Operasi Interpol Berhasil Dekripsi Enam Varian Ransomware dan Menangkap Ratusan Pelaku

Operasi internasional yang dikoordinasikan Interpol, bertajuk Operation Sentinel, mencatat hasil signifikan dalam pemberantasan kejahatan siber. Dalam operasi yang berlangsung antara 27 Oktober hingga 27 November tersebut, aparat penegak hukum dari 19 negara berhasil menangkap 574 individu, memulihkan USD 3 juta, serta menurunkan lebih dari 6.000 tautan berbahaya yang digunakan dalam serangan siber.

Selain itu, tim investigasi juga berhasil mendekripsi enam varian ransomware berbeda, sebuah capaian penting mengingat dampak finansial dari kasus-kasus yang diselidiki mencapai lebih dari USD 21 juta.

Interpol merinci sejumlah keberhasilan utama dalam operasi ini, termasuk:

Menurut Neal Jetton, Direktur Kejahatan Siber Interpol, skala dan kompleksitas serangan siber di Afrika meningkat pesat, terutama terhadap sektor-sektor kritis seperti keuangan dan energi. Ia menegaskan bahwa hasil Operation Sentinel mencerminkan komitmen kuat aparat penegak hukum Afrika yang bekerja sama dengan mitra internasional.

Operasi ini juga melibatkan dukungan sektor swasta, termasuk Team Cymru, Shadowserver Foundation, Trend Micro, TRM Labs, dan Uppsala Security. Perusahaan-perusahaan tersebut membantu melacak alamat IP yang digunakan dalam serangan ransomware dan sextortion, serta membantu pembekuan dana hasil kejahatan.

Operation Sentinel bukan satu-satunya upaya besar Interpol tahun ini. Pada Agustus, operasi Serengeti 2.0 menghasilkan 1.209 penangkapan, pemulihan USD 97,4 juta, dan pembongkaran lebih dari 11.000 infrastruktur berbahaya. Sementara itu, pada Maret, Operation Red Card menangkap 306 tersangka, menyita 1.842 perangkat, dan menghentikan berbagai skema penipuan yang menargetkan lebih dari 5.000 korban.

Rangkaian operasi ini menunjukkan bahwa kerja sama internasional tetap menjadi kunci dalam menghadapi kejahatan siber yang semakin terorganisir dan lintas batas.

Exit mobile version