Orang aja bisa terkenal.. saya jg bisa donk :D namanya juga Ahmandonk ;)
Selama bertugas sebagai mata-mata CIA, Bob Ho (Jackie Chan) sering harus menghadapi tugas yang bisa dibilang mustahil diselesaikan. Berbekal semua pelajaran yang ia dapat selama pendidikan dan kecerdikannya, Bob selalu bisa menuntaskan misinya dengan baik. Namun Bob tak tahu kalau sebenarnya misi yang paling sulit justru akan ia hadapi setelah ia mundur dari CIA.
Karena sudah jenuh dengan tugasnya, Bob pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan memulai hidup yang tenang. Bob ingin membina rumah tangga dengan Gillian (Amber Valletta), kekasihnya yang sangat ia cintai. Gillian pun sebenarnya sangat mencintai Bob tapi karena ia sudah memiliki tiga orang anak maka hal pertama yang harus dilakukan Bob adalah membuktikan kalau ia layak menjadi ayah tiri dari ketiga anak Gillian ini.
Suatu ketika Gillian harus pergi ke luar kota dan kesempatan ini dimanfaatkan Bob untuk mengambil hati ketiga anak Gillian. Bob menawarkan diri untuk menjaga ketiga anak Gillian selama Gillian pergi. Awalnya tugas ini saja sudah cukup berat apalagi ketika salah satu dari anak Gillian secara tidak sengaja men-download file rahasia mata-mata Rusia. Dalam waktu singkat para mata-mata Rusia pun berdatangan untuk mengambil file milik mereka.
Kini tugas Bob tidak hanya mengawasi ketiga anak Gillian namun juga harus melindungi ketiga anak ini dari ancaman para mata-mata Rusia yang tak kenal ampun. Tak ada pilihan. Bob hanya bisa melewati semua itu dengan selamat bila ia melibatkan anak-anak Gillian yang artinya ia harus membongkar identitas rahasianya sebagai mata-mata CIA.
Dari sisi tema, THE SPY NEXT DOOR punya kemiripan dengan film Vin Diesel yang berjudul THE PACIFIER. Kesamaan tema memang bukan sesuatu yang layak dipermasalahkan selama dalam penuangannya tak jadi terjebak pada alur kisah film yang lebih dulu muncul. Dalam kasus ini THE SPY NEXT DOOR masih bisa lolos karena tema itu dituangkan dengan cara lain.
Yang jadi masalah di sini sebenarnya adalah soal penyutradaraan. Sepertinya Brian Levant tak mampu mengarahkan para aktor dan aktris sehingga yang terjadi adalah akting yang tak memenuhi standar. Dalam kasus Jackie Chan dan Amber Valleta, chemistry di antara dua orang ini tak bisa muncul. Sepanjang kariernya, Jackie memang tak pernah tampil romantis dan sang sutradara sepertinya juga tak bisa mengarahkan aktor gaek ini untuk bisa romantis.
Dari sisi laga, tak ada yang baru di sini. Film-film Jackie Chan sebelumnya sudah bisa mewakili adegan laga dalam film ini walaupun di titik tertentu sepertinya Jackie sudah mulai terlalu tua untuk beraksi seperti dulu lagi. Untungnya masih ada beberapa momen yang cukup mampu memancing tawa meski di akhir kisah tak terbersit keinginan untuk menonton film ini lagi.
Jaringan internet pita lebar berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) Evolution Data Only (EVDO) Rev B telah hadir secara komersil untuk kali pertamanya di dunia melalui Bali, Indonesia.
Layanan ini diselenggarakan oleh operator seluler CDMA Smart Telecom yang menggunakan base station (BTS) milik ZTE dari China dan chipset milik Qualcomm Technology dari Amerika Serikat.
“Bali sengaja kami pilih sebagai tempat peluncuran pertama EVDO Rev B karena Bali merupakan gerbang Indonesia di mata dunia internasional,” kata Presiden Direktur Smart Sutikno Widjaja, saat peluncuran Rev B di Hotel Discovery, Bali, Minggu malam (10/1/2010).
EVDO Rev B merupakan pengembangan dari jaringan EVDO Rev A yang menawarkan kecepatan maksimum 9,3 Mbps untuk mengunduh data (download) dan 5,4 Mbps untuk mengunggah (upload).
Melalui jaringan EVDO Rev A yang juga diselenggarakan Smart, kecepatan maksimum yang ditawarkan perusahaan milik Franky Widjaja itu hanya sampai 3,8 Mbps untuk download dan 1,8 untuk upload.
“Dengan Rev B, internet broadband kami jadi lebih cepat tiga kali lipat dibanding Rev A,” kata Head of Core Product and Branding Smart, Ruby Hermanto.
Saat ini, layanan Rev B baru diselenggarakan di Bali. Itu pun baru di sebagian tempat. “Baru 60% dari 48 BTS kami yang ada di Bali,” kata Sutikno. Menurutnya, seluruh area Bali baru akan terlayani semua di akhir kuartal pertama 2010 ini.
Setelah Bali, Smart rencananya akan melebarkan coverage Rev B ke 32 kota yang sebelumnya telah digelar Rev A hingga akhir tahun. Namun sayangnya, baik Sutikno dan Ruby tak mau mengungkap berapa jumlah base station yang siap di-upgrade dan total nilai investasi yang dikeluarkan.
Smart sendiri memperbolehkan pelanggan untuk mengupayakan sendiri pembelian modem berkemampuan Rev B di pasar bebas untuk bisa mengakses jaringan layanan broadband terbaru ini.
Namun jika pelanggan membelinya melalui Smart, modem Rev B keluaran ZTE dipasarkannya dengan harga Rp 450 ribu per bulan selama setahun. Biaya pembelian ini sudah termasuk biaya akses tanpa batas selama setahun.
“Dengan total setahun Rp 5,4 juta, modem yang kami tawarkan termasuk murah. Sebab, harga asli modem Rev B ini masih mahal, US$ 600 atau hampir Rp 6 juta,” jelas Tom Alamas Dinharsa, Division Head of Device Technology and Special Project.
Source: DetikInet
Akses jaringan pita lebar menggunakan teknologi CDMA Rev B, untuk mengunduh (download) file data sebesar 1 Gb dari internet hanya memerlukan waktu transfer sebelas menit.
Demikian demo yang digelar Smart Telecom saat kali pertama meluncurkan jaringan layanan CDMA terbarunya yang menggunakan teknologi Rev B yang dipasok vendor Qualcomm dan ZTE.
“Konsumen akan merasakan secara real kecepatan yang luar biasa ini,” klaim Head of Core Product and Branding Smart, Ruby Hermanto, saat mendemokan CDMA EVDO Rev B di Hotel Discovery, Bali, Minggu malam (10/1/2010).
Meski bisa mengunduh file sebesar 1 Gb hanya dalam waktu 11 menit, namun kecepatan aslinya nanti tak dipungkiri akan turun drastis begitu banyak pengguna yang menggunakan layanan ini secara bersamaan dalam satu titik jaringan base station (BTS).
Smart mengklaim bisa menghadirkan kecepatan maksimum 9,3 Mbps untuk mengunduh data dan 5,4 Mbps untuk mengunggah (upload). Kata Ruby, tahun ini Smart akan meningkatkan lagi kemampuan jaringannya di kanal Rev B. “Kami akan meng-upgrade lagi jaringan kami agar kecepatan download Rev B bisa sampai 14,7 Mbps,” ujarnya tanpa mau menyebut berapa BTS yang akan ditingkatkan kemampuannya.
Layanan berbasis CDMA ini diselenggarakan Smart di pita frekuensi 1900 MHz. Operator seluler ini tak mau menyebutkan jumlah kanal yang digunakan dari total lima kanal yang dimilikinya.
Saat ini, layanan Rev B baru diselenggarakan di Bali. Itu pun baru di sebagian tempat. “Baru 60% dari 48 BTS kami yang ada di Bali,” kata Presiden Direktur Smart, Sutikno Widjaja.
Menurutnya, seluruh area Bali baru akan terlayani semua di akhir kuartal pertama 2010 ini. Setelah Bali, Smart rencananya akan melebarkan coverage Rev B ke 32 kota yang sebelumnya telah digelar Rev A hingga akhir tahun.
Untuk menikmati layanan EVDO Rev B melalui modem ZTE yang ditawarkannya, pelanggan Smart akan dikenai biaya cicilan Rp 450 ribu per bulan selama 12 bulan. Biaya ini sudah termasuk biaya akses tanpa batas selama setahun.
Source: DetikInet
Terjebak di antara dua kubu yang bertikai memang tak pernah menyenangkan dan itulah yang dialami Jake Sully (Sam Worthington) saat ia setuju untuk dikirim ke Pandora. Di planet asing yang dihuni berbagai makhluk ini Jake yang semula berharap bisa memulai hidup baru malah terlibat masalah pelik yang mengharuskannya memilih pihak.
Jake adalah mantan marinir yang mengalami luka parah dalam sebuah pertempuran di bumi. Akibatnya kaki Jake mengalami kelumpuhan total. Ada satu harapan buat Jake. Jika ia mengikuti program Avatar dan dikirim ke planet Pandora maka ia akan kembali bisa berjalan seperti sedia kala meski konsekuensinya Jake akan menggunakan ‘tubuh baru’.
Agar memungkinkan buat manusia untuk hidup di Pandora maka mereka dibuatkan satu tubuh buatan dan pikiran para manusia ini akan ditanamkan ke dalam tubuh yang disebut Avatar ini sehingga Avatar ini seolah-olah adalah tubuh mereka sendiri. Tugas Jake adalah menjadi pemandu bagi beberapa manusia yang menggunakan tubuh Avatar untuk mencari sumber mineral baru untuk kepentingan industri di bumi.
Di tengah perjalanan, Jake bertemu Neytiri (Zoe Saldana), bangsa Na’vi penghuni planet Pandora. Seiring berjalannya waktu Jake pun jatuh cinta pada Neytiri. Berawal dari cinta inilah Jake lantas menghadapi dilema antara melanjutkan misinya mengeksplorasi Pandora atau membela kaum Na’vi melindungi Pandora.
Setelah sukses menggarap TITANIC di tahun 1997, nama James Cameron memang jarang terdengar. Di antara film TITANIC dan AVATAR ini praktis hanya ada dua film saja yang ia sutradarai, GHOSTS OF THE ABYSS dan ALIENS OF THE DEEP. Konon James lebih banyak menghabiskan waktu mempelajari kehidupan di dasar samudera dan berbekal pengetahuan ini pula James lantas menggagas film AVATAR ini.
Sejak diperkenalkan, film ini memang mengundang pertanyaan, “Apa yang akan ditawarkan sang maestro ini?” Dan sekarang pertanyaan itu terjawab tuntas, James Cameron kembali mengulang kesuksesan film TITANIC dengan menawarkan sebuah tontonan yang layak mendapat acungan jempol.
Dalam durasi sekitar 160 menit, James mampu menata grafik cerita dengan baik sehingga bagian akhir pun masih menyisakan ‘kekuatan cerita’ dan bukan hanya sekedar solusi akhir yang murni berisi adegan laga. James memanfaatkan waktu 160 menit itu dengan baik sehingga seluruh aspek dari film ini dapat diekspos dengan baik.
Soal visual, ada yang menyebut CGI adalah pedang bermata dua. Terlalu banyak CGI maka film jadi buruk sementara bila sektor ini tak diperhatikan yang terjadi adalah sajian visual yang tak memuaskan. James sepertinya paham benar dan menempatkan teknologi pada tempat yang seharusnya. Visual efek terlihat sangat realistis terlebih pada ekspresi wajah bangsa Na’vi yang benar-benar mencerminkan emosi yang mereka rasakan saat itu. James mampu membangun sebuah dunia yang penuh imajinasi tanpa harus terjebak dengan eksploitasi CGI yang berlebihan.
Kalaupun ada kekurangan yang terasa sebenarnya adalah ide cerita yang terasa generik. Kalau mau jujur, ide dasar cerita ini tak jauh beda dengan beberapa film yang mencoba mengungkap masalah yang sama seperti DANCES WITH WOLVES atau THE LAST SAMURAI.
Source: KapanLagi.com
Tak ada yang pernah meragukan kalau Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) adalah seorang penyelidik yang handal. Tak ada kasus yang tak bisa dipecahkan oleh Sherlock bahkan yang paling pelik sekalipun. Sherlock dan sahabatnya, Dr. John Watson (Jude Law) adalah tim yang tak terkalahkan.
Pihak kepolisian Inggris sudah sering kali terbantu oleh dua orang yang mahir dalam menyelidiki kasus kejahatan ini termasuk saat Sherlock dan Watson berhasil mengungkap kejahatan penyembah setan bernama Lord Blackwood (Mark Strong) dan membawa pria ini ke tiang gantungan. Kekalahan inilah yang tak bisa diterima oleh Lord Blackwood yang pada hari kematiannya bersumpah akan membalas dendamnya pada Sherlock Holmes.
Tak berapa lama kemudian, sebuah kasus kejahatan kembali mengharuskan Sherlock Holmes dan Dr John Watson turun tangan. Serangkaian tindak kejahatan ini dilakukan bukan oleh sembarang orang. Bila Sherlock dan Watson gagal, maka seluruh negeri Inggris yang jadi taruhannya. Sherlock menduga semua itu ada hubungannya dengan Lord Blackwood yang telah meninggal di tiang gantungan.
Kisah detektif Sherlock Holmes barangkali adalah kisah detektif yang berumur paling panjang sampai saat ini. Pertama kali muncul di tahun 1887, nama detektif rekaan Sir Arthur Conan Doyle ini terus melegenda hingga kini. Namun seiring perkembangan zaman, orang mulai bergeser pada tokoh pahlawan yang lebih modern dan nama Sherlock Holmes pun hanya menjadi legenda lama yang masih hidup di hati para penggemar setia karakter ini.
Guy Ritchie mungkin adalah salah satu dari penggemar Sherlock Holmes yang prihatin dengan kondisi ini dan berusaha membuat tokoh legendaris ini kembali hidup. Langkah pertama yang diambil Guy adalah membuat penafsiran baru atas karakter legendaris ini lalu mengemasnya dalam media hiburan yang populer saat ini. Hasilnya adalah film berjudul SHERLOCK HOLMES ini.
Suka atau tidak suka, visi Guy Ritchie ini tetap layak diacungi jempol karena tak mungkin membangkitkan legenda lama ini tanpa memberinya penafsiran baru. Dan usaha Guy juga tidak berhenti sampai di sini karena secara keseluruhan SHERLOCK HOLMES ini tersaji dengan sangat baik, mulai dari sisi visual hingga akting para pendukungnya.
London tahun 1891 dapat direplika dengan baik oleh Guy Ritchie sementara aksen Robert Downey Jr juga cukup meyakinkan sebagai orang Inggris. Kalaupun ada yang disayangkan justru adalah hilangnya kenikmatan mengikuti kisah detektif legendaris ini karena penafsiran yang lebih menekankan fisik ketimbang pemikiran.
Source: KapanLagi.com
Meski sudah meraih popularitas bukan berarti pendidikan lantas tak ada gunanya. Itulah yang dipikirkan David Seville (Jason Lee) yang mengirim Alvin (Justin Long) dan kedua temannya ke sebuah sekolah untuk kembali belajar, sesuatu yang tak pernah terlintas di benak Alvin.
Dengan berat hati terpaksa Alvin, Simon (Matthew Gray Gubler), dan Theodore (Jesse McCartney) menuruti kemauan David meski sebenarnya mereka sama sekali tak berminat untuk kembali ke sekolah. Dalam waktu singkat Alvin dan kedua temannya merasa terasing di tengah para manusia yang ada di sekolah ini dan itu adalah siksaan berat buat ketiga chipmunk ini.
Di saat yang bersamaan, Ian Hawke (David Cross) yang gagal mendapatkan Alvin and the Chipmunks berusaha menebus kekalahan ini dengan mencari sekelompok binatang yang mampu menyanyi dan menari layaknya Alvin dan teman-temannya. Pencarian Ian berakhir ketika ia menemukan The Chipettes yang beranggotakan Brittany (Anna Faris, Jeanette (Christina Applegate), dan Eleanor (Amy Poehler). Ian berencana membawa The Chipettes menuju puncak ketenaran seperti Alvin dan kedua temannya.
Liburan akhir tahun adalah saat yang tepat untuk melepas film konsumsi anak-anak seperti ALVIN AND THE CHIPMUNKS: THE SQUEAKQUEL. Alasannya sederhana. Film ini tak akan terlalu menarik buat orang dewasa namun sebaliknya akan menjadi konsumsi sehat buat anak-anak. Dan liburan panjang di akhir tahun seperti ini adalah penyelamat film seperti ini dari kegagalan berlaga di jajaran film-film box office.
Untuk mereka yang tergolong remaja atau malah sudah dewasa, film ini memang tak menawarkan apa pun. Ide cerita terlalu sederhana sementara CGI yang disuguhkan pun jauh dari kata memukau. Kalaupun ada alasan buat mereka menonton film ini bisa jadi hanyalah masalah nostalgia saja. Dibandingkan dengan bagian pertama yang dilepas tahun 2007 lalu, ALVIN AND THE CHIPMUNKS: THE SQUEAKQUEL ini seolah eksklusif untuk anak-anak.
Soal pengisian suara dan akting, tak banyak yang jadi masalah. Para pengisi suara dan aktor bagian pertama tetap dipertahankan pada bagian kedua ini dan sepertinya mereka sudah cukup menguasai lapangan. Memang kesannya biasa-biasa saja kecuali David Cross yang berperan sebagai Ian Hawke dan Wendie Malick yang berperan sebagai Dr. Rubin yang terlihat lebih menonjol dari yang lain.
Sebaliknya, buat anak-anak film ini bisa jadi adalah hiburan yang sangat menarik. Paling tidak, kita patut bersyukur karena di saat film sudah menjadi industri masih ada film yang layak menjadi konsumsi anak-anak.
Source: KapanLagi.com
Saat dunia dilanda wabah yang mengubah manusia menjadi mayat hidup atau zombie hanya ada beberapa orang saja yang berhasil selamat meski dengan cara yang tak mudah. Columbus (Jesse Eisenberg) dan Tallahassee (Woody Harrelson) adalah dua di antara para survivor itu.
Columbus sebenarnya adalah seorang penakut tapi kalau sudah menyangkut masalah hidup dan mati, tak ada pilihan lain selain bertahan dari gigitan para zombie ini. Tallahassee, di sisi lain, adalah seorang maniak yang sangat menikmati setiap detik dari pertempurannya melawan para zombie ini. Meski berbeda karakter namun kedua pembantai zombie ini kompak layaknya sepasukan tentara.
Saat menjelajah setiap wilayah dalam usaha mencari lokasi yang aman untuk mereka tinggali ini, kedua pejuang ini bertemu Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (Abigail Breslin) yang ternyata punya cara unik untuk bertahan hidup dari serbuan para mayat hidup. Walaupun awalnya keempat manusia ini memiliki pandangan yang berbeda dan sama-sama tak mau mengalah namun akhirnya mereka tetap harus memilih antara bersatu melawan para zombie atau jadi sasaran empuk para pemakan manusia ini.
Jangan salah sangka. Meski judul film ini ZOMBIELAND, film ini tidak bisa dibilang sepenuhnya sebagai film horor atau thriller. Malahan kalau mau jujur, sisi komedi dari film ini justru adalah titik tumpu sebenarnya dari film karya Ruben Fleischer ini. Tapi jangan terlalu kecewa karena unsur thriller masih tetap ada dan jelas lebih banyak karakter zombie daripada manusia dalam film ini.
Paul Wernick dan Rhett Reese sebagai penulis naskah tampaknya telah menimbang benar-benar antara sisi horor dan sisi humor dari film ini. Memang tak semua lelucon terdengar segar di telinga tapi setidaknya tidak terlalu basi juga. Sepertinya justru formula ini yang membuat film ZOMBIELAND ini jadi menarik. Suasana tegang terbangun dengan cukup baik sementara Woody Harrelson dan Jesse Eisenberg juga punya cukup ruang untuk menampilkan sisi konyol dari film ini.
Kalau unsur humor dan horor sudah cukup berimbang, justru penokohan yang terasa kurang terbagi rata. Paling tidak dua karakter pria dalam film ini mendapat porsi yang lebih besar dari para wanita. Sayang memang karena sebenarnya Emma Stone dan Abigail Breslin punya cukup kemampuan untuk tampil lebih.
Source: KapanLagi.com
Kehidupan Tiara (Tamara Bleszynski) yang berprofesi sebagai atlet wushu sebelumnya baik-baik saja, namun sejak kecelakaan yang menimpanya, membuatnya trauma pada kegelapan. Tak hanya itu, Tiara pun harus mengundurkan diri dari profesinya sebagai atlet.
Lilo, kekasih Tiara, tak ingin melihat Tiara terus-menerus bersedih. Maka ia pun berinisiatif mengajak Tiara, keponakannya, Mandy dan teman-temannya yang lain untuk berlibur di sebuah pulau yang sunyi, Pulau Pengantin.
Konon air terjun di Pulau Pengantin terkenal sangat indah, selain itu air terjun tersebut dipercaya memiliki kekuatan mistis. Jika mendatangi dan berdoa di bawah air terjun, maka cinta pasangan yang berdoa bakal kekal dan berakhir bahagia.
Tiara pun bermaksud berdoa di bawah air terjun itu. Karena hingga saat ini, Lilo belum melamarnya. Tiara tak sadar, di pulau inilah awal malapetaka terjadi. Tanpa disadari oleh Tiara dan Lilo, di pulau itu ada seorang pembunuh yang mengincar nyawa mereka satu per satu.
Source: KapanLagi.com
Ulang tahun kedelapan belas Bella Swan (Kristen Stewart) seharusnya jadi hari yang paling membahagiakan buat gadis cantik ini. Sayangnya karena satu kejadian tak disengaja pada hari itu, Edward Cullen (Robert Pattinson), kekasih Bella, justru malah memutuskan untuk pergi jauh dari kota Forks tempat Bella tinggal.
Edward dan keluarganya adalah vampire yang berusaha untuk mengingkari takdir mereka dengan tidak memangsa manusia. Tapi saat tanpa sengaja bela terluka dan mengucurkan darah, ayah Edward merasa bahwa tak lagi aman buat mereka terus berada di sana. Akhirnya keluarga Edward memutuskan untuk pergi dari kota Fork agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan semua pihak. Meski berat, Edward terpaksa mengikuti kemauan orang tuanya.
Bella yang merasa patah hati kemudian melampiaskan kemarahannya dengan menjalani hidupnya tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Tak lama berselang, Bella mulai akrab dengan Jacob Black (Taylor Lautner) yang ternyata adalah bangsa werewolf atau serigala jadi-jadian. Dan dalam waktu singkat Bella pun terjebak di tengah permusuhan antara bangsa vampire dan werewolf yang sudah berumur ribuan tahun.
Barangkali hanya orang bodoh saja yang akan menyia-nyiakan peluang emas untuk meraup keuntungan besar. Itulah konsep dasar yang dianut Summit Entertainment saat mengangkat novel sukses Stephenie Meyer ke dalam format layar lebar di tahun 2008 lalu. Tidak ada alasan untuk tidak mengulang sukses yang diraih novel ini dalam format film dan nyatanya TWILIGHT yang menjadi bagian pembuka memang terbilang sangat sukses bahkan sampai mengangkat dua nama, Kristen Stewart dan Robert Pattinson, menjadi idola remaja di seluruh dunia.
Walaupun bagian kedua ini dipercayakan pada sutradara yang berbeda namun konsep yang dianut tetap sama, mengeksploitasi kisah asmara dua orang ‘berbeda’ dan kembali mengumpulkan dolar dalam jumlah banyak. Untuk menjamin alur kisah tetap seragam dengan bagian pertama, Melissa Rosenberg tetap dipertahankan sebagai penulis naskah dan bagian kedua ini bisa dibilang sama sekali tidak menyimpang dari versi novelnya.
Kalau mau jujur, sebenarnya tidak banyak yang dijanjikan film berjudul NEW MOON ini selain memajang dua idola anak muda tadi di layar perak. Dialog tak terlalu meyakinkan sementara alur cerita juga mudah ditebak meski Anda belum membaca novelnya. Soal akting pun tidak ada yang benar-benar bisa disebut brilian dan layak mendapat penghargaan piala Oscar, tapi memang bukan itu tujuan film ini dibuat. Film ini dibuat untuk berlaga di box office.
Secara keseluruhan, ada peningkatan yang cukup signifikan pada sisi visual. Chris Weitz sebagai sutradara sepertinya paham benar kekuatan dari film ini dan karenanya tak mau sektor yang satu ini kedodoran. Walaupun tak akan mendapat piala Oscar untuk akting namun Kristen Stewart tampil lebih bagus ketimbang saat ia bermain dalam TWILIGHT tahun lalu. Dan yang terpenting mungkin adalah chemistry antara karakter Bella dan Jake yang diperankan oleh Taylor Lautner terasa lebih kuat dan sangat membantu film ini secara keseluruhan.
Source: KapanLagi
Setelah vacum lama berhubung ada yang menggunakan layanan gratis dari PLiKimage secara tidak benar, saat ini PLiKimage kembali tampil dengan wajah baru dan dengan fitur-fitur yang berlimpah. silahkan gunakan lagi PLiKimage, dan jangan lupa daftarkan diri Anda sebagai member untuk mendapatkan fitur yang berbeda dengan pengakses biasa.
English Version: Hi guyz!! Eventually I can activate ahmandonk.com again. This blog will illustrate glimpse of my daily life, movie review that I catch on, fixed and mobile internet connection, and many more… Some of the movie review are those I really catch on, some came from websites reference…It’s just as a review as I already watched the movie. At first, I came up with this blog to fill my holiday, but as time goes by, I became a spot where I can put my imagination, anger, fun, love, and bla…bla…bla… I will put everything if I could. Hopefully the content of my blog can be an inspiration for all readers, but don’t be drooling when I write bout all the tasty yummy food I ate. If you have any comment just post it…well-structured constructive criticisms only hehe… If u have any bad critics, just head it directly to me…it would be embarrassing to publish in blog…I’m also human, man!!
Indonesian Version: Halo semuanya!! akhirnya bisa kembali menghidupkan ahmandonk.com lagi :) btw, blog ini akan berisi keseharian saya, review film yang saya tonton, review koneksi internet fixed dan mobile, dan masih banyak lagi.... beberapa review film memang benar saya yg tulis, dan ada beberapa yang saya ambil dari referensi website lain.... sebener nya ini cuma menandakan saya sudah nonton film tsb :) Pada awalnya blog saya mengudara, memang sebagai saranan saya mengisi liburan saya, tetapi mengikuti berjalannya waktu, blog ini menjadi tempat dimana saya menunangkan imajinasi, kekesalan, kesenangan, kecintaan, dan ke ke yang lain deh..... kalo bisa... apa aja akan saya tulis di sini deh :) mudah-mudahan isi dari blog ini menjadi inspirasi dan berkenan buat semua yg baca yah :) Tapi jangan iri dan ngiler yah... kalo makanan-makanan yg saya makan, akan saya tulis di blog ini :D hehehe.... O iya..!! kalo isi comment.. yg bagus2 aja.. jgn yg jelek.. kalo yg jelek2.. lgs ke saya aja.. khan malu kalo di tulis di blog :D hehehe..... saya juga manusia bung!