Serangan Siber Lumpuhkan Layanan Raksasa Ritel Ahold Delhaize di AS dan Eropa

Ahold Delhaize, salah satu jaringan ritel makanan terbesar di dunia, mengonfirmasi bahwa serangan siber yang terjadi pada pekan lalu telah mengganggu berbagai layanan digital di jaringan toko mereka yang tersebar di Eropa dan Amerika Serikat.
Sesaat sebelum insiden keamanan siber tersebut diumumkan ke publik, para pelanggan sempat mengeluhkan ketidakmampuan mengakses situs web, aplikasi seluler, serta platform layanan pelanggan pada jaringan toko Albert Heijn, Etos, dan Gall & Gall di Belanda, serta Delhaize di Belgia. Pada saat yang bersamaan, para karyawan di jaringan supermarket regional Amerika Serikat, Stop & Shop, juga melaporkan kendala saat hendak mengakses jadwal kerja serta slip gaji mereka.
Dalam pembaruan informasi pada hari Senin, Ahold Delhaize menjelaskan bahwa insiden keamanan siber tersebut memaksa perusahaan untuk mematikan sementara (offline) sejumlah sistem TI guna melindungi infrastruktur, termasuk situs web dan aplikasi milik berbagai merek ritel di bawah naungannya. Kendati langkah mitigasi ini memicu gangguan layanan daring, seluruh gerai fisik dipastikan tetap buka dan melayani pelanggan secara normal.
Pemulihan Bertahap dan Laporan Resmi ke Kepolisian Belanda
Saat ini, sebagian besar situs web dan aplikasi toko di wilayah Eropa Tengah dan Tenggara (CSE) telah kembali mengudara. Perusahaan menyatakan masih terus bekerja secara intensif untuk memulihkan sisa sistem dan layanan bagi merek-merek ritel mereka di Eropa dan Amerika Serikat yang masih terdampak.
“Situs web dan aplikasi Albert Heijn kini telah kembali daring, dengan layanan pesan-antar ke rumah (home deliveries) dijadwalkan kembali beroperasi mulai Jumat, 23 Oktober. Situs web Etos dan Gall & Gall juga sudah tersedia kembali bagi pelanggan. Layanan e-commerce pada merek-merek Ahold Delhaize USA diperkirakan akan pulih dalam beberapa hari mendatang, sementara di Belgia layanan e-commerce kini telah beroperasi penuh,” ungkap pihak Ahold Delhaize.
Sebagai bagian dari prosedur penanganan insiden, perusahaan telah melapor kepada Pusat Keamanan Siber Nasional Belanda (Dutch National Cyber Security Centre / NCSC) dalam kurun waktu 24 jam sejak aktivitas berbahaya terdeteksi. Selain terus memberikan pembaruan berkala kepada otoritas penegak hukum dan regulator terkait, Ahold Delhaize juga telah mengajukan laporan kepolisian resmi kepada pihak Kepolisian Belanda.
Belum Ditemukan Bukti Pencurian Data Sensitif
Raksasa ritel multinasional tersebut memilih untuk tidak membagikan rincian teknis lebih lanjut guna menghindari gangguan terhadap proses pemulihan maupun langkah perlindungan sistem yang tengah berjalan. Namun, pihak perusahaan menegaskan bahwa proses investigasi sejauh ini belum menemukan bukti adanya pencurian data sensitif milik pelanggan, karyawan (associate), maupun mitra bisnis.
“Meskipun insiden ini disebabkan oleh tindakan jahat pihak luar, kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan—terutama kepada para pelanggan kami,” ujar Frans Muller, Presiden sekaligus CEO Ahold Delhaize.
Insiden ini menandai serangan siber besar kedua yang menghantam sistem Ahold Delhaize dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pada November 2024 lalu, serangan siber yang diklaim oleh kelompok ransomware INC Ransom sempat melumpuhkan sistem perusahaan di Amerika Serikat dan berujung pada pencurian informasi pribadi, finansial, serta kesehatan milik lebih dari 2,2 juta individu.
Sebagai informasi, Ahold Delhaize mempekerjakan lebih dari 384.000 staf dan mengoperasikan sekitar 9.551 gerai ritel yang melayani 77 juta pelanggan setiap minggunya di wilayah Amerika Serikat, Eropa, hingga Indonesia (melalui jaringan supermarket Super Indo).
Sumber: Ahold Delhaize


