Awas Alergi Bisa Mengubah Perilaku

Seperti organ tubuh lainya, otak juga bisa menjadi sasaran alergi. Kalau sudah begitu, emosi dan perilaku penderitaanya pun bisa ikut terganggu.

Oleh Dyah Pratitasari/Endang Ariani, Anjelita Noverina
Majalah NIRMALA, Edisi November 2007

Kasus alergi belakangan ini dilaporkan semakin meningkat setiap tahunnya. Prof. DR Dr. Heru Sundaru, SpPD-KAI, Kepala Divisi Alergi FKUI/RSCM Jakarta, mengatakan bahwa pada tahun 2005 jumlah penduduk dunia yang mengalami alergi sebanyak 22%. Data itu dikemukakan oleh badan kesehatan dunia World Allergy Organization (WAO). Dari jumlah tersebut, alergi di negara maju mencapai 40%. Sedangkan beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan angka yang belum pasti namun selalu meningkat setiap tahunnya.

Menurut Dr Widodo Judarwanto, SpA, dari Children Allergy Center RS Bunda Jakarta, setiap benda yang masuk ke dalam tubuh, baik itu berupa makanan, minuman, debu, obat, hingga bahan kimia akan dianggap sebagai benda asing oleh tubuh. Sistem kekebalan pun bereaksi, bertindak sebagai petugas keamanan yang akan mengidentifikasi setiap benda asing yang masuk.

Jika yang masuk adalah benda yang dianggap aman, maka tidak akan terjadi sesuatu. Namun jika yang masuk dianggap berbahaya bagi tubuh, maka sistem kekebalan tubuh akan bereaksi dengan menolaknya. Reaksi tubuh ini jika berlebihan disebut alergi. Sedangkan seseorang disebut menderita alergi ketika sistem kekebalan tubuhnya bereaksi berlebihan karena mengkonsumsi makanan tertentu.

Namun ada juga reaksi yang tidak melibatkan kekebalan tubuh yang disebut intoleransi makanan (food intolerance). Reaksi ini disebabkan oleh zat yang terkandung di dalam makananlangsung mempengaruhi fungsi otak. Misalnya saja, bahan tambahan seperti pengawet, penyedap rasa dan pewarna. Bisa juga disebabkan oleh kontaminasi racun seperti yang dikeluarkan oleh bakteri Salmonella, atau histamin pada kasus alergi ikan. Zat farmakologi yang terkandung dalam makanan itu sendiri, seperti tiramin pada keju, dan kafein pada kopi juga bisa langsung mempengaruhi fungsi otak. “Mengenai alergi dan intoleransi ini sering terjadi salah kaprah. Seharusnya semua ini disebut reaksi simpang kanan, namun secara umum orang menyebut keduanya alergi. Padahal sebelum menjalani tes alergi yang muncul baru bisa didiagnosa sensitif atau hipersensitif terhadap makanan tertentu,” begitu penjelasan Dr Widodo.

Selain itu ada perkembangan baru yang agak mencengangkan. Beberapa ahli baik di dalam maupun di luar negeri berpendapat, bahwa kini alergi ternyata tidak hanya berupa gatal-gatal, asma, pilek, atau diare yang biasa kita kenal selama ini. Belakangan, alergi makanan diduga bisa menimbulkan gangguan perilaku pada penderitanya. Mari kita tengok tiga kasus alergi berikut ini.

Bu Rahma: “Satu jam setelah makam kroket keju, Mutia mulai rewel”
Mutia adalah anak perempuan berusia 5 tahun. Tanpa sebab yang jelas, ia mudah sekali mengamuk. Teman-temannya di sekolah sering menjulukinya anak nakal. Menurut gurunya, ini disebabkan karena Mutia sulit berkonsentrasi dan cepat bosan, karena ia sering mengganggu teman-temannya.

Bu Rahma, ibu Mutia pun membawanya ke psikolog. Namun psikolog justru menganjurkan Mutia dibawa ke dokter ahli alergi. Karena dicurigai alergi, dokter menyarankan agar Mutia dites dengan menghindari makanan seperti keju, susu sapi, telur, ikan laut, dan tepung-tepungan selama beberapa waktu.

“Tidak ada perubahan perilaku yang aneh saat Mutia makan telur, ikan laut atau susu. Namun, perubahan perilaku sangat signifikan ditunjukkan sekitar satu jam setelah Mutia menyantap kroket keju (cemilan sehari-hari kegemarannya!), Mutia mulai rewel, tidak bisa diam, dan mengamuk saat keinginannya tidak dipenuhi. Perilaku itu kembali terulang setiap saya memberinya makanan yang mengandung keju,” begitu tutur Bu Rahma.

Menurut Andang Gunawan, ND, ahli terapi nutrisi, seseorang memang bisa alergi terhadap keju. Zat di dalam keju yang dapat memicua alergi adalah tiramin, yang diperoleh dari hasil fermentasi. Jika hasil tes menyatakan Mutia alergi keju, sebaiknya memang ia menghindari konsumsi keju.

Pramandita” “Sejak membawa bekal, sakit kepala saya tidak pernah kambuh”
Mulanya, Pramandita mengira bahwa sakit kepala yang sering dideritanya setiap habis makan siang adalah akibat terlalu lelah bekerja di depan komputer. Namun sejak membaca artikel bahwa ada bahan makanan tertentu yang bsia menyebabkan penyakit kepala, Pramandita mulai curiga bahwa sakit yang dideritanya itu disebabkan monosodiumglutamat (MSG) yang terdapat pada makanan di kantin langganannya.

“Kecurigaan mulai terbukti ketika saya membawa bekal dari rumah selama seminggu. Bekal makan siang tersebut saya masak tanpa menggunakan MSG, atau bahan tambahan lain. Saat itulah sakit kepala sebelah tak pernah kambuh,” tutur Pramundita (27 tahun).

Menurut Dr Widodo, dugaan pertama Pramandita sensitif atau intoleran terhadap MSG. Zat yang terkandung dalam MSG mempengaruhi tubuh Pramandita sehingga ia sakit kepala. Pada orang yang tidak sensitif, konsumsi MSG dalam jumlah yang tidak berlebihan seringkali tidak menimbulkan masalah.

Sally: Kecanduan aspartam tanpa disadari membuatnya depresi
(Diambil dari buku Feeding The Brain, How Foods Affect Children Karya C. Keith Conners, PhD)

Karena terobsesi pada tubuh langsing, Sally memilih soda diet yang rendah kalori. Dalam waktu singkat, soda diet menjadi minumannya sehari-hari. “Di rumah, saya menghabiskan 10 sampai 15 kaleng soda diet dalam sehari. Saya juga menyimpan satu botol minuman soda diet ukuran besar di dalam loker sekolah sebagai bekal,“ ujar Sally.

Seiring dengan kedekatannya pada minuman tersebut, Sally merasa kehilangan rasa percaya diri. Ia juga tidak lagi bersemangat ke sekolah atau sekedar bertemu teman-teman. Pelan-pelan, Sally berubah menjadi pribadi yang sangat sensitif, mudah tersinggung, dan selalu gelisah tanpa sebab.

Namun pada akhirnya sebuah berita tentang efek samping aspartam yang bisa menyebabkan depresi membuat Sally bertanya-tanya. „Bukankah soda diet yang saya konsumsi mengandung aspartam sebagai pemanisnya? Jangan-jangan saya juga depresi karena aspartam,“ begitu dugaannya.

Menurut C. Keith Conners, PhD, peneliti masalah psikologi klinis dari Duke University Medical School, Amerika, aspartam terdiri dari dua asam amino, yaitu asam aspartat dan fenilalanin. Aspartam dinilai berbahaya jika soda itu dikonsumsi berlebihan, karena fenilalanin yang terkandung di dalamnya juga akan masuk ke tubuh secara berlebihan. Nilai konsumsi aspartam yang diizinkan oleh Food and Drug Association (FDA) adalah 40mg per kg berat badan setiap harinya.

Padahal Sally mengkonsumsi minuman tersebut sampai 15 kaleng sehari. Seandainya dalam satu kaleng soda mengandung 5 mg, dalam sehari jumlah aspartam yang dikonsumsi Sally sduah 75 mg. Artinya jumlah aspartam yang dikonsumsi Sally sudah berlebihan. Karena Sally juga mengkonsumsinya setiap hari, maka kelebihan kadar fenilalanin di dalam aspartam akan terakumulasi di dalam otak. Menurut Andang, kecanduan soda diet juga membuat asupan nutrisi yang masuk ke tubuhnya tidak bervariasi. Keadaan ini membuat otaknya tidak memperoleh makanan yang cukup untuk mengelola informasi. Dua sebab itulah yang turut berperan menimbulkan gangguan pada fungsi otak Sally sehingga berperan menyebabkannya depresi.

Alergi tergantung target sasaran
Memang belum banyak yang tahu bahwa makanan bisa mempengaruhi fungsi otak, bahkan menimbulkan gangguan perilaku. Kasus alergi makanan yang mengganggu fungsi otak – disebut – Brain Allergy – pun masih menjadi kontroversi.

Menurut Dr Zakiudin Munasir, SpKA, dokter ahli alergi dari divisi alergi imunologi anak RSCM, alergi yang menimbulkan gangguan perilaku bisa terjadi, namun tidak secara langsung. „Kalau alerginya kronis, besar kemungkinan perilakunya juga akan pemarah, tidak sabaran, tidak bisa belajar, otaknya kurang oksigen, hidungnya mampet dan sebagainya,“ tuturnya.

“Selain itu, pada saat alergi kadar histamin dalam tubuh penderita meningkat. Histamin ini akan diedarkan ke seluruh tubuh. Jika beredar ke sistem pernafasan, akan menyebabkan hidung mampet. Sedangkan kalau beredar ke otak, akan langsung mengubah kadar histamin dalam otak. Histamin berfungsi „membangunkan“ otak. Kalau jumlahnya berlebihan, otak akan semakin terangsang. Jadi, perubahan perilaku merupakan pengaruh tidak langsung dari gejala penyakitnya itu,“ lanjut lagi.

Sedangkan menurut Dr Widodo, sejumlah ahli berpendapat bahwa alergi makanan bisa mengganggu perilaku berdasarkan teori target organ (organ sasaran). Reaksi alergi merupakan manifestasi klinis yang karena proses alergi pada seseorang dapat mengganggu semua organ dan sistem tubuhnya. Karena setiap orang bersifat sangat individual, maka organ atau sistem tubuh sasaran yang diserang juga bisa berbeda-beda.

Jika yang diserang adalah sistem pernafasan, maka gejala alergi berupa batuk, pilek, sesak napas, atau mimisan. Sedangkan jika alergi menyerang sistem pencernaan maka gejala yang ditimbulkan berupa nyeri perut, kolik pada bayi, diare, sembelit, kembung, sariawan, atau mulut berbau. Begitu juga kulit bisa menjadi organ sasaran, umumnya timbul gejala gatal-gatal, eksem (dermatitis), biduran (urtikaria), bengkak di bibir, bisa juga muncul dalam produksi keringat yang berlebihan.

Otak juga bisa jadi saasaran alergi
Di dalam otak kita terdapat sistem susunan saraf pusat. Mengingat otak merupakan organ tubuh yang paling peka terhadap setiap bentuk rangsang, maka otak juga bisa menjadi organ sasaran. Apalagi otak merupakan organ tubuh yang paling peka terhadap rangsang. Selain itu, hampir 30% dari energi yang kita peroleh berasal dari makanan sehingga bisa saja zat-zat tertentu yang terkandung dalam makanan tersebut mempengaruhifungsi otak. Jika fungsi otak sudah terganggu, struktur senyawa kimia di dalamnya menjadi tidak seimbang.

Alergi yang menyerang fungsi otak atau susunan saraf pusat ini bisa timbul dalam dua macam gejala. Pertama disebut neuroanatomis, gejalanya berupa sering sakit kepala, migren, dan gangguan tidur, seperti yang pernah dialami oleh Pramandita. Yang kedua neuroanatomis fisiologis, gejalanya berupa emosi yang tidak terkendali, agresif, gangguan koordinasi, gangguan konsentrasi, hiperaktif, bahkan autisme. Gejala seperti inilah yang dialami oleh Mutia dan Sally.

Gangguan perilaku yang dikaitkan dengan alergi
Reaksi simpang makanan, baik yang berupa alergi atau intoleransi bisa menyerang semua usia, namun sebagian besar diderita oleh anak-anak terutama yang berusia 5 – 7 tahun. Meskipun begitu gejala yang timbul tidaklah sama. Pada bayi dan anak-anak di antaranya berupa:

  • Gerakan motorik yang berlebihan. Misalnya suka memanjat, bergulung-gulung, menjatuhkan diri di kasur, selalu bergerak.
  • Gangguan tidur. Pada malam hari tidurnya gelisah; berbicara, berteriak atau tertawa dalam tidur, sering tiba-tiba terbangun saat tidur, dan mengorok.
  • Gangguan konsentrasi. Cepat bosan terhadap suatu aktivitas (kecuali nonton teve, membaca komik, atau main games), terburu-buru, tidak teliti, sering kehilangan barang, mudah lupa, sulit menyelesaikan pelajaran dengan baik. Anak-anak ini biasanya justru tampak cerdas dan pintar.
  • Gangguan emosi. Mudah marah, sering berteriak, mengamuk (tantrum), keras kepala, suka membantah atau sulit diatur, rewel, dan mudah menangis.
  • Gangguan perkembangan motorik. Pada bayi, ia akan mengalami kesulitan membalik badan, duduk, dan merangkak. Jika berjalan sering terburu-buru, berjalan jinjit, dan duduk dengan bentuk kaki W (terlipat ke belakang).
  • Terlambat bicara. Waspada jika pada usia 15 bulan bayi sama sekali belum mengeluarkan kata-kata sederhana.

Sedangkan pada orang dewasa, gejala spesifik yang sering timbul adalah gangguan emosi seperti sulit tidur, gelisah, selalu terburu-buru, mudah marah, sensitif berlebihan, depresi, atau justru gembira berlebihan tanpa alasan jelas.

Sementara itu, Richard Mackarness, MS, BS, ahli dan konsultan nutrisi dari Inggris berpendapat bahwa setidaknya ada 5 gejala kunci pada alergi dewasa yang sering tidak disadari. Gejalanya meliputi:

  • Berat badan yang berlebihan atau sebaliknya, berat badan kurang
  • Lelah terus menerus dan tidak hilang meski sudah beristirahat.
  • Terjadi pembengakakan di sekitar mata, perut, tangan dan pergelangan kaki.
  • Denyut jantung yang cepat dan berdebar-debar, khususnya setelah makan.
  • Produksi keringat yang berlebihan meskipun tidak berolahraga atau beraktivitas.

Berhubungan dengan saluran cerna
Berdasarkan penelitian berjudul Dietary Intervention as a Therapy for Behaviour Problems in Children with Gastrointestinal Allergy yang pernah dilakukan oleh Dr Widodo, kasus alergi makanan yang menimbulkan gangguan perilaku sebagian besar diderita oleh orang yang mengalami gangguan saluran pencernaan. Penyakit saluran cerna yang sering ditemui adalah Celiac (kelainan yang ditandai dengan intoleransi terhadap gluten) dengan leaky gut syndrome (kebocoran usus sehingga zat makanan tidak diserap dengan sempurna) sebagaimana sering terjadi pada anak autis.

Berbagai penelitian klinis hingga kini belum bisa mengungkap secara pasti apa penyebab autis, sehingga disebutkan bahwa autis merupakan penyakit yang disebabkan oleh multifaktor. Beberapa ahli mengatakan autis merupakan gangguan biokimia, atau gangguan jiwa. Namun ahli yang lain juga berpendapat bahwa autis disebabkan oleh kombinasi makanan yang salah, atau lingkungan yang terkontaminasi zat beracun. Keadaan inilah yang memicu gangguan pada usus besarnya, sehingga memicu gangguan perilaku. Keadaan autis semakin diperparah dengan adanya alergi makanan.

Ada beberapa teori yang bisa menjelaskan bagaimana gangguan perilaku bisa berasal dari sistem pencernaan yang terganggu, antara lain:

  • Teori gangguan perut dan otak (gut brain axis). Karena ketidaksempurnaan saluran cerna (usus halus, atau organ lain) dalam menyerap sari makanan, maka zat yang dialirkan ke otak pun tidak sesuai dengan kebutuhan. Kekurangan nutrisi tertentu pada otak dapat menimbulkan gangguan perilaku.
  • Teori metabolisme sulfat. Pada orang normal, bahan makanan yang mengandung sulfur seharusnya diubah menjadi sulfat ketika masuk ke dalam tubuh, sisanya dibuang melalui urine. Namun pada penderita alergi, sulfur tersebut justru diubah menjadi sulfit. Sulfit inilah yang mengganggu organ sasaran, termasuk fungsi otak.

Peran neurotransmitter
Sementara itu, Andang mengatakan bahwa setiap bentuk reaksi tubuh terhadap zat makanan yang dikonsumsi, termasuk reaksi gangguan perilaku bisa disebut alergi. Hubungan antara alergi makanan dan gangguan perilaku berkaitan dengan neurotransmitter.

Di dalam otak kita, terdapat sekitar 10 miliar sel saraf otak (neuron) Setiap sel saraf ini berhubungan dengan 10 ribu sel saraf otak lainnya melalui jutaan kabel saraf. Untuk memperlancar komunikasi antar sel di dalam tubuh, diperlukan jasa zat kimiawi penghantar saraf yang menghubungkan sel-sel saraf tubuh dengan sel otak. Penghantar saraf ini disebut neurotransmitter.

Dari sekitar 60-an neurotransmitter, baru beberapa yang teridentifikasi mempengaruhi emosi dan perilaku. Di antaranya adalah serotonin, asetikolin, dopamin, dan norepinefrin (sering disebut noradrenalin).

Serotonin merupakan zat penghantar saraf yang berpengaruh terhadap nafsu makan, perasaan nyaman, optimis, kemampuan konsentrasi, dan hasrat seksual. Orang yang kekurangan serotonin biasanya mudah sedih, sering merasa lemah dan malas. Sebaliknya, jika jumlah serotonin ini terlalu berlebihan dapat memunculkan perilaku beringas dan hiperaktif.

Asetikolin berperan dalam kemampuan kognitif dan otak sehingga hormon ini sangat dibutuhkan dalam proses belajar.

Sedangkan domapin dan norepinefrin berhubungan dengan adrenalin, sehingga berpengaruh terhadap perasaan tertantang, dorongan untuk beritndak, dan ketajaman pikiran. Jika konsentrasi kedua zat pengahntar saraf tersebut merosot, akan mengakibatkan munculnya perasaan depresi, mudah lelah, dan sulit konsentrasi. Sebaliknya, konsentrasi neropinefrin dan dopamin yang terlalu tinggi akan memancing kecemasan dan membuat perasaan tidak menentu.

Zat dalam makanan memicu alergi
Orang yang dicurrigai alergi, kerap dianjurkan untuk menghindari makanan-makanan seperti telur, susu sapi, keju, ikan laut, dan makanan-makanan yang diproses. Mengapa demikian?Menurut Andang, sebenarnya alergi tidak dipicu oleh makanan, namun dipicu oleh zat tertentu yang terkandung di dalamnya. Keju sering memicu alergi karena memang ada orang tertentu yang sensitif terhadap zat tertentu yang terkandung di dalamnya, di antaranya tiramin.

“Susu sapi umumnya mengandung laktosa yang kadarnya cukup tinggi. Tidak semua orang, terutama bayi dan anak-anak bisa mencerna laktosa dengan baik sehingga mengalami alergi atau menimbulkanreaksi tertentu pada tubuhnya. Selain itu umumnya susu sapi sudah diproses dengan suhu yang sangat tinggi. Tujuannya untuk menghilangkan bakteri jahat yang mungkin terkandung di dalamnya. Sayangnya, proses pemanasan ini juga sekaligus menghancurkan enzim yang bisa menetralisasi risiko alergi. Zat yang memicu alergi juga bisa diddapatkan dari zat-zat kimia yang ditambahkan pada proses pengolahan susu fomrula atau susu bubuk,“ tutur Andang.

Selain itu, Andang juga mengatakan bahwa makanan olahan dianggap bisa memicu alergi karena proses pengolahan hingga penyajiannya ke tangan konsumen memakan waktu panjang, proses pengolahan yang panjang memungkinkan ada sebagian zat gizi yang hilang, Di sisi lain, makanan olahan biasanya telah diberi bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, perasa atau aroma yang semuanya bersifat kimiawi. Sebagian besar zat kimiawi karakternya tidak cocok dengan tubuh kita, sehingga dianggap benda asing yang membahayakan, sehingga menimbulkan reaksi alergi.

Deteksi alergi
Bagaimana cara membedakan gangguan perilaku yang disebabkan oleh alergi makanan dengan pengaruh kejiwaan yang sudah „dari sononya“? Hal ini bisa diketahui dari tes alergi. Cara termudah adalah menghindari makanan yang dicurigai. Jika saat dihindari reaksinya hilang, artinya itu bukan alergi.

Dr. Widodo berkata, „Pada umumnya diagnosa alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosa yang sifatnya klinis, yakni dengan mengetahui riwayat penyakit, riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak kecil.“

Tes alergi dengan menyuntikkan alergen tertentu pada kuit cukup populer. Namun menurut Dr widodo, tes ini kurang efektif karena yang sering terdeteksi proses reaksi cepat (yang timbul dalam waktu kurang dari 8 jam) seperti bila makan udang maka timbul gatal-gatal. Namun peroses alergi makanan yang reaksinya lambat (lebih dari 8 jam) sering tidak terdeteksi.

Selain tes kulit, ada cukup banyak tes alergi. Di antaranya adalah pemeriksaan lemak tinja, pemeriksaan pelepasan histamin oleh basofil (basofil histamine release assay), biopsi usus sebelum dan setelah pemberian makanan, hingga cara alternatif seperti pemeriksaan otot )kinesiologi terapan), pemeriksaan kulit elektrodermal, cytotoxic food testing, analisa rambut, tes nadi, dan metode refleks telinga dan jantung.

Menurut Dr Widodo, tes yang dinilainya paling efektif adalah metode provokasi makanan secara buta, disebut Double Blind Plaecbo Control Food Challenge (DBPCFC). Sayangnya, metode ini sangat rumit dan membutuhkan biaya serta waktu yang cukup banyak.

Naumn ada cara yang mudah untuk mendeteksi alergi yang bisa dilakukan sendiri, yaitu metode eliminasi dan provokasi. Dalam metode ini, penderita harus menghindari beberapa makanan yang dicurigai sebagai penyebab alergi selama 2 sampai 3 minggu. Setelah 3 minggu atau keluhan alergi menghilang, maka dilanjutkan dengan pemberian (provokasi) makanan yang dicurigai selama 1 minggu. Selama itu, dilakukan pengamatan apakah ada reaksi tertentu yang muncul.

Makan yang dicurigai bsia disebut sebagai penyebab alergi jika dalam 3 kali provokasi menimbulkan gejala. Kasus Mutia adalah salah satu contoh, bahwa tes ini mudah, biayanya murah, namun hasilnya cukup efektif.

One Response

Leave a Reply

%d bloggers like this: