Security

FBI Gerebek “Laptop Farm” Pekerja IT Korea Utara di Texas dan Tangkap Pelaku Warga AS

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (U.S. Department of Justice / DoJ) sukses melumpuhkan sebagian operasional kelompok ancaman siber asal Korea Utara, Famous Chollima, melalui penangkapan dua tersangka utama, penetapan status buron terhadap 14 individu, serta penyitaan hampir 187 unit komputer jinjing yang digunakan dalam skema pekerja IT jarak jauh ilegal.

Kelompok Famous Chollima—yang juga dikenal dengan sebutan WageMole—merupakan kelompok threat actor asal Korea Utara yang kerap menjalankan modus operasional penipuan pekerja IT guna meraup pendapatan gelap demi mendanai rezim DPRK (Democratic People’s Republic of Korea). Mengingat Korea Utara hingga saat ini masih berada di bawah jeratan sanksi internasional yang sangat ketat, para agen mereka berupaya menyusup ke berbagai perusahaan global dengan menyamar sebagai profesional IT, sering kali menggunakan identitas palsu, curian, maupun hasil rekayasa identitas.

Dalam sejumlah kasus, para pekerja IT terselubung ini tidak hanya mencari gaji, tetapi juga berupaya menyusup ke dalam jaringan internal perusahaan tempat mereka bekerja untuk mencuri data sensitif, menyebarkan malware, hingga merampas aset mata uang kripto (cryptocurrency).

Sebagai bagian dari operasi penegakan hukum di Texas yang diberi sandi “Lonestar Roundup”, Biro Investigasi Federal (FBI) telah menggerebek 40 lokasi tempat tinggal yang dicurigai menjadi sarang operasional laptop farm antara tanggal 21 hingga 25 September lalu. Laptop farm sendiri merupakan lokasi di mana para fasilitator lokal menampung perangkat komputer pemberian perusahaan (employer-issued computers), yang kemudian diakses dari jarak jauh oleh para pekerja IT Korea Utara agar seolah-olah mereka benar-benar berkedudukan di Amerika Serikat.

Dalam penggerebekan tersebut, aparat penegak hukum berhasil mengamankan sekitar 187 unit laptop beserta perangkat saklar KVM (KVM input devices). Infrastruktur tersembunyi ini sebelumnya telah dipantau secara intensif oleh perusahaan keamanan siber CrowdStrike sejak April 2025.

Berdasarkan temuan peneliti CrowdStrike, para pekerja IT Korea Utara menggunakan berbagai taktik licik untuk mengelabui perusahaan agar mengirimkan laptop kantor langsung ke lokasi laptop farm alih-alih ke alamat identitas palsu yang mereka daftarkan:

  • Mengajukan laporan palsu mengenai kehilangan atau pencurian perangkat guna memicu pengiriman unit pengganti langsung ke alamat laptop farm.
  • Berpindah-pindah alamat hunian secara berkala guna mengaburkan jejak destinasi akhir pengiriman.
  • Mengklaim telah melakukan relokasi mendadak di detik-detik terakhir pengiriman untuk mengalihkan rute perangkat di tengah jalan.
  • Menyalahgunakan posisi atau peran staf IT yang terkadang berhasil mereka duduki di perusahaan korban untuk mengalihkan pengiriman perangkat secara diam-diam.

CrowdStrike mencatat bahwa eksposur publik yang kian meningkat kini mulai memberikan tekanan tersendiri bagi para agen tersebut. Akibatnya, mereka mulai beralih menggunakan metode spoofing pengenal perangkat (device identifiers) atau bahkan nekat menggunakan kembali pengenal perangkat yang sama di berbagai organisasi korban yang berbeda.

Meskipun CrowdStrike mengakui bahwa operasi penegakan hukum seperti “Lonestar Roundup” kemungkinan besar hanya berdampak terbatas dalam skala global, mereka menilai langkah tersebut sebagai “awal dari upaya penegakan hukum AS yang lebih luas untuk membongkar tuntas infrastruktur Famous Chollima di Amerika Serikat.”

Dakwaan Resmi di Ohio dan Keterlibatan Warga Negara AS

Selain penggerebekan di Texas, Departemen Kehakiman AS turut mempublikasikan berkas dakwaan dari pengadilan Ohio yang merinci skema penipuan pekerja IT serupa. Operasi ilegal tersebut tercatat berlangsung dari tahun 2019 hingga Juli 2025, berdampak pada sedikitnya 70 perusahaan di AS, serta berhasil meraup pemasukan kotor sekitar $3 juta bagi para peretas Korea Utara.

Dalam skema ini, para pekerja memanfaatkan identitas curian, penggunaan VPN, serta infrastruktur proxy agar terdeteksi berlokasi di AS. Di sisi lain, para warga lokal Amerika Serikat berperan sebagai fasilitator yang menampung laptop kantor, memasang perangkat lunak akses jarak jauh (remote-access software), serta membantu mencairkan dan mentransfer hasil pendapatan ilegal tersebut ke rekening-rekening yang dikendalikan oleh rezim Korea Utara.

Otoritas berwenang akhirnya berhasil menangkap dua warga negara AS, yakni Michael James Bostelle dan Juan Cecilio Pena Carrillo, atas jeratan berbagai tuduhan hukum serius yang mencakup penipuan kawat (wire fraud), pencucian uang (money laundering), dan pencurian identitas (identity theft). Secara terpisah, DOJ juga mengumumkan pengajuan dakwaan serupa terhadap 12 warga negara Tiongkok yang turut terlibat dalam jaringan fasilitator tersebut.

Sumber: U.S. Department of Justice Press Release

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Back to top button