Musisi Dipenjara 18 Bulan karena Raup Jutaan Dolar dari Streaming Musik Palsu Menggunakan AI dan Bot

Seorang musisi asal North Carolina, Amerika Serikat, dijatuhi hukuman 18 bulan penjara federal setelah menjalankan skema manipulasi streaming musik berskala besar menggunakan lagu hasil artificial intelligence (AI) dan ribuan bot.
Michael Smith, 54 tahun, mengaku bersalah setelah sebelumnya didakwa pada September 2024. Menurut jaksa federal Amerika Serikat, skema tersebut secara artifisial meningkatkan jumlah pemutaran lagu di sejumlah layanan streaming, termasuk Spotify, Apple Music, Amazon Music, dan YouTube Music.
Dengan bantuan CEO sebuah perusahaan AI music dan seorang music promoter yang tidak disebutkan namanya, Smith mengunggah ratusan ribu lagu AI-generated ke berbagai platform. Automated bot kemudian digunakan untuk memutar lagu-lagu tersebut hingga miliaran kali sehingga menghasilkan pembayaran royalty dalam jumlah besar.
Dalam salah satu komunikasi dengan rekannya, Smith bahkan mengklaim skema tersebut telah menghasilkan lebih dari 4 miliar stream dan US$12 juta royalty sejak 2019.
Skema Streaming Palsu Berlangsung Bertahun-tahun
Menurut dokumen pengadilan, aktivitas Smith berlangsung antara 2017 hingga 2024.
Skema tersebut dirancang untuk mengeksploitasi mekanisme pembayaran royalty pada music streaming platform.
Secara umum, ketika sebuah lagu diputar melalui layanan streaming, sebagian pendapatan platform dialokasikan kepada pemegang hak berdasarkan berbagai faktor, termasuk jumlah stream.
Smith berupaya meningkatkan jumlah pemutaran secara artifisial menggunakan automated account.
Alih-alih berasal dari pendengar nyata, sebagian besar stream tersebut dihasilkan oleh bot yang secara otomatis memainkan lagu dalam katalog yang dikendalikan kelompok tersebut.
Dengan volume sangat besar, aktivitas palsu tersebut dapat menghasilkan royalty payment yang seharusnya dialokasikan berdasarkan aktivitas pengguna legitimate.
Ratusan Ribu Lagu AI Digunakan untuk Menjalankan Skema
Salah satu tantangan utama dalam menjalankan streaming fraud dalam skala besar adalah menyediakan cukup banyak lagu.
Jika jutaan stream terus diarahkan ke hanya beberapa track, anti-fraud system dapat lebih mudah menemukan pola yang tidak normal.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Smith bekerja sama dengan pihak lain untuk mendapatkan ratusan ribu lagu yang dihasilkan menggunakan AI.
Lagu-lagu tersebut kemudian diunggah ke streaming platform sehingga automated stream dapat didistribusikan ke katalog yang jauh lebih besar.
Pendekatan tersebut memungkinkan jumlah pemutaran pada masing-masing track terlihat lebih rendah dibandingkan jika seluruh aktivitas bot terkonsentrasi pada sejumlah kecil lagu.
AI dalam kasus ini digunakan untuk membantu menghasilkan content dalam jumlah sangat besar yang kemudian menjadi bagian dari skema manipulasi royalty.
Lebih dari 1.000 Bot Account Digunakan
Pada puncak operasi, Smith disebut mengendalikan lebih dari 1.000 bot account.
Account tersebut digunakan untuk melakukan streaming otomatis terhadap katalog musik yang dikendalikan kelompoknya.
Sebuah email yang dikirim Smith kepada dirinya sendiri pada 20 Oktober 2017 memberikan gambaran mengenai skala infrastructure yang digunakan.
Dalam perhitungan tersebut, ia mencatat penggunaan 52 cloud service account.
Setiap cloud account menjalankan sekitar 20 bot account.
Dengan konfigurasi tersebut, infrastructure dapat menjalankan lebih dari seribu account secara bersamaan untuk menghasilkan artificial stream.
Setiap Bot Diperkirakan Memutar 636 Lagu per Hari
Smith juga membuat financial breakdown mengenai potensi pendapatan dari operasi tersebut.
Berdasarkan perhitungannya saat itu, setiap bot dapat memainkan sekitar 636 lagu per hari.
Jika seluruh infrastructure beroperasi sesuai rencana, sistem dapat menghasilkan sekitar:
- 661.440 stream per hari
- sekitar US$3.307,20 royalty per hari
- sekitar US$99.216 per bulan
- lebih dari US$1,2 juta per tahun
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi rata-rata pembayaran royalty sekitar setengah sen AS per stream.
Nilai royalty aktual pada streaming platform dapat berbeda berdasarkan layanan, wilayah, jenis subscription, dan berbagai faktor lainnya. Angka tersebut merupakan estimasi yang digunakan Smith dalam perhitungannya sendiri.
VPN Digunakan untuk Menghindari Sistem Anti-Fraud
Streaming platform memiliki anti-fraud system untuk mendeteksi aktivitas pemutaran yang tidak normal.
Untuk mengurangi kemungkinan terdeteksi, bot yang digunakan Smith terhubung ke layanan streaming melalui Virtual Private Network (VPN).
Penggunaan VPN memungkinkan koneksi berasal dari IP address yang berbeda sehingga ribuan stream tidak terlihat berasal dari satu network location yang sama.
Namun, IP address hanyalah salah satu signal yang dapat digunakan anti-fraud system.
Platform juga dapat menganalisis pola account creation, listening behavior, device fingerprint, payment method, session duration, geographic pattern, playlist behavior, serta hubungan antara berbagai account.
Karena itu, Smith juga membutuhkan strategi untuk mendistribusikan aktivitas bot ke banyak lagu.
Butuh Banyak Lagu agar Tidak Mudah Terdeteksi
Sebuah email pada 4 Oktober 2018 menunjukkan bahwa Smith menyadari platform streaming meningkatkan mekanisme anti-fraud mereka.
Dalam komunikasi dengan accomplice, ia menjelaskan perlunya mendapatkan sangat banyak lagu dengan cepat agar operasi tersebut tetap berjalan.
Strateginya adalah memiliki katalog dalam jumlah sangat besar sehingga masing-masing lagu hanya menerima jumlah stream yang relatif kecil.
Dengan demikian, miliaran artificial stream dapat tersebar ke banyak track daripada terkonsentrasi pada beberapa lagu yang kemungkinan lebih mudah memicu anomaly detection.
Kebutuhan inilah yang membuat kemampuan menghasilkan musik dalam jumlah besar menjadi komponen penting dalam skema tersebut.
AI Membantu Menghasilkan Konten dalam Skala Besar
Penggunaan AI memungkinkan kelompok tersebut memperoleh katalog musik dalam volume yang sulit dilakukan menggunakan proses produksi tradisional.
Smith membeli AI-generated songs dari salah satu accomplice dan kemudian mengunggah ratusan ribu track ke streaming service.
Model operasi tersebut menggabungkan dua bentuk automation.
AI digunakan untuk menghasilkan content dalam jumlah besar, sementara bot digunakan untuk menciptakan artificial consumption terhadap content tersebut.
Kombinasi keduanya memungkinkan skema beroperasi dalam skala sangat besar.
Namun, perkara ini tidak menjadikan penggunaan AI-generated music sebagai tindakan ilegal dengan sendirinya. Fokus kasus berada pada penggunaan content tersebut sebagai bagian dari skema untuk menghasilkan fraudulent stream dan royalty payment.
Miliaran Stream Dihasilkan secara Artifisial
Skala aktivitas yang dilakukan Smith terlihat dari komunikasi internal pada Februari 2024.
Dalam sebuah email kepada accomplice, Smith menyatakan lagu-lagu tersebut telah menghasilkan lebih dari 4 miliar stream dan US$12 juta royalty sejak 2019.
Jaksa mengatakan Smith pada akhirnya memperoleh lebih dari US$10 juta melalui skema tersebut.
Volume miliaran stream menunjukkan bagaimana automation dapat memperbesar dampak fraud secara signifikan.
Tidak seperti click fraud manual yang membutuhkan banyak operator manusia, bot infrastructure dapat menjalankan aktivitas terus-menerus menggunakan cloud computing resource.
Semakin banyak account dan infrastructure yang tersedia, semakin besar pula jumlah stream yang dapat dihasilkan.
Stream Bot Smith Bahkan Melampaui Taylor Swift dalam Perbandingan DOJ
U.S. Department of Justice memberikan salah satu perbandingan paling mencolok untuk menggambarkan skala manipulasi tersebut.
Pada April 2023, seluruh katalog Taylor Swift disebut mendapatkan sekitar 9,3 juta stream di YouTube Music melalui family plan stream.
Dalam bulan yang sama, bot account Smith yang menggunakan family plan menghasilkan sekitar 80,9 juta fraudulent stream terhadap AI-generated music miliknya.
Artinya, dalam kategori yang dibandingkan DOJ tersebut, aktivitas bot Smith menghasilkan lebih dari delapan kali jumlah stream katalog Taylor Swift.
Perbandingan tersebut menunjukkan seberapa besar artificial listening activity yang dapat dihasilkan ketika ribuan account dikendalikan secara otomatis.
Streaming Fraud Merugikan Ekosistem Royalty
Streaming fraud tidak hanya berdampak pada platform.
Royalty pool pada layanan streaming merupakan bagian dari ekosistem pembayaran yang melibatkan artist, songwriter, label, publisher, distributor, dan berbagai pemegang hak lainnya.
Ketika fraudulent stream ikut dihitung dalam sistem, aktivitas tersebut dapat mengalihkan sebagian pembayaran yang seharusnya didistribusikan berdasarkan legitimate listening.
U.S. Attorney Jamie McDonald mengatakan penggunaan automated bot menggantikan konsumen nyata, sementara fake songs menggantikan kreativitas dalam skema tersebut.
Menurut pemerintah Amerika Serikat, operasi Smith mengambil jutaan dolar royalty yang seharusnya berada dalam legitimate music ecosystem.
AI Bukan Satu-satunya Komponen dalam Fraud
Walaupun perkara tersebut banyak menarik perhatian karena penggunaan AI-generated music, teknologi AI hanya merupakan salah satu komponen dari keseluruhan operasi.
Fraud membutuhkan kombinasi beberapa elemen.
Smith membutuhkan katalog lagu dalam jumlah sangat besar, streaming account, cloud infrastructure, automation, VPN, serta metode untuk menerima dan mengelola royalty.
Dengan kata lain, AI membantu menyelesaikan masalah supply content, sementara bot menyelesaikan masalah artificial demand.
Kombinasi keduanya kemudian digunakan untuk mengeksploitasi sistem pembayaran streaming.
Perbedaan ini penting karena penggunaan generative AI untuk membuat musik tidak secara otomatis identik dengan streaming fraud.
Tindakan ilegal dalam perkara Smith berkaitan dengan manipulasi jumlah pemutaran dan penerimaan pembayaran melalui aktivitas yang fraudulent.
Smith Mengaku Bersalah pada Maret 2026
Smith sebelumnya didakwa pada September 2024 atas keterlibatannya dalam skema tersebut.
Setelah proses hukum berlangsung, ia mengaku bersalah pada Maret 2026.
Pengakuan tersebut kemudian diikuti sentencing pada Oktober.
Pengadilan menjatuhkan hukuman 18 bulan penjara federal.
Selain hukuman penjara, konsekuensi finansial yang dikenakan terhadap Smith juga sangat besar.
Diperintahkan Membayar Forfeiture Lebih dari US$8 Juta
Smith diperintahkan membayar US$8.091.843,64 dalam forfeiture.
Forfeiture berbeda dari denda biasa karena bertujuan mengambil aset atau proceeds yang terkait dengan tindak pidana.
Selain hukuman penjara dan forfeiture tersebut, Smith juga dijatuhi dua tahun supervised release.
Dengan demikian, hukuman yang diterimanya mencakup tiga komponen utama: 18 bulan federal imprisonment, forfeiture lebih dari US$8 juta, dan dua tahun pengawasan setelah keluar dari penjara.
AI Membuka Tantangan Baru bagi Industri Musik
Kasus Smith memperlihatkan bagaimana generative AI dapat mengubah skala beberapa jenis fraud.
Sebelum teknologi generative AI berkembang, membuat katalog berisi ratusan ribu lagu membutuhkan resource yang sangat besar.
AI memungkinkan produksi content dalam jumlah masif dengan biaya dan waktu yang jauh lebih rendah.
Jika digabungkan dengan automated bot, cloud infrastructure, dan identity automation, attacker dapat menciptakan ekosistem palsu yang terdiri dari content sekaligus audience buatan.
Model seperti ini tidak terbatas pada musik.
Konsep serupa secara teoritis dapat diterapkan terhadap platform lain yang memberikan insentif finansial berdasarkan impression, view, click, engagement, atau consumption.
Karena itu, platform digital perlu membedakan antara legitimate automation dan aktivitas yang sengaja dibuat untuk memanipulasi mekanisme monetization.
Anti-Fraud System Harus Menghadapi Automation yang Semakin Canggih
Perkara ini juga menunjukkan adanya perlombaan antara fraud detection dan automation.
Smith telah mendiskusikan anti-fraud policy sejak 2018 dan menyesuaikan operasinya dengan mendistribusikan stream ke lebih banyak lagu.
Di sisi lain, platform terus mengembangkan sistem untuk mengidentifikasi artificial activity.
Generative AI berpotensi membuat persoalan semakin kompleks karena attacker dapat menghasilkan content, metadata, profile, dan pola aktivitas dalam volume besar.
Detection karena itu tidak cukup hanya berfokus pada jumlah stream.
Platform perlu menganalisis hubungan antara account, infrastructure, payment method, listening pattern, network behavior, content distribution, dan berbagai signal lainnya untuk menemukan coordinated fraudulent activity.
Skema Berakhir dengan Hukuman Penjara
Operasi yang berlangsung selama bertahun-tahun tersebut pada akhirnya menghasilkan miliaran artificial stream dan jutaan dolar royalty.
Dengan ratusan ribu AI-generated songs, lebih dari seribu bot account, puluhan cloud service account, serta VPN untuk menyamarkan koneksi, Smith membangun infrastructure yang dirancang untuk membuat aktivitas streaming palsu terlihat seperti konsumsi musik legitimate.
Namun, komunikasi dan financial calculation yang ditemukan investigator membantu menunjukkan bagaimana operasi tersebut dirancang dan dijalankan.
Setelah mengaku bersalah, Michael Smith kini dijatuhi hukuman 18 bulan penjara federal, diperintahkan menyerahkan lebih dari US$8 juta melalui forfeiture, dan akan menjalani dua tahun supervised release.
Kasus ini menjadi contoh bagaimana AI dan automation dapat memperbesar skala digital fraud ketika digunakan untuk memanipulasi sistem monetization yang bergantung pada aktivitas pengguna.
Sumber: U.S. Department of Justice








