Nikkei Ungkap Kebocoran Data Ketiga dalam Sebulan, 1,8 Juta Catatan Terekspos

Raksasa media bisnis dan informasi finansial asal Jepang, Nikkei Inc., kembali mengumumkan insiden pelanggaran data baru yang mengekspos sekitar 1,83 juta catatan informasi pribadi. Insiden ini menjadi kasus kebocoran data ketiga yang diungkapkan oleh perusahaan tersebut hanya dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir.
Pihak Nikkei menjelaskan bahwa sebagian kecil dari data yang bocor memuat informasi pengenal pribadi (Personally Identifiable Information / PII) serta rincian sensitif lainnya, sementara sebagian besar catatan lainnya tidak menyertakan identitas spesifik.
Secara rinci, perusahaan menyebutkan bahwa sebanyak 150.000 catatan memuat setidaknya satu dari jenis data berikut:
- Nama lengkap
- Alamat surel (tercatat muncul pada 120.000 data)
- Alamat fisik tempat tinggal
- Nomor telepon
- Tanggal lahir
Adapun sisa 1,68 juta catatan lainnya dipastikan tidak mengandung informasi pengenal pribadi. Nikkei juga menegaskan bahwa tidak ada informasi kartu kredit pelanggan yang ikut terekspos dalam insiden ini. Sebagai informasi, Nikkei Inc. merupakan grup media berfokus bisnis terbesar di Jepang sekaligus pemilik surat kabar Financial Times, yang mempekerjakan lebih dari 10.100 karyawan dengan pendapatan tahunan mencapai $2,5 miliar (¥393,8 miliar).
Penyusupan Sistem Pengembangan Lewat Kredensial Curian
Berdasarkan pemberitahuan resmi yang diterbitkan oleh Nikkei pada akhir pekan lalu, kelompok peretas berhasil menyusup ke dalam sebuah sistem pengembangan (development system) di jaringan internal perusahaan menggunakan kredensial hasil curian pada tanggal 7 Oktober dini hari. Akses tanpa izin tersebut berujung pada tereksposnya informasi pribadi yang disimpan oleh perusahaan di lingkungan penyimpanan awan (cloud).
Menyadari adanya penyusupan, pihak Nikkei segera mencabut kredensial yang disalahgunakan tersebut dan melaporkan insiden ini kepada Komisi Perlindungan Informasi Pribadi Jepang (Personal Information Protection Commission) pada 11 Oktober.
Saat ini, perusahaan tengah menelusuri cakupan dampak kebocoran secara menyeluruh. Hingga 16 Oktober, Nikkei menyatakan belum menemukan bukti bahwa informasi yang diakses tersebut telah disalahgunakan atau dibocorkan ke publik secara daring. Selain itu, tidak ditemukan tanda-tanda perusakan data maupun kompromi sistem lebih lanjut, dan seluruh layanan perusahaan tetap berjalan normal tanpa mengalami gangguan (outage).
“Kami bekerja secara mendesak untuk memastikan tingkat kerusakan serta menentukan penyebab pastinya, dan akan menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperkuat keamanan,” ungkap Nikkei dalam pernyataan resminya, sembari menambahkan bahwa para individu yang terdampak akan menerima pemberitahuan secara langsung.
Rentetan Tiga Insiden Siber dalam Waktu Berdekatan
Pengungkapan terbaru ini menambah daftar panjang insiden keamanan siber yang dialami Nikkei dalam waktu yang sangat berdekatan:
- September 2026: Nikkei mengumumkan bahwa pelaku ancaman berhasil membajak akun Microsoft 365 milik seorang karyawan dan memanfaatkannya untuk mengirimkan surel spear-phishing kepada staf internal perusahaan lainnya.
- Awal Oktober 2026: Perusahaan mengungkapkan insiden kebocoran yang sebenarnya terjadi pada akhir Juli lalu, di mana peretas mengompromikan akun Google Workspace milik seorang karyawan dan mengakses informasi pribadi milik para pegawai serta mitra bisnis.
- Pertengahan Oktober 2026: Penyusupan sistem pengembangan berbasis cloud menggunakan kredensial curian yang mengekspos 1,83 juta catatan data.
Sumber: Nikkei Inc.








