Platform Deployment Zeabur Tutup Layanan Usai Alami Kebocoran Keamanan Kedua dalam Dua Bulan

Platform pengembangan dan hosting aplikasi, Zeabur, secara resmi mengumumkan keputusan untuk menutup seluruh layanan mereka. Keputusan drastis ini diambil menyusul insiden serangan siber parah yang untuk kedua kalinya menimpa infrastruktur mereka dalam kurun waktu dua bulan terakhir.
Dalam pengumuman resminya, Zeabur mengungkapkan bahwa seorang penyerang berhasil mengeksploitasi kredensial internal yang disimpan dalam bentuk teks biasa (plaintext). Kredensial curian tersebut digunakan untuk membobol infrastruktur Zeabur, mencuri lebih dari 3,2 juta catatan variabel lingkungan (environment variable records), serta membocorkan informasi dari 321.810 akun pengguna.
Serangan terbaru ini terjadi pada tanggal 14 hingga 15 Oktober 2026. Penyerang memanfaatkan kredensial administrator serta cloud access keys yang dicuri untuk menyusup ke dalam klaster shared hosting, sejumlah dedicated server, sistem internal Zeabur, hingga akhirnya berhasil membaca basis data produksi (production database) utama mereka.
Insiden ini memperparah catatan keamanan Zeabur, mengingat pada akhir Agustus 2026 lalu perusahaan tersebut juga sempat mengalami pembobolan ketika peretas mengeksploitasi celah pada aplikasi NextChat milik pelanggan dan bergerak leluasa melalui sistem internal yang minim isolasi. Kebocoran di bulan Agustus tersebut berujung pada pencurian kredensial AWS serta akses ke basis data yang mengekspos informasi akun dan berbagai API keys.
Detail Cakupan Kebocoran Data dan Kelalaian Kredensial
Dalam peretasan terbaru di bulan Oktober, cakupan dampaknya jauh lebih luas. Serangan ini memengaruhi klaster bersama (shared clusters) di sembilan wilayah, 321.810 akun, dan sekitar 3,2 juta rekam variabel lingkungan.
Selain itu, Zeabur mengonfirmasi adanya aktivitas root sign-in pada 101 server GCP oleh 92 pengguna yang tidak sah. Para penyerang bahkan terpantau menambahkan kunci SSH ke 50 server serta melampirkan 16 salinan diska (disk copies) pelanggan ke mesin virtual milik mereka sendiri.
Pihak Zeabur menduga bahwa kredensial yang digunakan dalam serangan kedua ini kemungkinan besar telah dicuri oleh pelaku sejak insiden pelanggaran keamanan di bulan Agustus lalu, meskipun hal tersebut belum dapat dikonfirmasi sepenuhnya.
Kondisi ini diperparah oleh kelalaian internal yang serius. Selain gagal mengenkripsi penyimpanan kredensial, Zeabur ternyata tidak melakukan rotasi menyeluruh terhadap kredensial akun administrator pasca-insiden Agustus, sementara portal administrator mereka dibiarkan terbuka dan dapat diakses secara publik melalui internet.
“Token admin tidak memiliki masa kedaluwarsa, belum pernah di rotasi sejak dibuat pada Januari 2024, dan tidak dimasukkan ke dalam daftar rotasi pasca-Agustus,” jelas pihak Zeabur dalam pernyataan resminya.
Atas insiden ini, para pengguna diimbau untuk segera melakukan rotasi terhadap seluruh kredensial dan data rahasia yang terekspos, mencabut semua sesi aktif yang berjalan, serta membangun ulang server GCP yang telah dikompromikan.
Keputusan Tutup Layanan Permanen Mulai Desember 2026
Akibat akumulasi kegagalan sistem keamanan dan kompleksitas pemeliharaan yang kian sulit dikendalikan setelah 3,5 tahun beroperasi, manajemen Zeabur memutuskan untuk menghentikan seluruh operasional platform mereka.
Layanan Zeabur akan mulai ditutup secara bertahap terhitung mulai 1 Desember 2026, dan dijadwalkan rampung sepenuhnya pada 31 Desember 2026.
Memasuki 1 Desember, fitur perpanjangan langganan (renewals) akan dinonaktifkan secara otomatis, dan seluruh layanan yang berjalan pada klaster bersama akan dijeda (paused). Menjelang akhir tahun, seluruh dedicated server akan kedaluwarsa dan dimatikan, disusul dengan penghentian total seluruh klaster bersama. Pihak Zeabur menyatakan bahwa mereka mungkin akan memberikan tambahan waktu bagi pengguna untuk melakukan migrasi data, meskipun jadwal rincinya belum diumumkan lebih lanjut.
Sumber: Zeabur Security Announcement








