The Book of Eli

Pasca perang besar yang berkecamuk, dunia dilanda kehancuran total. Di mana-mana yang ada hanyalah puing-puing bekas gedung-gedung dan manusia terpaksa harus kembali ke awal peradaban untuk kembali membangun peradaban yang telah mereka hancurkan sendiri ini. Salah satu dari beberapa orang yang berhasil selamat dari perang adalah Eli (Denzel Washington).

Selama tiga puluh tahun Eli berjalan mengarungi padang pasir yang dulunya adalah kota-kota megah yang hancur lebur. Tujuan Eli hanya satu, ia harus berjalan ke arah Barat untuk menemukan sebuah tempat yang akan menjadi awal baru bagi peradaban manusia. Perjalanan ini pula yang mempertemukan Eli dengan seorang pria bernama Carnegie (Gary Oldman), penguasa sebuah kota yang ada di tengah gurun pasir.

Carnegie tahu kalau Eli membawa sebuah buku yang sangat berharga. Barang siapa menjadi pemilik buku ini maka ia akan bisa menguasai dunia. Pada saat kehancuran dunia tiga puluh tahun sebelumnya, seluruh Alkitab yang ada di dunia telah dimusnahkan dan Eli adalah satu-satunya orang yang masih memiliki Alkitab. Tuhan memerintahkan Eli untuk membawa Alkitab ini ke tempat peradaban akan dibangkitkan lagi.

Eli telah bersumpah untuk melindungi Alkitab terakhir ini sementara Carnegie bertekad untuk merebutnya dari tangan Eli. Keadaan jadi semakin buruk saat putri Carnegie yang bernama Solara (Mila Kunis) malah terpikat pada Eli.

Ide yang ditawarkan dua sutradara, Albert Hughes dan Allen Hughes, ini memang bukan ide baru. Di awal tahun 1980-an lalu ada film berjudul MAD MAX 2 yang kurang lebih juga mengusung latar belakang yang sama walaupun tak sama persis. THE POSTMAN yang beredar di tahun 1997 juga menawarkan nuansa yang kurang lebih sama. Dengan menggabungkan MAD MAX 2 dan THE POSTMAN ditambah dengan sentuhan religius maka jadilah THE BOOK OF ELI ini.

Untungnya, duo sutradara Hughes ini mampu menyajikan ramuan baru itu dalam sebuah sajian yang tak membosankan. Hampir sepanjang film penonton diberi suguhan pemandangan Amerika Serikat yang telah hancur lebur (tentunya dengan bantuan permainan CGI). Untuk membuatnya lebih realistis, Hughes menuangkannya dalam gambar-gambar berwarna sepia cenderung ke arah hitam-putih. Hanya pada beberapa bagian saja warna-warna kembali dimunculkan, mungkin sekedar mengingatkan kalau ini bukan film hitam-putih.

Tanpa harus meremehkan peran Jennifer Beals dan Mila Kunis, film ini notabene adalah filmnya duo Denzel Washington dan Gary Oldman. Dua-duanya bermain meyakinkan sebagai karakter mereka meski kalau mau jujur tak ada yang terlalu ‘wah’ dari akting kedua bintang kawakan ini.

Source: KapanLagi

Leave a Reply

%d bloggers like this: