dan IRS-CI (Internal Revenue Service Criminal Investigation).
Sumber: Laporan Penegakan Hukum Departemen Kehakiman AS / Kejaksaan Distrik Illinois








