Cisco Peringatkan 5 Kerentanan Kritis NX-OS yang Memungkinkan Hacker Mengambil Alih Switch Nexus

Cisco merilis sejumlah security advisory terkait lima kerentanan kritis pada sistem operasi jaringan NX-OS yang dapat memungkinkan attacker mengeksekusi kode berbahaya dengan hak akses root pada perangkat switch Cisco Nexus. Kerentanan tersebut berdampak pada perangkat Nexus 3000 dan Nexus 9000 Series yang banyak digunakan dalam infrastruktur jaringan data center.
Kelima celah keamanan tersebut memiliki tingkat keparahan kritis dengan skor CVSS 9.8 dan berpotensi dimanfaatkan oleh attacker dari jarak jauh tanpa memerlukan autentikasi. Jika berhasil dieksploitasi, penyerang dapat menjalankan arbitrary code dengan privilege tertinggi pada perangkat yang terdampak.
Selain memungkinkan remote code execution (RCE), kerentanan tersebut juga dapat menyebabkan kondisi denial-of-service (DoS) dengan memicu crash pada proses sistem hingga memaksa perangkat melakukan reload.
Dalam security advisory yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026, Cisco menjelaskan bahwa kerentanan ditemukan pada sejumlah fitur NX-OS, termasuk NX-API, Next Generation Operations, Administration, and Maintenance (NGOAM), serta MPLS OAM.
Meski demikian, tidak seluruh perangkat Nexus secara otomatis rentan terhadap eksploitasi. Risiko serangan bergantung pada konfigurasi fitur yang diaktifkan pada masing-masing perangkat.
Lima Kerentanan Kritis Ancam Cisco Nexus 3000 dan 9000 Series
Cisco mengidentifikasi lima kerentanan yang memengaruhi perangkat Nexus 3000 dan Nexus 9000 Series ketika menjalankan NX-OS dalam mode standalone.
Seluruh kerentanan tersebut berkaitan dengan kelemahan dalam proses validasi input atau paket jaringan yang diterima oleh fitur tertentu.
Kondisi tersebut memungkinkan attacker mengirimkan request atau paket jaringan yang dirancang khusus untuk memicu kesalahan pemrosesan pada sistem.
Dalam skenario eksploitasi yang berhasil, attacker dapat memperoleh kemampuan mengeksekusi kode dengan hak akses root atau menyebabkan gangguan pada ketersediaan perangkat.
Kelima kerentanan yang diidentifikasi Cisco meliputi CVE-2026-76471, CVE-2026-76485, CVE-2026-76486, CVE-2026-76501, dan CVE-2026-76465.
Masing-masing kerentanan memengaruhi komponen berbeda dalam NX-OS dan memiliki persyaratan konfigurasi tertentu agar dapat dieksploitasi.
Karena Nexus Series umumnya digunakan sebagai komponen penting dalam jaringan data center, kompromi terhadap perangkat tersebut berpotensi berdampak pada operasional jaringan, konektivitas server, serta layanan yang bergantung pada infrastruktur switching.
Namun, potensi dampak tersebut tetap bergantung pada peran perangkat, segmentasi jaringan, dan konfigurasi keamanan yang diterapkan organisasi.
CVE-2026-76471 Memungkinkan Remote Code Execution Melalui NX-API
Kerentanan pertama, CVE-2026-76471, ditemukan pada fitur NX-API dalam Cisco NX-OS.
NX-API merupakan antarmuka yang memungkinkan administrator maupun sistem otomatisasi melakukan konfigurasi dan pengelolaan perangkat Nexus melalui API berbasis HTTP atau HTTPS.
Fitur ini sering digunakan dalam implementasi network automation untuk menyederhanakan pengelolaan perangkat jaringan dalam lingkungan data center.
Menurut Cisco, kerentanan terjadi akibat insufficient input validation ketika NX-API memproses request yang diterima.
Attacker dapat mengeksploitasi kelemahan tersebut dengan mengirimkan HTTP request yang dibuat khusus menuju antarmuka NX-API pada perangkat terdampak.
Eksploitasi yang berhasil berpotensi memungkinkan eksekusi arbitrary code dengan hak akses root atau memicu kondisi denial-of-service.
Cisco menegaskan bahwa NX-API berada dalam kondisi disabled secara default.
Dengan demikian, perangkat yang tidak mengaktifkan fitur tersebut tidak terdampak oleh jalur eksploitasi CVE-2026-76471.
Meski begitu, organisasi yang menggunakan NX-API untuk otomatisasi jaringan perlu memeriksa konfigurasi perangkat dan memastikan NX-OS telah diperbarui ke versi yang mendapatkan perbaikan keamanan.
Tiga Kerentanan NGOAM Dapat Dieksploitasi Melalui Paket Jaringan
Tiga kerentanan berikutnya, yaitu CVE-2026-76485, CVE-2026-76486, dan CVE-2026-76501, ditemukan pada fitur Next Generation OAM atau NGOAM.
NGOAM digunakan untuk mendukung fungsi Operations, Administration, and Maintenance dalam lingkungan jaringan, termasuk aktivitas pemantauan dan troubleshooting konektivitas.
Kerentanan ini disebabkan oleh validasi yang tidak memadai ketika perangkat memproses traffic IP tertentu.
Attacker dapat memanfaatkan kelemahan tersebut dengan mengirimkan paket jaringan yang dibuat khusus menuju IP interface pada perangkat yang terdampak.
Apabila eksploitasi berhasil, attacker berpotensi menjalankan kode dengan hak akses root atau menyebabkan proses sistem mengalami crash.
Namun, masing-masing CVE memiliki kondisi eksploitasi yang berbeda.
CVE-2026-76485 dapat memengaruhi perangkat Nexus 3000 dan Nexus 9000 Series apabila fitur NGOAM telah diaktifkan. Tidak diperlukan konfigurasi fitur tambahan selain NGOAM untuk memenuhi kondisi kerentanan tersebut.
Sementara itu, CVE-2026-76486 memiliki persyaratan yang lebih spesifik. Selain NGOAM aktif, perangkat harus menggunakan Segment Routing over IPv6 (SRv6) atau Network Virtualization (NV) Overlay.
Untuk konfigurasi NV Overlay, Cisco menjelaskan bahwa eksploitasi juga bergantung pada keberadaan VXLAN Ethernet VPN (EVPN) VXLAN Network Identifier (VNI) yang dipetakan ke Network Virtualization Endpoint (NVE) interface.
Konfigurasi tersebut harus memiliki setidaknya satu peer VXLAN Tunnel Endpoint (VTEP) yang telah dipelajari, misalnya melalui BGP EVPN atau konfigurasi static peer menggunakan ingress replication.
Adapun CVE-2026-76501 hanya dapat dieksploitasi ketika NGOAM dan SRv6 sama-sama diaktifkan.
Cisco menjelaskan bahwa SRv6 tidak didukung pada Nexus 3000 Series dan hanya tersedia pada model tertentu dari Nexus 9000 Series.
Artinya, tidak seluruh perangkat dalam keluarga Nexus memiliki persyaratan teknis untuk terdampak oleh CVE-2026-76501.
Perbedaan kondisi tersebut membuat pemeriksaan konfigurasi menjadi langkah penting dalam menentukan apakah suatu perangkat benar-benar memiliki risiko eksploitasi.
CVE-2026-76465 Menargetkan Fitur MPLS OAM
Kerentanan kelima, CVE-2026-76465, memengaruhi komponen MPLS Operations, Administration, and Maintenance pada Cisco NX-OS.
Fitur MPLS OAM digunakan untuk mendukung aktivitas operasional, pemantauan, dan troubleshooting dalam jaringan yang menggunakan Multiprotocol Label Switching (MPLS).
Cisco menjelaskan bahwa kerentanan muncul akibat improper validation ketika perangkat memproses paket MPLS echo-request.
Attacker yang dapat menjangkau alamat IP perangkat terdampak berpotensi mengirimkan request yang dibuat khusus untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut.
Dampak eksploitasi mencakup kemungkinan eksekusi kode dengan root privileges hingga terjadinya denial-of-service.
Namun, Cisco menyatakan bahwa fitur MPLS OAM harus diaktifkan secara eksplisit agar kerentanan tersebut dapat dieksploitasi.
Secara default, MPLS OAM berada dalam kondisi nonaktif.
Selain itu, perangkat Nexus 9000 Series yang menggunakan Silicon One ASIC tidak mendukung fitur MPLS OAM yang terdampak sehingga tidak rentan terhadap CVE-2026-76465.
Perbedaan dukungan fitur antarplatform menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan administrator ketika melakukan penilaian risiko.
Nexus 7000 dan Nexus 9000 dalam Mode ACI Tidak Terdampak
Cisco memastikan bahwa kelima kerentanan kritis tersebut tidak memengaruhi seluruh produk dalam keluarga Nexus.
Perangkat Cisco Nexus 7000 Series dinyatakan tidak terdampak oleh lima kerentanan yang diungkapkan.
Demikian pula, Cisco Nexus 9000 Series yang beroperasi dalam mode Application Centric Infrastructure (ACI) tidak terdampak oleh kelima CVE tersebut.
Kerentanan yang dibahas secara khusus memengaruhi Nexus 3000 dan Nexus 9000 Series ketika menjalankan standalone NX-OS dengan konfigurasi fitur tertentu.
Perbedaan antara standalone NX-OS dan ACI mode menjadi penting karena keduanya memiliki pendekatan pengelolaan dan implementasi jaringan yang berbeda.
Administrator yang mengelola infrastruktur Nexus perlu memastikan mode operasional perangkat sebelum menentukan langkah mitigasi.
Meskipun kelima kerentanan tersebut tidak memengaruhi mode ACI, administrator tetap perlu memperhatikan security advisory lain yang dirilis Cisco untuk platform dan komponen yang berbeda.
Cisco Sarankan Upgrade NX-OS dan Menonaktifkan Fitur yang Tidak Diperlukan
Untuk mengatasi kelima kerentanan tersebut, Cisco merekomendasikan pelanggan segera memperbarui NX-OS ke versi yang telah mendapatkan security fix.
Administrator dapat menggunakan Cisco Software Checker untuk mengidentifikasi versi perangkat lunak yang terdampak dan menentukan rilis yang telah mendapatkan perbaikan.
Karena versi perbaikan dapat berbeda berdasarkan model perangkat dan cabang NX-OS yang digunakan, organisasi disarankan mengikuti rekomendasi upgrade yang sesuai dengan lingkungan masing-masing.
Selain melakukan pembaruan, Cisco juga menyarankan administrator menonaktifkan fitur NX-API, NGOAM, atau MPLS OAM apabila tidak diperlukan dalam operasional jaringan.
Penonaktifan fitur yang terdampak dapat menghilangkan jalur eksploitasi terkait, selama fitur tersebut memang tidak sedang digunakan untuk kebutuhan operasional.
Namun, perubahan konfigurasi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap network automation, monitoring, dan troubleshooting.
Sebagai contoh, menonaktifkan NX-API pada perangkat yang digunakan dalam sistem otomatisasi dapat mengganggu proses pengelolaan jaringan yang bergantung pada API tersebut.
Demikian pula, penonaktifan NGOAM atau MPLS OAM dapat memengaruhi kemampuan pemantauan dan diagnostik jaringan tertentu.
Karena itu, administrator perlu melakukan evaluasi terhadap dependensi fitur sebelum menerapkan perubahan konfigurasi pada perangkat produksi.
Cisco Sediakan Live Protect untuk Perangkat yang Belum Bisa Di-upgrade
Selain menyediakan perbaikan melalui pembaruan NX-OS, Cisco juga menghadirkan perlindungan sementara melalui Cisco Live Protect untuk kelima kerentanan tersebut.
Live Protect merupakan mekanisme perlindungan yang memungkinkan penerapan security shield pada perangkat yang mendukungnya.
Solusi ini ditujukan untuk membantu organisasi mengurangi risiko eksploitasi ketika perangkat belum dapat segera diperbarui atau di-reboot.
Kondisi tersebut cukup umum ditemukan dalam lingkungan data center yang menjalankan layanan penting dan membutuhkan perencanaan maintenance window sebelum melakukan upgrade perangkat jaringan.
Dengan adanya Live Protect, administrator memiliki opsi mitigasi sementara sambil mempersiapkan pembaruan NX-OS secara menyeluruh.
Namun, perlindungan sementara ini tidak menggantikan kebutuhan untuk memasang versi perangkat lunak yang telah diperbaiki.
Cisco tetap merekomendasikan upgrade sebagai langkah utama untuk mengatasi kerentanan secara permanen.
Seluruh kelima kerentanan NX-OS tersebut ditemukan melalui proses pengujian keamanan internal Cisco.
Pada saat security advisory diterbitkan, perusahaan menyatakan belum mengetahui adanya pengumuman publik mengenai eksploitasi ataupun aktivitas serangan berbahaya yang memanfaatkan kerentanan tersebut.
Dengan demikian, belum terdapat indikasi eksploitasi aktif yang diketahui Cisco pada saat pengungkapan awal.
Cisco License Juga Memiliki Kerentanan dengan Skor CVSS 10.0
Selain memperbaiki kerentanan pada Nexus NX-OS, Cisco turut merilis security hardening update untuk Cisco License On-Prem, yang sebelumnya dikenal sebagai Cisco Smart Software Manager On-Prem.
Pembaruan tersebut mengatasi empat kategori kerentanan keamanan, termasuk kelemahan yang mendapatkan skor CVSS maksimum 10.0.
Salah satu yang paling serius adalah CVE-2026-76482, dengan skor CVSS 10.0, yang berkaitan dengan improper verification of cryptographic signature.
Kerentanan ini menunjukkan adanya kelemahan dalam mekanisme verifikasi tanda tangan kriptografis yang digunakan oleh perangkat lunak.
Selain itu, Cisco juga mengidentifikasi CVE-2026-76480 dengan skor CVSS 9.8, yang berkaitan dengan missing authentication for critical functions.
Kelemahan tersebut berpotensi memungkinkan fungsi penting diakses tanpa proses autentikasi yang semestinya.
Kerentanan berikutnya adalah CVE-2026-76483, dengan skor CVSS 9.1, yang berkaitan dengan perlindungan kredensial yang tidak memadai.
Sementara itu, CVE-2026-76484 mendapatkan skor CVSS 8.8 dan dikategorikan sebagai code injection.
Keempat kategori kerentanan ini memiliki karakteristik berbeda, tetapi semuanya menunjukkan pentingnya penerapan kontrol keamanan yang memadai pada sistem pengelolaan lisensi perangkat lunak.
Cisco menjelaskan bahwa rilis Cisco License On-Prem yang terdampak tetap rentan tanpa memandang konfigurasi yang digunakan.
Berbeda dari kerentanan NX-OS yang bergantung pada pengaktifan fitur tertentu, masalah keamanan pada Cisco License On-Prem tidak dapat dihindari hanya melalui perubahan konfigurasi.
Cisco License On-Prem Wajib Diperbarui ke Versi 10-202609
Untuk mengatasi kerentanan pada Cisco License On-Prem, Cisco merekomendasikan upgrade ke versi 10-202609.
Versi tersebut merupakan rilis yang telah mendapatkan perbaikan terhadap kelemahan keamanan yang diungkapkan dalam advisory terbaru.
Cisco menyatakan bahwa rilis 10-202608 dan versi sebelumnya dalam cabang 10 terdampak oleh masalah tersebut.
Sementara itu, versi lama yang masih menggunakan penamaan Smart Software Manager On-Prem tidak akan menerima patch langsung untuk kerentanan ini.
Pengguna rilis lama tersebut disarankan melakukan migrasi ke versi Cisco License On-Prem yang masih mendapatkan dukungan dan perbaikan keamanan.
Cisco juga menegaskan bahwa tidak tersedia workaround untuk mengatasi kerentanan tersebut.
Artinya, pembaruan atau migrasi ke rilis yang telah diperbaiki merupakan langkah yang diperlukan untuk menghilangkan risiko keamanan yang telah diidentifikasi.
Administrator yang masih mengoperasikan Cisco License On-Prem versi lama perlu memprioritaskan perencanaan upgrade, terutama apabila sistem tersebut dapat diakses dari jaringan yang tidak tepercaya.
Administrator Data Center Diminta Segera Memeriksa Konfigurasi dan Versi NX-OS
Rangkaian security advisory terbaru Cisco menyoroti pentingnya pengelolaan patch serta pemeriksaan konfigurasi perangkat jaringan yang digunakan dalam infrastruktur data center.
Perangkat switch seperti Cisco Nexus memiliki peran penting dalam menghubungkan server, storage, sistem virtualisasi, dan berbagai komponen jaringan lainnya.
Kerentanan yang memungkinkan attacker memperoleh root privileges dapat menimbulkan risiko serius terhadap integritas dan ketersediaan infrastruktur apabila berhasil dieksploitasi.
Sementara itu, serangan denial-of-service terhadap switch berpotensi menyebabkan gangguan konektivitas pada layanan yang bergantung pada perangkat terdampak.
Organisasi yang menggunakan Nexus 3000 atau Nexus 9000 Series sebaiknya segera melakukan inventarisasi perangkat dan memeriksa apakah NX-API, NGOAM, atau MPLS OAM sedang diaktifkan.
Pemeriksaan tersebut perlu dilanjutkan dengan identifikasi versi NX-OS yang digunakan serta kesesuaiannya dengan rilis perbaikan yang disediakan Cisco.
Administrator juga perlu memastikan bahwa antarmuka manajemen dan layanan diagnostik jaringan tidak dapat diakses secara bebas dari jaringan yang tidak tepercaya.
Pembatasan akses berbasis Access Control List (ACL), segmentasi management network, serta monitoring aktivitas perangkat dapat membantu memperkecil attack surface.
Meski Cisco belum menemukan indikasi eksploitasi aktif terhadap kelima kerentanan pada saat publikasi advisory, tingkat keparahan CVSS 9.8 dan potensi eksekusi kode dengan hak akses root menjadikan pembaruan keamanan ini penting untuk diprioritaskan.
Dengan menerapkan versi NX-OS yang telah diperbaiki, menonaktifkan fitur yang tidak diperlukan, dan memanfaatkan perlindungan sementara jika tersedia, organisasi dapat mengurangi risiko kompromi terhadap infrastruktur jaringan yang menjalankan layanan penting.
Sumber: Cisco Security Advisory







