Last Chance Harvey

last_chance_harveyNasib sial kadang memang datang bertubi-tubi tanpa bisa ditolak. Harvey Shine (Dustin Hoffman) misalnya, ia adalah seorang penulis lagu-lagu jingle yang karirnya sedang di ujung tanduk. Harvey hampir saja kehilangan pekerjaannya meski akhirnya atasannya memutuskan memberi Harvey satu kesempatan lagi.

Harvey meminta izin pada atasannya untuk pergi ke London agar bisa menghadiri pernikahan putrinya Susan (Liane Balaban) yang kini tinggal bersama Jean (Kathy Baker), ibunya dan Brian (James Brolin), ayah tirinya. Harvey berjanji untuk kembali tepat waktu untuk mengikuti sebuah rapat penting.

Setibanya di London, Harvey harus menghadapi kekecewaan berat karena Susan lebih memilih didampingi ayah tirinya ketimbang Harvey. Dengan sekuat daya, Harvey berusaha menyembunyikan kekecewaannya dan memutuskan untuk kembali ke New York lebih awal agar bisa mengikuti rapat penting di perusahaan tempat ia bekerja.

Seolah tak habis-habisnya, usaha ini pun tak berjalan lancar karena Harvey akhirnya ketinggalan pesawat dan diberhentikan saat itu juga ketika ia berusaha menjelaskan duduk permasalahannya pada sang boss.

Namun setiap badai pasti akan berakhir juga. Pertemuan Harvey dengan seorang wanita bernama Kate (Emma Thompson) di sebuah bar kemudian tumbuh menjadi sebuah kisah asmara yang mengubah jalan hidup kedua manusia ini.

Kendala pertama yang akan dialami film ini adalah pangsa pasarnya yang sangat terbatas. Membuat sebuah drama komedi yang berkisah tentang asmara dua orang paruh baya memang beresiko tinggi dari sisi finansial. Bagaimana tidak, calon penonton yang berusia di bawah 40 tahun jelas tak akan berminat menonton film ini padahal justru kisaran usia antara 20 hingga 40 tahun adalah pasar film terbesar.

Dengan keterbatasan pangsa pasar itu, produser, sutradara dan penulis naskah harus bekerja ekstra keras untuk memastikan film ini benar-benar bisa memikat pasar yang sudah terbatas itu. Dan sepertinya mengangkat masalah krisis paruh baya seperti yang dicoba film ini cukup efektif untuk memikat pasar meski mungkin tetap saja tak berlaku buat mereka yang masih muda.

Walaupun film ini dituturkan dalam tempo yang lamban plus nyaris tanpa tensi maupun romantisme tapi ada yang membuat film ini jadi menarik. Yang pertama jelas adalah kisahnya sendiri yang menarik sementara cara penyampaiannya pun tidak berkesan menggurui. Yang kedua jelas adalah jajaran pemain dalam film ini. Tanpa harus meremehkan andil Emma Thompson film ini lebih pantas disebut filmnya Dustin Hoffman. Hoffman mampu membawakan perannya dengan sangat baik dan itu jelas tak lepas dari jam terbang aktor kawakan ini.

Leave a Reply

%d bloggers like this: