From Paris With Love

Richard Stevens (Jonathan Rhys Meyers) tak pernah mengira bahwa bekerja di kedutaan besar Amerika Serikat di Perancis memiliki risiko yang sangat tinggi. Richard sadar bahwa bekerja dalam bidang intelejen memang punya risiko tapi ia tak pernah mengira bahwa risikonya bakal sebesar itu.

Charlie Wax (John Travolta) adalah pria yang membuka mata Richard tentang risiko sebenarnya dari pekerjaan ini. Charlie adalah seorang agen CIA yang dikirim ke Perancis untuk menggagalkan sebuah usaha terorisme yang telah tercium pihak intelijen Amerika. Berbeda dengan Richard, Charlie adalah orang yang lucu namun tak ragu-ragu menembak bila itu diperlukan.

Karena tugas mengharuskan, tak ada pilihan buat Richard selain mendampingi Charlie selagi ia berusaha melacak jejak para teroris ini. Pengalaman baru jelas ia dapatkan. Promosi bisa dipastikan sudah di depan mata. Masalahnya, benarkah Richard Steven sudah siap dengan semua risiko yang akan ia hadapi saat berhadapan dengan para teroris yang sedang ia buru ini?

Murni aksi laga. Tidak lebih dari itu. Bisa dibilang dari awal hingga akhir tak ada hentinya aksi laga menghiasi layar. Tak perlu heran karena naskah film ini ditulis oleh Luc Besson, sutradara asal Perancis yang identik dengan film-film bertema adrenalin seperti DISTRICT 13 ULTIMATUM dan TRANSPORTER 3. Sang sutradara pun tidak asing dengan film laga karena Pierre Morel sempat menjadi sutradara DISTRICT 13 dan mengurus sinematografi film THE TRANSPORTER.

Tidak ada yang salah memang jika film ini lantas bertumpu pada aksi laga murni. Selama penggarapannya bagus dengan naskah dan aktor yang mumpuni, film laga bisa saja jadi film yang menarik. BATMAN BEGINS dan THE DARK KNIGHT misalnya. Sayangnya sutradara FROM PARIS WITH LOVE ini bukan Christopher Nolan dan naskah pun sepertinya memang hanya dibuat untuk merangkai sederet aksi laga yang ada.

Hasilnya, alur kisah memang sangat sederhana namun di sisi lain juga menyisakan banyak ‘lubang’ yang membuahkan berbagai pertanyaan. Untungnya karakter Charlie Wax dapat diterjemahkan menjadi tokoh yang hidup oleh John Travolta sementara Jonathan Rhys Meyers juga tak terlalu buruk memerankan James Reese walaupun ia masih belum bisa melepaskan dari pakem karakter seperti ini. Selebihnya, bisa jadi hanyalah karakter dua dimensi yang tidak terasa hidup sama sekali.

Soal sajian visual, CGI jelas akan memanjakan mata. Hal yang tak mungkin dilakukan di dunia nyata bisa ditampilkan dengan realistis. Sayangnya koreografi pertarungan yang ada dalam film ini sepertinya masih kurang tertata rapi sehingga tidak terlihat adanya aliran gerakan fisik selama para karakter dalam film ini beradu fisik.

Soruce: KapanLagi.com

Leave a Reply

%d bloggers like this: