Perusahaan ritel asal Jepang, Muji, terpaksa menonaktifkan layanan toko onlinenya setelah serangan ransomware menghantam Askul, mitra logistik utama yang menangani pengiriman produknya di Jepang. Insiden ini mengakibatkan gangguan besar pada sistem distribusi dan operasional e-commerce Muji.
Gangguan Layanan Menyeluruh
Dalam pengumuman pada Minggu malam waktu Jepang, Muji menyatakan bahwa seluruh layanan ritel terdampak, termasuk:
- Penelusuran dan pembelian produk di situs e-commerce,
- Akses riwayat pesanan melalui aplikasi Muji,
- Tampilan sebagian konten web perusahaan.
Pada pembaruan yang dirilis Senin sore, Muji menjelaskan bahwa layanan pembelian online dan pendaftaran layanan berlangganan bulanan masih belum dapat digunakan, sementara sistem lainnya perlahan mulai dipulihkan.
Perusahaan juga sedang menelusuri daftar pesanan yang terpengaruh untuk menentukan pengiriman mana yang tertunda akibat serangan tersebut, serta berencana mengirim notifikasi email kepada pelanggan yang terdampak.
Serangan Ransomware terhadap Askul
Gangguan ini berawal dari serangan ransomware terhadap Askul Corporation, penyedia logistik dan e-commerce besar yang juga dimiliki oleh Yahoo! Japan Corporation.
Dalam pernyataan resmi (diterjemahkan secara otomatis), Askul mengonfirmasi bahwa infeksi ransomware menyebabkan kegagalan sistem dan memaksa perusahaan untuk menangguhkan pemesanan serta operasi pengiriman.
“Saat ini terjadi kegagalan sistem pada situs Askul akibat infeksi ransomware. Kami telah menangguhkan pesanan dan pengiriman, dan sedang menyelidiki cakupan dampaknya, termasuk kemungkinan kebocoran informasi pribadi dan data pelanggan,” tulis Askul.
Selain pengiriman, layanan lain seperti pengembalian barang, pengiriman katalog, pengumpulan produk, dan layanan pelanggan juga dihentikan sementara. Askul menyebutkan bahwa pusat layanan pelanggan tidak dapat dihubungi melalui telepon maupun situs web.
Dampak Terbatas pada Pasar Jepang
Muji menegaskan bahwa gangguan ini hanya berdampak pada penjualan dan pengiriman di Jepang, karena operasional internasional mereka — termasuk toko di Cina, Singapura, Eropa, Australia, dan Amerika Utara — tetap berjalan normal.
Muji, yang dikenal dengan produk rumah tangga, pakaian, dan furnitur bergaya minimalis, mengoperasikan lebih dari 1.000 toko secara global, mempekerjakan lebih dari 24.500 karyawan, dan memiliki pendapatan tahunan sekitar USD 4 miliar.
Hingga saat ini, belum ada kelompok ransomware yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Askul di situs pemerasan mereka.
Serangan Siber Meluas di Jepang
Insiden ini terjadi hanya beberapa minggu setelah produsen bir terbesar Jepang, Asahi Group, juga menjadi korban serangan ransomware Qilin, yang menyebabkan penghentian produksi sementara dan penundaan peluncuran produk baru.
Gelombang serangan siber terhadap perusahaan besar di Jepang menunjukkan peningkatan risiko terhadap rantai pasok bisnis nasional, terutama pada sektor logistik dan distribusi yang berperan penting bagi industri ritel.
Sumber: BleepingComputer
