FBI: Penjahat Siber Curi USD 262 Juta dengan Menyamar Sebagai Layanan Dukungan Bank

FBI mengeluarkan peringatan terbaru mengenai lonjakan besar kasus account takeover (ATO) yang dilakukan oleh penjahat siber dengan menyamar sebagai tim dukungan bank dan lembaga keuangan. Sejak Januari 2025, skema ini telah merugikan korban lebih dari USD 262 juta, dengan lebih dari 5.100 laporan masuk ke Internet Crime Complaint Center (IC3).

Serangan ATO ini menargetkan individu, bisnis, hingga organisasi lintas industri. Para pelaku menggunakan rekayasa sosial, situs palsu, dan teknik manipulatif lainnya untuk mendapatkan akses tidak sah ke akun bank, payroll, atau rekening tabungan kesehatan korban.


Modus: Menguasai Akun dan Menguras Dana

Setelah mendapatkan kredensial login, penjahat siber:

FBI menyatakan bahwa dana yang dialirkan ke dompet kripto biasanya cepat hilang dan sulit dilacak, membuat pemulihan hampir mustahil.


Penipuan Menggunakan Identitas Bank dan Aparat Hukum

Para pelaku kerap menghubungi korban melalui panggilan, email, atau pesan teks dengan berpura-pura sebagai:

Mereka mengklaim adanya transaksi mencurigakan, penggunaan data korban untuk pembelian ilegal, atau ancaman kriminal guna memancing korban memberikan:

Situs phishing tersebut sering dibuat sangat mirip dengan portal bank atau payroll. Beberapa bahkan memanfaatkan SEO poisoning demi tampil di urutan atas hasil pencarian.


Langkah Pencegahan yang Disarankan FBI

FBI merekomendasikan sejumlah tindakan untuk meminimalkan risiko:

Jika menjadi korban:

FBI juga pernah memperingatkan bahwa pelaku mulai menyamar sebagai situs resmi IC3 untuk memancing informasi pribadi, menambah panjang daftar metode penipuan yang kini semakin canggih.


Sumber: FBI

Exit mobile version