Apakah Anak Laki-laki Lebih Rapuh dari Anak Perempuan?

Sumber: BRITISH MEDICAL JOURNAL, Desember 2000

Sejak lahir, secara biologis laki-laki lebih rentan daripada perempuan, meskipun sebab kerapuhan tersebut tidak sepenuhnya dipahami. Menurut seorang peneliti, seandainya para orangtua lebih menyadari kerentanan ini, tentu mereka akan mengubah cara mereka membesarkan anak laki-lakinya.

Sebastian Kramer, seorang psikiater anak dan remaja Inggris, menyatakan di dalam komentarnya beberapa waktu yang lalu bahwa sebelum dilahirkan, janin laki-laki memiliki resiko kerusakan atau kematian yang meningkat. Bahkan disebutkan bahwa anak laki-laki yang baru dilahirkan rata-rata kematangannya secara psikologis masih kurang 4-6 minggu daripada anak perempuan yang baru lahir. Anak laki-laki biasanya mengalami lebih banyak masalah dalam perkembangan fisik dan psikologisnya dan membutuhkan lebih banyak perhatian daripada anak perempuan. Selain itu, anak laki-laki lebih rentan terhadap kesalahan penanganan oleh orangtua dan cenderung mengambil resiko lebih besar. Di sekolah, anak perempuan awalnya lebih baik dan lebih maju daripada anak laki-laki di hampir semua mata pelajaran; pemahaman pada anak laki-laki datang belakangan dan dapat menyusul kemampuan anak perempuan.

Penulis tersebut menjelaskan bahwa di kemudian hari, kelainan peredaran darah, diabetes, ketergatnungan alkohol, dan kanker paru-paru adalah penyakit-penyakit yang lebih banyak menimpa laki-laki. Angka bunuh diri pada laki-laki pun melebihi statistik perempuan. Laki-lebih lebih sering mengabaikan gejala-gejala penyakit medis, sehinga lebih sering menunda penanganan medis. Perempuan hidup beberapa tahun lebih lama daripada laki-laki di kebanyakan negara, dan kesenjangan ini cenderung makin besar.

Apa Artinya Hal Ini Bagi Anda: Menurut penulis tersebut, laporan ini memiliki implikasi terhadap perawatan dan cara membesarkan anak laki-laki. Karena anak laki-laki memiliki lebih banyak masalah dalam perkembangannya daripada anak perempuan, perawatannya harus dilakukan dengan lebih peka, baik secara fisik maupun emosional. Ironisnya, bayi-bayi yang sulit biasanya menerima perawatan yang kurang sebab orangtua merasa kewalahan. Mungkin sifat tegar dan tangguh sesungguhnya bukanlah sifat anak laki-laki, seperti yang selama ini diyakini masyarakat. Kalau memang anak laki-laki sebetulnya lebih rentan daripada anak perempuan, maka mungkin masyarakat selama berabad-abad telah “melindungi” gender yang salah.

Leave a Reply

%d bloggers like this: