Kelangkaan memori global kembali menimbulkan dampak besar di industri GPU. Menurut laporan terbaru, NVIDIA mempertimbangkan perubahan besar dalam rantai pasokannya: tidak lagi mengirim kit GPU lengkap dengan GDDR, dan hanya menyediakan raw silicon (die GPU) kepada para mitra AIC (Add-in Card).
Biasanya, NVIDIA, AMD, dan Intel menjual GPU dalam bentuk “paket” berisi chip GPU dan modul memori GDDR yang cocok. Mitra AIC kemudian merakitnya pada PCB kustom mereka. Namun rumor dari Golden Pig Upgrade menyebut bahwa memanasnya pasar memori—terutama GDDR6X dan GDDR7—membuat NVIDIA kesulitan memenuhi kuota produksi jika tetap mempertahankan model kit tersebut.
AIC Kini Harus Cari Memori Sendiri
Dengan perubahan ini, mitra AIC harus mengamankan suplai DRAM sendiri dari vendor seperti Micron, SK Hynix, dan Samsung. Keberhasilan mereka akan sangat ditentukan oleh:
- Kekuatan hubungan mereka dengan pabrikan memori
- Kemampuan mengamankan kapasitas pada harga yang masuk akal
- Prioritas produksi dari vendor memori yang saat ini kewalahan
Strategi ini dapat membantu NVIDIA memastikan pasokan GeForce RTX 50-series Founders Edition tetap lancar, sekaligus menjaga kapasitas produksi untuk lini server kelas berat seperti “Rubin CPX” dan “Vera Rubin”, yang saat ini menjadi fokus pasar AI.
Efek Domino: Harga GPU Bisa Naik
Belum lama ini, AMD juga memberi tahu rantai pasokannya soal rencana kenaikan harga GPU sekitar 10%, sebagian besar karena kenaikan harga DRAM dan penurunan margin produsen.
Jika mitra AIC harus membeli DRAM sendiri—yang harganya naik drastis—bukan tidak mungkin harga kartu grafis dari berbagai brand juga ikut merangkak naik dalam waktu dekat.
Dengan krisis DRAM yang diprediksi masih berlangsung hingga 2026, industri GPU tampaknya memasuki fase penuh ketidakpastian, baik dari sisi harga maupun ketersediaan.
Sumber: VideoCardz
